Menu ✖

Mode Gelap
Presiden Prabowo Sambut Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang TNI AL Amankan Tugboat Pembawa Ribuan Kubik Kayu Log di Perairan Utara Pulau Buru Kisah Ibu-ibu Pemindang Ikan Kusamba, 28 Tahun Kerja Cuma Libur Nyepi-Galungan KPK Evaluasi Alasan Nusron Wahid Mangkir Sebelum Terbitkan Surat Perintah Membawa DPD RI Desak Menag Perkuat Pengawasan Anak Lindungi dari Kekerasan Seksual Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

Warta Nusantara

Ikan Sapu-sapu Invasif Rusak Perairan, BRIN Ungkap Dampak Bahaya ke Warga

badge-check


					Ikan Sapu-sapu Invasif Rusak Perairan, BRIN Ungkap Dampak Bahaya ke Warga Perbesar

Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Gema Wahyu Dewantoro, mengungkap bahaya yang ditimbulkan ikan sapu-sapu di perairan Indonesia. Gema mengatakan ikan sapu-sapu berpotensi merusak ekosistem.

“Ikan sapu-sapu merupakan ikan introduksi yang bersifat invasif sesuai Permen KP 19 tahun 2020. Ikan sapu-sapu sudah termasuk mencemari perairan karena sifatnya merusak dan reproduksinya tinggi, merusak jaring nelayan, melubangi pinggiran sungai atau danau,” kata Gema kepada wartawan, Rabu (15/4/2026).

Gema mengatakan meski bukan predator, ikan sapu-sapu dapat menggeser populasi ikan asli. Dia mengatakan ikan sapu-sapu mengandung logam berat dan berbahaya bagi kesehatan.

“Dagingnya diduga mengandung logam berat sehingga dapat berdampak negatif apabila dikonsumsi dalam jangka panjang,” ujarnya.

Sementara itu, peneliti BRIN, Haryono, menilai langkah Pemprov DKI Jakarta yang melakukan penangkapan ikan sapu-sapu sudah tepat. Menurutnya, populasi ikan tersebut saat ini telah melimpah dan mengganggu ekosistem perairan.

“Upaya seperti ini patut dicontoh untuk wilayah lain, bukan hanya penangkapan ikan sapu-sapu tetapi juga ikan invasif lainnya seperti ikan red devil,” ungkapnya.

Haryono menjelaskan ikan sapu-sapu merupakan ikan introduksi asal Amerika Selatan yang kini telah tersebar luas di Indonesia. Spesies ini, kata dia, bahkan sudah dikategorikan sebagai ikan jenis asing invasif (JAI) lantaran mengancam kelestarian ikan lokal dan habitatnya.

“Dampaknya terhadap manusia bersifat secara tidak langsung yaitu bila dikonsumsi akan membahayakan kesehatan manusia, karena kemungkinan mengandung bahan-bahan cemaran seperti logam berat,” jelasnya.

Terkait upaya pengendalian, Haryono menyebut ada tiga metode yang dapat dilakukan di antaranya, secara biologi, kimiawi, dan manual. Namun, menurutnya, metode manual melalui penangkapan merupakan metode paling aman.

“Agar dapat terkendali populasinya perlu dilakukan penangkapan secara intensif dan periodik, sehingga populasinya dapat ditekan dan semakin lama akan terkikis habis. Hal ini perlu adanya edukasi dan melibatkan semua pihak terkait (stakeholder),” tuturnya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Presiden Prabowo Sambut Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang

19 Oktober 2026 - 03:01 WITA

Presiden Prabowo Instruksikan Transformasi Menyeluruh PLN, Fokus Efisiensi dan Percepat Energi Surya 100 GW

16 Oktober 2026 - 02:52 WITA

Pemerintah Intensifkan Penanganan Karhutla, Operasi Darat dan Udara Terus Dioptimalkan

14 Oktober 2026 - 07:21 WITA

Pertemuan Presiden Prabowo dan Presiden El-Sisi Hasilkan Empat Kesepakatan Kerja Sama

12 Oktober 2026 - 05:13 WITA

Presiden Prabowo Sambut Presiden Mesir El-Sisi dengan Upacara Kenegaraan di Istana Merdeka

11 Oktober 2026 - 07:29 WITA

Trending di Warta Nusantara