Melalui kisah Pertiwi, film ini menggambarkan bagaimana penyintas kekerasan seksual harus menghadapi trauma masa lalu sekaligus pengucilan sosial. Didukung sinematografi Batara Goempar dan pendekatan visual yang eksperimental, film yang terpilih mewakili Indonesia di Oscar 2027 ini.
Film Empat Musim Pertiwi (Four Seasons in Java) karya sutradara Kamila Andini terpilih sebagai perwakilan resmi Indonesia untuk kategori Best International Feature Film pada Academy Awards ke-99 atau Oscar 2027.

Film produksi Fourcolours Films yang dibintangi Putri Marino, Arya Saloka, Hana Malasan, dan Christine Hakim tersebut mengangkat kisah Pertiwi, perempuan yang kembali ke kampung halamannya setelah menjalani hukuman penjara selama 20 tahun karena membunuh seorang pria demi membela diri dari kekerasan seksual.
Film berdurasi 137 menit ini mulai tayang di bioskop Indonesia pada 8 Oktober 2026. Sebelum menyapa penonton di Tanah Air, Empat Musim Pertiwi lebih dahulu menapaki sejumlah festival film internasional.
Film yang diproduseri Ifa Isfansyah itu menggelar pemutaran perdana dunia dalam program Centrepiece di Toronto International Film Festival (TIFF) 2026. Film tersebut juga masuk program A Window on Asian Cinema di Busan International Film Festival (BIFF) 2026.
Sebelumnya, Four Seasons in Java meraih penghargaan utama Tokyo Project Award dalam Tokyo Gap Financing Market. Capaian tersebut memperkuat perjalanan film ini di sirkuit perfilman internasional.
Kisah Penyintas di Tengah Tekanan Sosial
Cerita Empat Musim Pertiwi berpusat pada kepulangan Pertiwi (Putri Marino) ke sebuah desa di lereng Pegunungan Bromo, Jawa Timur. Namun, alih-alih memperoleh penerimaan, ia justru menghadapi tatapan asing dan penolakan dari masyarakat setempat.
Dua sosok yang masih memberinya ruang penerimaan adalah Bisma (Arya Saloka), seseorang dari masa lalunya yang menyimpan penyesalan, serta Niken (Hana Malasan).
Konflik semakin kompleks ketika Pertiwi kembali berhadapan dengan ayahnya (Iswadi Pratama) dan sejumlah tokoh pria yang memiliki pengaruh besar di desa. Mereka menjadi representasi struktur kekuasaan patriarkal yang membentuk kehidupan sosial masyarakat.
Situasi tersebut menempatkan Pertiwi dalam lingkungan yang tidak hanya mengasingkannya secara sosial, tetapi juga memaksanya berhadapan kembali dengan trauma masa lalu. Ketika ia mengetahui adanya gadis lain yang mengalami nasib serupa, persoalan kekerasan berbasis gender menjadi semakin menonjol dalam cerita.
Perpaduan Drama Psikologis dan Misteri
Kamila Andini memadukan drama psikologis dengan unsur surealisme dan fiksi ilmiah. Lanskap pegunungan berkabut menjadi bagian penting dalam membangun suasana terasing yang dialami tokoh utama.
Sinematografi Batara Goempar memperkuat atmosfer tersebut melalui lanskap dingin, kesunyian, serta visual yang menempatkan lingkungan sebagai bagian dari pengalaman batin karakter.
Film ini juga menghadirkan sejumlah kejadian ganjil, mulai dari perangkat elektronik yang kembali menyala dan memunculkan suara masa lalu hingga misteri objek terbang tak dikenal atau UFO.
Kehadiran unsur tersebut membuat alur cerita bergerak melampaui drama realistis. Penonton diajak menafsirkan berbagai petunjuk dan mempertanyakan batas antara kenyataan, trauma, serta pengalaman yang sulit dijelaskan.
Pendekatan itu memiliki kemiripan atmosfer dengan gim horor Silent Hill: Homecoming, terutama melalui lanskap berkabut, misteri masa lalu, dan pengungkapan cerita secara bertahap. Namun, Empat Musim Pertiwi merupakan karya orisinal, bukan adaptasi resmi gim tersebut.
Melalui perpaduan genre tersebut, Kamila tidak hanya membangun misteri, tetapi juga mengajak penonton mempertanyakan cara masyarakat memperlakukan pengalaman dan kesaksian yang tidak mereka pahami.
Kritik terhadap Kekuasaan Patriarkal
Di balik eksperimen visual dan misteri ceritanya, Empat Musim Pertiwi menempatkan kekerasan berbasis gender dan pengalaman penyintas sebagai persoalan utama.
Penolakan masyarakat terhadap Pertiwi memperlihatkan bagaimana korban dapat menghadapi pengasingan sosial ketika kembali menjalani kehidupan setelah mengalami kekerasan dan menjalani proses hukum.
Kisah tersebut juga menyoroti relasi kuasa yang menempatkan perempuan dalam posisi rentan di tengah struktur sosial yang didominasi laki-laki.
Film ini tidak menyajikan seluruh jawaban secara langsung. Sejumlah peristiwa dibiarkan terbuka untuk ditafsirkan penonton, termasuk kemunculan fenomena mistis dan misteri objek terbang.
Melalui pendekatan tersebut, Kamila Andini menggabungkan kritik sosial feminisme dengan eksplorasi sinematik yang tidak sepenuhnya mengikuti pola drama konvensional.
Terpilihnya Empat Musim Pertiwi sebagai wakil Indonesia di Oscar 2027 menjadi tonggak baru dalam perjalanan internasional film tersebut. Meski demikian, penunjukan sebagai wakil resmi belum berarti film ini otomatis masuk nominasi akhir Academy Awards.
Film ini menawarkan kisah tentang trauma, pengucilan, dan perjuangan seorang perempuan menghadapi masa lalu, sekaligus membuka ruang diskusi mengenai kekerasan berbasis gender dan struktur kekuasaan dalam masyarakat.
****









