Menu

Mode Gelap
Presiden Prabowo Teken Perpres Kesehatan, Atur Integrasi Layanan dari Pusat hingga Desa Rossa Sebut Nama Baiknya Dijadikan Ajang Cari Cuan Clickbait Lewat Link Afiliasi Kepergok ke Kedai Kopi, Napi Korupsi Dipindah ke Lapas Nusakambangan Harga BBM Pertamina Naik, Pertamax Turbo Melejit Jadi Rp19.400 Potret Gereja Pertama IKN, Ada Makna di Balik Desain Indahnya Komisi IX DPR RI Dorong Optimalisasi Program Magang untuk Kurangi Pengangguran Sarjana

Serba Serbi

Dua Mahasiswi Ini, Sulap Barang Bekas Jadi Seni Estetik

badge-check


					Dua Mahasiswi Ini, Sulap Barang Bekas Jadi Seni Estetik Perbesar

Di tangan dua mahasiswa asal Kabupaten Gresik, Aisyah Grisseeta Azzahra dan Eidelweis Syahida Ayazhi, barang-barang yang kerap berakhir di tempat sampah seperti gelas plastik dan botol bekas tak lagi dipandang sebelah mata. Melalui sentuhan kreativitas, limbah tersebut disulap menjadi pot tanaman dan hiasan rumah yang estetik.

Kisah inspiratif ini datang dari dua mahasiswa dengan latar belakang pendidikan berbeda, namun dipersatukan oleh semangat berkarya. Aisyah merupakan mahasiswa Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Gresik, sementara Ayazhi menekuni Pendidikan Seni Rupa di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Meski hidup dengan keterbatasan pendengaran, keduanya membuktikan bahwa imajinasi tidak membutuhkan suara untuk bersinar.

Perpaduan antara pemahaman teknologi Aisyah dan kemampuan artistik Ayazhi melahirkan karya yang unik. Dengan ketelatenan tinggi, mereka memoles botol-botol kusam menjadi benda dekoratif ramah lingkungan. Bagi mereka, proyek ini bukan sekadar mengisi waktu luang atau mencari keuntungan finansial semata.

“Tak hanya bernilai ekonomi, tapi pesannya adalah pentingnya daur ulang,” ujar Aisyah dan Ayazhi melalui bahasa isyarat, Jumat (9/1/2026).

Langkah kreatif mereka pun tak berhenti di meja kerja. Keduanya memiliki visi untuk membawa karya ini lebih dekat ke masyarakat. Melalui media sosial dan interaksi langsung di ruang publik, mereka ingin menunjukkan bahwa barang bekas juga memiliki nilai jual.

“Nanti akan kami jual di sana,” ujar mereka, merujuk pada rencana pemasaran secara daring maupun saat kegiatan Car Free Day (CFD) mendatang.

Perjalanan kreatif ini tidak lepas dari dukungan orang tua. Andayani, ibunda Ayazhi, mengaku awalnya melihat putrinya lebih sering menghabiskan waktu dengan ponsel saat liburan. Sebagai penjaga kantin sekolah, ia terus mendorong Ayazhi agar lebih produktif.

“Kami terus memberi masukan dan mendukung agar Ayazhi dan temannya memiliki aktivitas yang lebih produktif,” tutur Andayani.

Kini, melihat botol bekas berubah menjadi karya seni di tangan putrinya, Andayani tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Ia berharap inisiatif ini menjadi langkah awal menuju masa depan yang lebih mandiri bagi keduanya.

“Semoga mereka bisa terus menciptakan karya baru, menambah wawasan tentang daur ulang, dan melatih imajinasi seni,” pungkasnya penuh harap.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Potret Gereja Pertama IKN, Ada Makna di Balik Desain Indahnya

18 April 2026 - 06:58 WITA

Menyusuri Istana, Menyulam Mimpi: Pengalaman Tak Terlupakan Pelajar SMP Negeri 39 Jakarta

17 April 2026 - 05:18 WITA

Ismanto: Tinggalkan Profesi Satpam, Kini Sukses Budidaya Mamey Sapote Beromzet Puluhan Juta

16 April 2026 - 05:34 WITA

Prabowo Kirim Ucapan Ulang Tahun untuk Titiek Soeharto di Tengah Kunker Luar Negeri

15 April 2026 - 06:00 WITA

Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi

12 April 2026 - 03:38 WITA

Trending di Serba Serbi