Sebanyak 72 siswa SMA Negeri 5 Bengkulu mendadak diberhentikan setelah belajar selama sebulan. Pemberhentian ini disebabkan karena siswa-siswa tersebut tidak memiliki Data Pokok Pendidikan (Dapodik).
Alih-alih mencari solusi, Kepala SMAN 5 Bengkulu, Bihan, justru menyalahkan warga dan operator sekolah sebagai penyebab kisruh penerimaan siswa baru.

“Kesalahannya terletak pada berbondong-bondongnya masyarakat menemui operator. Saya sudah ingatkan operator untuk tidak menambah calon siswa, namun itu masih dilanggar,” ujarnya saat rapat dengan orangtua siswa, Pemprov Bengkulu, dan DPRD Provinsi Bengkulu di kantor DPRD Bengkulu, Kota Bengkulu, Rabu (20/8/2025).
Bihan menjelaskan, berdasarkan aturan Permendiknas, satu kelas hanya boleh diisi 36 siswa. Namun, saat dicek 21 Juli lalu, ia menemukan setiap kelas terisi hingga 43 siswa.
Selama proses seleksi, Bihan mengaku mengalami sakit yang mengharuskannya dirawat.
“Saya temukan harusnya satu ruang belajar 36 murid, ternyata ada 43 murid tiap kelas,” jelasnya.
Meski begitu, ia mengaku tidak mengetahui adanya isu permainan uang dalam proses penerimaan siswa baru.
“Enggak tahu saya kalau ada permainan uang,” tutupnya.
Orangtua kecewa, siswa menjadi sakit Pernyataan ini memicu kekecewaan para orangtua murid yang sudah mendaftarkan anak mereka melalui jalur resmi, termasuk daftar ulang dan mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
“Anak saya down, dia nangis sepanjang hari, malu bercampur sedih,” kata seorang ibu saat mengadu ke DPRD Provinsi Bengkulu.
Bahkan, ada siswa yang sampai jatuh sakit karena stres. “Anak kami sakit, saya juga sakit. Psikis anak saya terkena juga sejak mengetahui ia ternyata tidak terdaftar,” ungkap seorang ibu lainnya.
Sejumlah wali murid pun menangis saat menceritakan kondisi anak mereka.
“Kami mohon kebijakan. Kami mohon pihak sekolah bertanggung jawab,” pinta salah satu wali murid.
****









