Merah Putih: One for All dipastikan melangkah ke format live action. Kabar ini diumumkan langsung oleh Endiarto selaku produser sekaligus sutradara yang memegang kendali proyek layar lebar bertema kemerdekaan tersebut.
“Dari Agustus kemarin 17, karena belum ada tayangan yang serupa kan kita nanti tuh tahun ini. Apakah yang dulu komen bisa me-remake, bisa begini, memberi nilai dan sebagainya, ternyata tidak ada yang berkontribusi dan tidak ada tayangan film yang khusus proklamasi,” ujar Endiarto saat dihubungi, Jumat (18/9/2026).

Menurutnya, langkah ini diambil karena minimnya tontonan bertema proklamasi kemerdekaan yang rilis di bioskop Indonesia. Sebelumnya, karya mereka juga sempat memantik komentar publik yang menantang hadirnya karya serupa dalam wujud live action.
1. Produksi Dipegang Tim Perfiki
Endiarto menegaskan seluruh hak kekayaan intelektual Merah Putih: One for All berada di bawah naungan Perfiki. Ia memastikan proses produksi versi live action akan dikerjakan oleh tim internal studio.”“Iya tetaplah, itu kan milik kita, Perfiki,” kata Endiarto.
Di sisi lain, pihaknya tetap membuka peluang kolaborasi. Perfiki menyambut pihak yang ingin berkontribusi, mulai dari rumah produksi hingga perusahaan yang tertarik mendukung penggarapan film ini.
“Kita terbuka kalau ada yang mau, gitu. Kalau ada yang mau, kita sih terbuka. Mau PH, mau company, mau apa pun lah,” katanya.
Endiarto menyadari tema sejarah kenegaraan kerap dipandang kurang komersial oleh industri. Karena itu, timnya bersiap mengupayakan realisasi proyek sebagai bentuk apresiasi terhadap perfilman bertema kemerdekaan.
“Karena memang untuk film proklamasi ini kan banyak yang enggak mau ya karena enggak komersil, makanya kita harus berjibaku untuk mewujudkan ini sebagai bentuk apresiasi kita terhadap perfilman khusus buat 17 Agustus,” sambungnya.
2. Endiarto Tetap Menyutradarai Merah Putih
Untuk kursi sutradara, Endiarto kembali turun tangan secara langsung. Ia menyebut akan mengawal proses syuting dari awal hingga akhir bersama tim inti Perfiki.
“Sama, nanti saya sendiri nanti. Enggak bisa ke ke orang lain lagi, memang harus tim kita sendiri, tim Perfiki sendirilah,” tegasnya.
Ia menilai tim Perfiki yang paling memahami alur emosi kisah kepahlawanan anak-anak yang menjadi pusat cerita, sehingga keputusan menyutradarai kembali dinilai paling tepat untuk menjaga konsistensi visi kreatif.
****









