Pengembangan desa wisata berbasis produk ramah lingkungan atau eco-friendly product menjadi salah satu upaya mendorong pariwisata yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Konsep ini menekankan pada pemanfaatan potensi lokal yang tetap menjaga kelestarian lingkungan.
Dalam program dialog Beranda Asta Cita, Sabtu, 7 Maret 2026, Staf Pengajar Program Studi Sarjana Terapan Destinasi Pariwisata Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, Dr. Sri Endah Nurhidayati, S.Sos., M.Si., mengatakan bahwa desa wisata tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga produk lokal yang ramah lingkungan sebagai daya tarik bagi wisatawan.

“Konsep eco-friendly dalam desa wisata mendorong masyarakat untuk memanfaatkan potensi lokal tanpa merusak alam. Dengan demikian, pariwisata dapat berkembang secara berkelanjutan,” ujarnya.
Menurutnya, produk ramah lingkungan dapat berupa kerajinan tangan dari bahan alami, produk daur ulang, hingga makanan khas desa yang menggunakan bahan lokal. Selain menjaga kelestarian lingkungan, produk tersebut juga dapat meningkatkan nilai ekonomi masyarakat setempat.
“Pengembangan desa wisata berbasis produk ramah lingkungan juga dinilai mampu membuka peluang usaha baru bagi masyarakat desa, mulai dari usaha kerajinan, kuliner, hingga pengelolaan homestay bagi wisatawan,” katanya.
Ia menambahkan, keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama dalam pengembangan desa wisata berbasis eco-friendly product. Masyarakat tidak hanya menjadi pelaku utama dalam pengelolaan wisata, tetapi juga sebagai produsen berbagai produk lokal yang ditawarkan kepada wisatawan.
“Edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan juga menjadi hal wajib yang harus dilakukan, agar aktivitas pariwisata tidak menimbulkan dampak negatif terhadap alam,” ujarnya.
Dengan pengelolaan yang baik, desa wisata berbasis eco-friendly product diharapkan dapat menjadi salah satu model pariwisata berkelanjutan yang tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan serta budaya lokal. Ke depan, sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat diperlukan untuk mendorong pengembangan desa wisata yang lebih inovatif dan berkelanjutan.
Dukungan pelatihan, pendampingan, serta promosi juga menjadi faktor penting agar desa wisata mampu bersaing dan menarik minat wisatawan.
****









