Menu

Mode Gelap
MA dan KY Berhentikan Hakim DD yang Telantarkan Anak Selat Hormuz, Selat Strategis Titik Perekonomian Dunia Dukung Pemberdayaan Nelayan, Danlanal Yogyakarta Hadiri Kunker Ketua Komisi IV DPR-RI Ketika Pemkab Bulungan Bersolek, Eks Pasar Ikan Kini Jadi Food Court Kemenlu RI Pastikan Koordinasi Intensif Pelindungan WNI di Timur Tengah Jalan Rusak dan Anak Putus Sekolah, Pengalaman Pahit Warga 2 Kampung di Polman

Serba Serbi

Kisah Sukses Bakpia Ahmad Family: Dari Modal Rp500 Ribu Jadi Omzet Ratusan Juta

badge-check


					Kisah Sukses Bakpia Ahmad Family: Dari Modal Rp500 Ribu Jadi Omzet Ratusan Juta Perbesar

Tidak semua orang berani memulai usaha dari nol dengan modal pas-pasan.

Namun, kisah pasangan suami istri Fandi Ahmad dan Siti Zubaida dari Trenggalek membuktikan bahwa tekad kuat bisa mengalahkan keterbatasan.

Seperti dikutip dari video unggahan kanal Youtube Pecah Telur yang berjudul ‘Tiru Usaha Bos, Mantan Karyawan Sukses Punya Rumah Produksi Sendiri’ dikutip pada Jumat, 22 Agustus 2025.

Dari dapur kecil rumahnya, mereka merintis usaha bakpia yang awalnya hanya dijual di warung-warung sekitar.

Kini, usaha itu menjelma menjadi brand populer bernama Bakpia Ahmad Family, dengan omzet ratusan juta rupiah per bulan.

Yang membuat cerita ini semakin menarik adalah perjuangan penuh liku yang mereka lalui. Mulai dari masa kecil penuh keterbatasan, kesulitan memasarkan produk, hingga terpukul oleh badai pandemi.

Tapi, alih-alih menyerah, mereka justru menemukan strategi baru yang membuat usaha kulinernya berkembang pesat.

Bagi banyak orang, kisah pengusaha sukses di Trenggalek ini adalah inspirasi nyata. Bahwa siapa pun bisa sukses, selama punya keberanian, keuletan, dan keyakinan.

Mari kita simak lebih rinci perjalanan bisnis Bakpia Ahmad Family dari awal merintis hingga sukses dikenal luas.

Cerita Awal Fandi dan Istri Memulai Usaha

Fandi Ahmad lahir dari keluarga sederhana di Trenggalek. Sejak kecil ia terbiasa hidup hemat dan terbatas.

Sang ayah bekerja sebagai tukang serabutan, sementara ibunya seorang ibu rumah tangga. Kondisi itu membuat Fandi kecil terbiasa membantu orang tua sejak dini.

“Saya sudah terbiasa bekerja keras sejak kecil. Dari situ saya belajar kalau ingin hidup berubah, ya harus berani berusaha,” kenangnya dikutip dari video unggahan Youtube Pecah Telur, Jumat (22/8/2025).

Setelah menikah dengan Siti Zubaida, keduanya sepakat untuk membuka usaha kuliner. Alasannya sederhana, makanan selalu dicari orang, dan mereka ingin punya penghasilan tambahan selain pekerjaan utama.

Dari sekian banyak pilihan, mereka memilih membuat bakpia karena resepnya bisa dipelajari, modal relatif kecil, dan cocok dijual sebagai camilan maupun oleh-oleh.

Dengan modal awal hanya Rp500 ribu, mereka membeli bahan-bahan dasar seperti tepung, gula, kacang hijau, serta minyak goreng. Produksi pertama dilakukan di dapur rumah dengan oven kecil.

Bakpia itu dikemas sederhana dalam mika plastik, lalu dititipkan ke warung sekitar rumah. Setiap hari, Fandi juga berkeliling naik sepeda menawarkan dagangannya.

Masa-masa awal itu sangat sulit. Kadang dagangan tidak laku, kadang harus menahan rasa malu karena ditolak. Namun, Fandi dan Siti tidak patah semangat.

“Kami berpikir, kalau tidak laku hari ini, mungkin besok ada rezekinya. Yang penting tetap mencoba,” kata Siti.

Tantangan Berat Fandi dan Istri dalam Perjalanan Usaha

Usaha yang dirintis perlahan mulai berkembang. Dari awalnya hanya beberapa kotak, pesanan meningkat hingga puluhan kotak per hari.

Namun, tantangan berat datang ketika pandemi COVID-19 melanda. Semua pesanan mendadak berhenti. Tidak ada yang membeli, sementara bahan baku sudah terlanjur dibeli.

Seakan belum cukup, cobaan hidup datang bertubi-tubi. Ibunda Fandi mengalami kecelakaan, kakaknya juga tertimpa musibah, dan Siti harus menjalani operasi pasca keguguran.

