Asap hitam tebal mengepul tinggi di langit Kota Kupang sore itu, Rabu (13/5/2026). Dari dalam Panti Asuhan Katolik Guardian Holy Angel, kobaran api tak bisa lagi diredam. Api mengamuk membakar bangunan.
Di tengah kondisi darurat, suster Melisa da Costa berdiri gemetar. Dia memeluk erat bayi berusia 5 bulan yang baru saja ia selamatkan dari api. Kobaran api melalap rumah tempat mereka tinggal bersama 18 anak asuh lainnya.

Pukul 14.30 WITA, saat Suster Melisa sedang duduk santai di teras bersama lima anak asuh, bau asap menyengat tiba-tiba mengganggu hidungnya. Ia segera menyusuri lorong menuju kamar paling depan.
Apa yang dilihatnya membuat jantungnya berdegup kencang. Di sela tumpukan kasur dan dinding ruangan kosong itu, api sudah mulai menyala dan mulai merambat dengan cepat.
“Saya teriak memanggil anak-anak laki-laki untuk mengambil air. Kami berusaha memadamkan, tapi api justru semakin ganas. Asap hitam membuat kami hampir tidak bisa melihat apa-apa di depan mata,” kenang Suster Melisa dengan suara gemetar.
Sadar upaya penanganan tidak membuahkan hasil, Suster Melisa segera berteriak memerintahkan seluruh anak-anak untuk lari menyelamatkan diri. Ia sendiri berlari memeriksa kamar demi kamar untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal.
Saat itulah ia menemukan bayi berusia 5 bulan yang masih tertidur pulas di dalam buaian. Tanpa berpikir dua kali, ia menggendong bayi itu dan berlari keluar menerobos kepulan asap yang membakar tenggorokan.
Saat semua anak sudah berada di luar dalam keadaan aman, Suster Melisa akhirnya runtuh. Tubuhnya lemas dan ia jatuh pingsan akibat syok serta menghirup asap kebakaran yang cukup banyak. Ia terbaring di tanah dalam keadaan telanjang kaki, hanya mengenakan pakaian yang menempel di badan.
Melisa: Asalkan Mereka Selamat, Saya Ikhlas
Api yang dipicu diduga akibat korsleting listrik dari meteran di dinding luar kamar itu menyebar dengan sangat cepat. Dinding bangunan yang terbuat dari bahan mudah terbakar ditambah angin kencang sore itu membuat api semakin ganas.
Warga yang sedang mengikuti prosesi doa pemakaman di belakang lokasi panti asuhan segera berdatangan membantu memadamkan api dan mengevakuasi anak-anak.
Namun, usaha warga tidak mampu menahan laju api. Saat dua unit mobil pemadam kebakaran dan tiga mobil penyuplai air tiba di lokasi, bangunan panti asuhan sudah hangus tak bersisa.
“Sertifikat tanah, ijazah anak-anak dari SD sampai perguruan tinggi, laptop, lemari pakaian, semuanya habis terbakar. Hanya tersisa baju di badan kami. Saya sendiri hanya sisa satu baju ini saja,” ujar Suster Melisa dengan mata berkaca-kaca.
Meski kehilangan semua harta benda, satu hal yang membuat hati Suster Melisa lega adalah nyawa seluruh anak asuhnya selamat. Itulah harta yang tak ternilai harganya.
“Asalkan mereka selamat, saya ikhlas. Rumah bisa dibangun kembali, tapi nyawa tidak bisa kembali,” ucapnya sambil memeluk erat anak-anak yang kini berada di sisinya.
Bantuan Gubernur NTT
Kini, Suster Melisa dan 19 anak asuhnya tidak lagi memiliki tempat tinggal. Namun, bantuan segera mengalir. Pemerintah Provinsi NTT telah menyediakan tempat tinggal sementara di kompleks Dinas Sosial NTT.
Bantuan logistik berupa makanan, pakaian, perlengkapan tidur, dan kebutuhan darurat lainnya juga telah disalurkan.
Gubernur NTT, Melki Laka Lena, menyatakan bahwa respons cepat juga dilakukan melalui pendampingan trauma healing bagi anak-anak dan para suster yang terdampak.
“Kami pastikan kebutuhan dasar anak-anak panti terpenuhi. Koordinasi dilakukan agar mereka segera mendapatkan tempat berteduh yang layak dan bantuan logistik yang cukup. Trauma healing juga menjadi prioritas agar anak-anak tidak membawa dampak psikologis dari peristiwa ini,” tegas Melki.
****









