Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyoroti berbagai tantangan global, mulai dari konflik bersenjata dan krisis iklim hingga meningkatnya ketimpangan sosial.
Seruan tersebut disampaikan Guterres untuk memperingati Hari PBB ke-81 pada 24 Oktober 2026. Ia menekankan bahwa masa depan umat manusia bergantung pada kemampuan negara-negara untuk bekerja sama menghadapi berbagai persoalan bersama.

“Masa depan umat manusia bergantung pada kemampuan kita untuk bekerja sama dalam memajukan perdamaian, pembangunan, dan Hak Asasi Manusia (HAM).” ungkap Guterres dikutip dari tayangan resmi UN In Indonesia, Selasa (27/10/2026).
Peringatan Hari PBB tahun ini juga ditandai dengan kampanye Cahaya Biru PBB #UNBlue di sejumlah wilayah yakni Monumen Nasional (Monas) di Jakarta, Candi Borobudur di Jawa Tengah, dan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur. Warna biru tersebut merupakan warna bendera PBB yang melambangkan perdamaian dan harapan.
Penyalaan cahaya biru itu menjadi simbol solidaritas bagi masyarakat yang terdampak perang, bencana, dan pengungsian. Kampanye tersebut juga menyampaikan pesan mengenai pentingnya mewujudkan dunia tempat setiap orang dapat hidup dengan bermartabat.
Sekjen PBB Soroti Empat Tantangan Global
Dalam pesannya, Guterres menyebut dunia saat ini menghadapi sejumlah tantangan yang membutuhkan respons bersama. Ia menyoroti konflik, krisis iklim, ketimpangan yang meningkat, serta perkembangan teknologi yang melaju lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk mengaturnya.
“Dunia kita sedang diguncang oleh konflik. Dihantam oleh krisis iklim.Terluka oleh ketimpangan yang semakin meningkat. Dan diubah oleh teknologi yang melaju lebih cepat daripada kemampuan kita untuk mengendalikannya,” ujar Guterres.
Pernyataan itu menggambarkan persoalan yang menurutnya perlu menjadi perhatian komunitas internasional. Selain konflik dan perubahan iklim, ketimpangan sosial serta perkembangan teknologi juga menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi melalui kerja sama.
Guterres menilai, kondisi tersebut memperkuat kebutuhan akan peran PBB sebagai wadah negara-negara untuk berdialog dan mencari solusi bersama.
****









