Menu ✖

Mode Gelap
Korupsi Tunjangan Rp 18,79 M, Wabup Indramayu Syaefudin Ditahan Kejati Jabar Lebihi Target di Asian Para Games 2026, Kontingen Indonesia Siap Tatap ASEAN Para Games 2027 dan Paralimpiade 2028 Dua Tahun Kabinet Merah Putih, Presiden Prabowo Tegaskan Capaian Strategis: Kita Berada di Jalur yang Benar Pangdam XIII/Merdeka Tegaskan Kawal Program Nasional Budidaya Anggur Impor Buka Peluang Ekonomi Desa Pejarakan Kapolri Bongkar Lab Narkoba 1,2 Ton di Aceh, Terbesar di Indonesia

Serba Serbi

Dua Mahasiswi Ini, Sulap Barang Bekas Jadi Seni Estetik

badge-check


					Dua Mahasiswi Ini, Sulap Barang Bekas Jadi Seni Estetik Perbesar

Di tangan dua mahasiswa asal Kabupaten Gresik, Aisyah Grisseeta Azzahra dan Eidelweis Syahida Ayazhi, barang-barang yang kerap berakhir di tempat sampah seperti gelas plastik dan botol bekas tak lagi dipandang sebelah mata. Melalui sentuhan kreativitas, limbah tersebut disulap menjadi pot tanaman dan hiasan rumah yang estetik.

Kisah inspiratif ini datang dari dua mahasiswa dengan latar belakang pendidikan berbeda, namun dipersatukan oleh semangat berkarya. Aisyah merupakan mahasiswa Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Gresik, sementara Ayazhi menekuni Pendidikan Seni Rupa di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Meski hidup dengan keterbatasan pendengaran, keduanya membuktikan bahwa imajinasi tidak membutuhkan suara untuk bersinar.

Perpaduan antara pemahaman teknologi Aisyah dan kemampuan artistik Ayazhi melahirkan karya yang unik. Dengan ketelatenan tinggi, mereka memoles botol-botol kusam menjadi benda dekoratif ramah lingkungan. Bagi mereka, proyek ini bukan sekadar mengisi waktu luang atau mencari keuntungan finansial semata.

“Tak hanya bernilai ekonomi, tapi pesannya adalah pentingnya daur ulang,” ujar Aisyah dan Ayazhi melalui bahasa isyarat, Jumat (9/1/2026).

Langkah kreatif mereka pun tak berhenti di meja kerja. Keduanya memiliki visi untuk membawa karya ini lebih dekat ke masyarakat. Melalui media sosial dan interaksi langsung di ruang publik, mereka ingin menunjukkan bahwa barang bekas juga memiliki nilai jual.

“Nanti akan kami jual di sana,” ujar mereka, merujuk pada rencana pemasaran secara daring maupun saat kegiatan Car Free Day (CFD) mendatang.

Perjalanan kreatif ini tidak lepas dari dukungan orang tua. Andayani, ibunda Ayazhi, mengaku awalnya melihat putrinya lebih sering menghabiskan waktu dengan ponsel saat liburan. Sebagai penjaga kantin sekolah, ia terus mendorong Ayazhi agar lebih produktif.

“Kami terus memberi masukan dan mendukung agar Ayazhi dan temannya memiliki aktivitas yang lebih produktif,” tutur Andayani.

Kini, melihat botol bekas berubah menjadi karya seni di tangan putrinya, Andayani tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Ia berharap inisiatif ini menjadi langkah awal menuju masa depan yang lebih mandiri bagi keduanya.

“Semoga mereka bisa terus menciptakan karya baru, menambah wawasan tentang daur ulang, dan melatih imajinasi seni,” pungkasnya penuh harap.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Lebihi Target di Asian Para Games 2026, Kontingen Indonesia Siap Tatap ASEAN Para Games 2027 dan Paralimpiade 2028

24 Oktober 2026 - 09:56 WITA

BMKG: Keindahan Hunter’s Moon pada 26 Oktober 2026

23 Oktober 2026 - 04:17 WITA

Lestarikan Budaya, PORTINA Sulut Latih Pelatih Olahraga Tradisional

21 Oktober 2026 - 02:27 WITA

Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

18 Oktober 2026 - 04:51 WITA

Juri Pencak Silat Dunia Apresiasi Atlet Tapak Suci SMP Muhammadiyah 2 Kroya

16 Oktober 2026 - 02:19 WITA

Trending di Serba Serbi