Kondisi keluarga sangat menguras tenaga, pikiran, dan keuangan. Usaha hampir berhenti total.

“Waktu itu rasanya seperti titik nol lagi. Dagangan tidak laku, tabungan menipis, sementara kebutuhan rumah tangga jalan terus. Saya sempat berpikir, apa usaha ini harus dihentikan saja?” ungkap Fandi.

Namun, di tengah keterpurukan, mereka menemukan semangat baru. Mereka mulai mencoba varian produk lain: bolen, pai susu, hingga donat.

Ternyata, inovasi itu disambut baik pasar. Banyak pelanggan yang justru penasaran dengan menu baru tersebut. Dari sinilah, usaha mereka mulai bangkit kembali.

Strategi Bangkit Fandi dan Istri Mengembangkan Usaha

Kesuksesan Bakpia Ahmad Family bukan datang tiba-tiba. Ada strategi khusus yang dijalankan Fandi dan Siti agar usaha tetap bertahan.

Pertama, mereka menjaga kualitas rasa. Resep terus diperbaiki hingga menemukan tekstur dan rasa yang pas. Mereka juga berkomitmen tidak mengurangi takaran bahan meski harga bahan baku naik.

Kedua, mereka menjaga harga agar tetap terjangkau. Prinsipnya, lebih baik untung sedikit tapi laku banyak. Strategi ini terbukti ampuh, karena banyak pelanggan yang menjadi pembeli setia.

Ketiga, mereka memanfaatkan promosi lewat media sosial. WhatsApp menjadi senjata utama, diikuti Facebook dan Instagram.

Foto produk yang menarik dan testimoni pelanggan membuat semakin banyak orang percaya dan memesan. Bahkan, promosi mulut ke mulut dari pelanggan menjadi cara paling efektif untuk memperluas pasar.

Selain itu, mereka juga membangun hubungan kekeluargaan dengan karyawan. Bagi mereka, karyawan bukan hanya pekerja, melainkan bagian dari keluarga besar.

“Kalau karyawan senang, mereka akan bekerja dengan hati. Itu yang membuat produk kami selalu terjaga kualitasnya,” jelas Siti.

Kesuksesan yang Diraih Fandi dan Istri hingga Sekarang

Kini, Bakpia Ahmad Family bisa memproduksi hingga 5.000 kotak per hari di musim ramai, terutama saat libur panjang dan hari raya.

Omzet pun melonjak hingga ratusan juta rupiah per bulan. Dari usaha rumahan kecil, kini mereka memiliki puluhan karyawan dan jaringan distribusi yang luas.

Bakpia buatan mereka tidak hanya digemari warga Trenggalek, tetapi juga merambah ke Kediri, Malang, Surabaya, hingga luar Jawa.

Banyak perantau yang pulang kampung membawa bakpia ini sebagai oleh-oleh khas Trenggalek. Yang lebih membanggakan, kesuksesan ini juga memberi dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Mereka mampu membuka lapangan kerja bagi tetangga, membantu ibu rumah tangga mendapatkan penghasilan tambahan, dan ikut menggerakkan roda ekonomi lokal.

Rencana Masa Depan Fandi dan Istri untuk Usaha

Meski sudah sukses, Fandi dan Siti tidak berpuas diri. Mereka masih punya mimpi besar untuk mengembangkan usaha lebih luas.

Salah satunya adalah membuka toko pusat oleh-oleh di kawasan wisata, sehingga produk mereka semakin mudah dijangkau wisatawan.

Mereka juga berencana memperkuat brand dengan kemasan yang lebih modern, serta memanfaatkan marketplace online agar penjualan bisa menjangkau seluruh Indonesia.

“Kami ingin Bakpia Ahmad Family bukan hanya dikenal di Trenggalek, tapi juga jadi oleh-oleh khas yang mendunia,” harap Fandi.

Siti menambahkan, perjalanan panjang mereka adalah bukti bahwa usaha sekecil apa pun bisa tumbuh besar jika dijalani dengan tekun dan jujur.

“Kalau orang melihat rumah besar dan pesanan banyak, mereka tidak tahu panjangnya proses yang kami lalui. Semua ini berkat doa, kerja keras, dan dukungan keluarga,” ucapnya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pemerintah perkuat peran generasi muda melalui Mangrove Goes To School

28 Februari 2026 - 09:50 WITA

Otorita IKN Perkuat Pelaku Usaha Lokal untuk Bangun Ekosistem Ekonomi Berkelanjutan

28 Februari 2026 - 09:46 WITA

Armaya Doremi: Dari Kegagalan TOEFL 7 Kali Hingga Jadi Pembicara Utama Wisuda Northeastern University 2026

27 Februari 2026 - 05:49 WITA

Tiwi/Fadia siap bongkar strategi Hsu/Lin di babak kedua German Open

26 Februari 2026 - 04:42 WITA

BRIN Cek Bawah Laut Sulut

24 Februari 2026 - 04:40 WITA

Trending di Serba Serbi