Desy Ratnasari didapuk memerankan Siti Safiyah, ibunda Buya Hamka, dalam film HAMKA: AWAL MULA (VOL. 3). Peran ini menuntut emosi mendalam karena merekam masa kecil Hamka ketika orang tuanya berpisah, sementara sang ibu menjadi penyeimbang di tengah didikan ayah yang keras.
“Sebagai orang tua, ayah dan ibu punya pendekatan berbeda. Ibu tentunya hadir memberikan kelembutan saat sang ayah bersikap sangat keras baik secara fisik, apresiasi, maupun verbal. Ibunyalah yang menyeimbangkan (mem-balance) hal tersebut,” ujar Desy Ratnasari saat ditemui di XXI Plaza Senayan, Rabu (28/10/2026).

Konflik rumah tangga yang berujung perpisahan menjadi momen paling dramatis di film ini. Desy menggambarkan rapuhnya seorang ibu yang terpaksa meninggalkan anaknya.“Bagian cerita yang paling menguras emosi adalah saat ibunya harus berpisah dan meninggalkan Hamka kecil bersama ayahnya karena urusan rumah tangga mereka. Itu adalah titik paling rapuh seorang anak yang kehilangan sandaran kasih sayangnya,” katanya.
Tak hanya mengolah rasa, Desy juga ditantang berbahasa Minang secara fasih. Selama pengambilan gambar, ia didampingi pelatih bahasa yang memantau ketat di lokasi syuting.“Terus terang, mendapatkan peran sebagai ibunda Hamka kecil ini merupakan tantangan karena harus berbahasa Minang. Walaupun saya dulu pernah bermain di Malin Kundang, di sini ada dialog dan logat khusus yang harus dipandu oleh mentor,” jelasnya.
Latar budaya Sunda sempat membuat dialeknya terpeleset. Dengan bimbingan intensif, Desy berusaha menjaga aksen agar adegan tetap mengalir alami.“Bahkan sampai saat proses syuting pun didampingi terus agar dialeknya tidak keliru. Maklum, kadang logat Sunda saya suka keluar (kacaletot deui). Jadi alhamdulillah, bimbingannya sangat membantu,” ucapnya.
Selain Desy Ratnasari, proyek ini juga melibatkan deretan aktor ternama seperti Vino G Bastian, Laudya Cynthia Bella, Donny Damara, Reza Rahadian, hingga Mathias Muchus. Kehadiran para aktor senior tersebut memperkuat bobot emosional di tiap adegan sejarah.
Di Maninjau, Sumatera Barat, Hamka kecil tumbuh dekat dengan tradisi dan sastra hingga kerap mengabaikan pesantren, memicu konflik tajam dengan ayahnya, Haji Rasul. Keretakan kian dalam saat sang ibu memilih bercerai, mendorong Hamka bertekad merantau ke Mekkah atas usahanya sendiri.
Setibanya di Tanah Suci, ia belajar berorganisasi, mengenal sistem manasik haji, dan menemukan misi besar: membangun Islam di Indonesia. Namun setibanya di tanah air, keyakinannya kembali diuji oleh keraguan sang ayah. Dalam pencarian jati diri itu, hadir Siti Raham sebagai penawar duka sekaligus sumber inspirasi romansa terindah dalam hidupnya.
****









