Menu

Mode Gelap
Presiden Putin: Indonesia Mitra Paling Kunci bagi Rusia di Kawasan Asia Pasifik 12 Pasang Atlet TNI AU Siap Berjuang, Kobarkan Semangat Prestasi di Piala Panglima TNI 2026 Keluarga Jadi Kekuatan Suksesnya Pembudidaya Ikan Nila Lestari di Manganitu Presiden Prabowo Jadi Tamu Kehormatan Utama EEF ke-11 di Vladivostok Sherina Munaf Turun Tangan Bantu Padamkan Karhutla di Kalimantan Kisah Desa di Pekalongan yang Berdamai dengan Satwa Liar, Punya Aturan Larangan Berburu

Warta Daerah

Manfaatkan Lahan di Lereng Gunung, Petani Cianjur Kembangkan Kopi Arabika Berkualitas

badge-check


					Manfaatkan Lahan di Lereng Gunung, Petani Cianjur Kembangkan Kopi Arabika Berkualitas Perbesar

Warga Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur memanfaatkan lahan di Kampung Ciguntur, Desa Cipendawa untuk membuat perkebunan kopi jenis Arabika.

Hal ini dilakukan Engkus (65) karena menganggap kopi jenis Arabika berpotensi menjadi salah satu peluang bisnis yang menjanjikan.

Lahan seluas sekitar dua hektar dan berada di ketinggian lebih dari 1.400 meter di atas permukaan laut (mdpl), dinilai cocok untuk budidaya kopi arabika berkualitas. Engkus menanam lebih dari 7.000 pohon kopi yang kini mulai memasuki masa produksi.

“Dari awal penanaman sampai panen membutuhkan waktu sekitar tiga tahun, baru bisa panen pertama,” kata Engkus.

Kini, produksi kopi arabika yang ditanam Engkus mampu mencapai 40 hingga 50 kilogram per hari saat musim panen. Total hasil panen bahkan sudah menembus lebih dari tiga kuintal dan sebagian dipasarkan hingga Jakarta.

Engkus menjelaskan, kualitas kopi sangat dipengaruhi proses perawatan tanaman. Untuk menjaga kesuburan tanah dan kualitas buah, ia menggunakan pupuk kandang dari kotoran kambing serta rutin memangkas tunas air agar pohon tetap produktif.

“Perawatan menjadi kunci utama supaya hasil buah kopi bagus dan pohonnya tetap produktif,” jelasnya.

Meski begitu, petani kopi di kawasan pegunungan Cianjur masih menghadapi tantangan cuaca. Curah hujan tinggi kerap memengaruhi kualitas buah kopi, terutama saat proses pematangan hingga pengeringan.

Untuk menjaga nilai jual, sebagian besar hasil panen dipasarkan dalam bentuk kopi kering. Harga kopi kering saat ini berkisar Rp80 ribu per kilogram dan bisa mencapai Rp140 ribu per kilogram ketika pasokan terbatas. Sedangkan kopi basah dijual sekitar Rp17 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram.

Selain memberi dampak ekonomi, keberadaan perkebunan kopi arabika juga dinilai membantu menjaga lingkungan. Tanaman kopi mampu menahan erosi serta meningkatkan daya serap air di kawasan lereng pegunungan.

“Kopi ini bagus untuk menahan erosi dan menjadi penahan air,” kata Engkus.

Pengembangan kebun kopi tersebut turut membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar. Sedikitnya empat pekerja rutin dilibatkan dalam proses perawatan hingga panen.

Melihat potensi itu, Engkus berharap semakin banyak masyarakat memanfaatkan lahan tidak produktif untuk pengembangan kopi arabika di Cianjur.

“Kalau dikelola dengan baik, kopi bukan hanya menghasilkan ekonomi, tetapi juga menjaga alam,” tukasnya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kisah Desa di Pekalongan yang Berdamai dengan Satwa Liar, Punya Aturan Larangan Berburu

3 September 2026 - 05:21 WITA

Strategi Tepat Hadapi El Nino, Petani di Luwu Utara Sukses Panen Raya

31 Agustus 2026 - 09:09 WITA

El Nino Picu Migrasi Ikan, Nelayan Kecil Hadapi Beban Ongkos Melaut

29 Agustus 2026 - 05:42 WITA

Jalan ke Kawasan Baduy Lebak Rusak, Tokoh Adat Harap Segera Diperbaiki

28 Agustus 2026 - 04:53 WITA

Update Gempa NTT: 91 Orang Meninggal, 1.286 Luka dan 161.084 Mengungsi

24 Agustus 2026 - 05:48 WITA

Trending di Warta Daerah