Menu

Mode Gelap
Paus Leo XIV Kunjungi Guinea Khatulistiwa, Serukan Perdamaian Dunia Delapan ASN Kemenaker terbukti peras 20 perusahaan izin TKA Rp130 M MPR: Komitmen bersama dibutuhkan demi wujudkan semangat Kartini Residivis Bandar Narkoba di Pangkalpinang Ditangkap, Polisi Sita 2 Kg Sabu Dianggap Hama di RI, Ikan Sapu-sapu Justru Kuliner Favorit Amazon Hasil Pemeriksaan BPK 2025: Soroti Menko Pangan-Menteri Kesehatan

Serba Serbi

Natas Banyang Rangkaian Prosesi Pernikahan Adat Dayak Maanyan

badge-check


					Natas Banyang Rangkaian Prosesi Pernikahan Adat Dayak Maanyan Perbesar

Buntok, infokatulistiwanews.com – Indonesia dikenal memiliki keberagaman suku dan kebudayan. Setiap daerah memiliki latar belakang sosial, bahas, budaya dan tradisi yang dimiliki oleh masyarkat Indonesia. Menjadi kekayaan yang tidak terhitung nilainya yang harus terus dilestarikan, dikembangkan dan diperkenalkan diseluruh Indonesia maupun seluruh dunia.

Kebudayaan merupakan tradisi yang diwariskan oleh nenek monyang atau leluhur yang terdahulu yang terus diwariskan turun-temurun sebagai cerminan kehidupan masyarakat yang mengandung kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, serta kebiasaan-kebiasaan yang terdapat dalam kehidupan masyarakat.

Setiap daerah tumbuh dan berkembang menjadi satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan antara manusia dan kebudayaan yang dianutnya menjadi sebuah ciri khas yang dapat kita kenal yang menjadikan cerminan sebagai khas budaya daerah yang memperkaya kebudayan nusantara.

Seperti pada upacara adat pernikahan Dayak Maanyan di Kabupaten Barito Selatan yang dinamakan upacara Natas banyang upacara ini, memiliki makna setiap tahapan pada proses upacara dan memilik simbol-simbol yang terkandung dalam upacara Natas banyang. Adat istiadat dari budaya Dayak Maanyan yang diwariskan dari nenek monyang atau leluhur yang terdahulu yang terus dikembangkam hingga saat ini yang yang menjadi ciri khas pada upacara pernikahan Dayak Maanyan.

Natas banyang artinya Natas adalah memutus atau memotong sedangkan banyang perintang dibuat didepan rumah pengantin perempuan pada upacara pernikahan adat Dayak Maanyan yang membatasi antara keluarga penganti pria dan keluarga pengantin perempuan yang dihalangi oleh dua tebu yang dibuat horizontal dan dihiasi dengan janur, bermacammacam buah, bahalai, piring, lading dan piduduk yang diletakkan pada samping pagar merupakan syarat dari ritual upacara natas banyang agar tidak membawa kesialan, malapetaka dan musibah.

Rombongan keluarga pria dan pengantin pria berjalan menuju rumah pengantin perempuan bersama dengan Wadian Bawo. Sesampai didepan rumah pengantin perempuan, pengantin pria berserta keluarganya dan wadian bawo posisi berada diluar banyang. Sedangkan posisi keluarga pengantin perempuan didalam banyang dengan Wadian Dadas.

Wadian Bawo dan Wadian Dadas menari-nari menyambut kedatangan rombongan pengantian pria. wadian bawo memuji-muji pengantin pria didepan keluarga pengantin perempuan. Dua orang yang diutus ketempat perempuan untuk memberitahunkan bahwa pengantin pria berserta keluarganya diperbolehkan masuk atau tidak.

Sebelum dipersilahkan masuk, keluarga pengantin wanita mempertanyakan maksud dan tujuan rombongan keluarga pria. Selaian mempertanyakan kabar dan tujuan kedatangan, kedua belah pihak berbalasan menyanyikan tumet leut secara bergantian dan juga berbalasan pantun secara begantian menggunakan bahasa Dayak Maanyan.

Kedua belah pihak berbincang-bincang bersama karena seorang pria ini mendambakan perempuan yang ada dirumah ini. Apakah keluarga perempuan menerima kehadiran keluarga pria ini atau tidak. Pihak keluarga perempuan menyuguhkan minum tuak kepada keluarga pria yang hadir kerumah perempuan.

Pembicaraan mendapatkan titik terang dari tujuan kedatangan keluarga pria ke rumah perempuan. Mulailah mereka memikirkan membuka pembatas antara kedua belah pihak pria dan pihak perempuan. Pihak keluarga perempuan mengambil Air suci (ranu babuang tatungkal) yang telah di doakan dipercikan kebanyang untuk membersikan halhal yang tidak baik.

Keluarga perempuan mengeluarkan mandau dari sarung menggunakan pinai mandau. Pemotongan banyang dilakukan secara bergantian, yang dimulai oleh pihak perempuan selanjutnya dipotong oleh pihak pria. Mantir Adat pihak perempuan memotong banyang paling bawah mandau dipegang dengan tangan kiri setelah itu dihitung 1.2.3.4.5.6.7.

Setelah mantir adat menabur beras, banyang masih belum terpotong, hitungan selanjutnya 1.2.3.4.5.6.8. Banyang terpotong tanda tamu diperbolehkan masuk. Setelah banyang palinng bawah terpotong oleh pihak perempuan, pihak perempuan memberi Mandau kepada pihak pria.

Hitungan ketiga dhitung oleh mantir adat dari pihak pria 1.2.3.4.5.6.8.9.10. merupakan hitungan penuh yang merupakan pekerjakan yang telah kita lakukan selama satu hari ini telah selesai. Setelah banyang terpotong maka para keluarga pria diperbolehkan masuk ketempat yang telah disedikan oleh pihak keluarga perempuan.

Pewarta: Benny Anggara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dianggap Hama di RI, Ikan Sapu-sapu Justru Kuliner Favorit Amazon

23 April 2026 - 03:29 WITA

AFC Women’s Football Day 2026 di Nusantara, Tumbuhkan Semangat Sepak Bola Putri Sejak Dini

22 April 2026 - 07:37 WITA

Modal Rp100 Ribu, 10 Ibu Rumah Tangga Ini Sekarang Produksi 600 Botol Sehari

21 April 2026 - 05:54 WITA

Panjat tebing jadikan Asian Beach Games pemanasan ke Asian Games 2026

21 April 2026 - 05:47 WITA

Pecahkan Rekor MURI, TMII Tampilkan 1.000 Penari dari 34 Provinsi

20 April 2026 - 10:18 WITA

Trending di Serba Serbi