Permukaan Sungai Tiber di Roma, Italia, turun drastis setelah berminggu-minggu tanpa hujan. Kondisi itu membuat sisa jembatan Romawi kuno yang berada dekat Vatikan kembali terlihat.
Jembatan itu disebut sebagai Pons Neronis atau Jembatan Nero. Namun, ahli menduga bangunan itu sebenarnya lebih tua dan kemungkinan dibangun pada masa Kaisar Caligula.

Arkeolog dari pengawas cagar budaya Roma, Antonella Bonini, mengatakan jembatan tersebut berada di sekitar sejumlah situs penting pada masa Romawi, termasuk vila Agrippina, Circus Caligula, dan Circus Nero.
“Jembatan ini melewati dekat vila Agrippina, Circus Caligula, kemudian Circus Nero. Secara tradisional, jembatan ini dinamai Nero karena dia merupakan tokoh paling terkenal yang terkait dengan kawasan ini,” jelas Bonini, seperti dilansir dari Euronews, Rabu (19/8/2026).
Meski dikenal sebagai Jembatan Nero, para peneliti meyakini bangunan tersebut dibangun lebih awal yakni pada masa Pemerintahan Caligula yang merupakan paman Nero. Jembatan itu diduga dibangun untuk menghubungkan vila Agrippina, ibu Caligula, dengan wilayah di seberang Sungai Tiber.
Lokasi tersebut kini kurang lebih berada di sekitar Rumah Sakit Santo Spirito, tidak jauh dari Vatikan.
“Kami memperkirakan jembatan ini sudah ada pada tahun 39 Masehi,” lanjut Bonini.
Namun, jembatan tersebut diperkirakan sudah tidak digunakan pada akhir abad ketiga atau awal abad keempat. Namanya juga tidak lagi tercantum dalam daftar bangunan penting Kota Roma yang dibuat pada masa Pemerintahan Kaisar Diocletianus dan Konstantinus.
Dalam daftar tersebut, Pons Aelius justru tercatat sebagai jembatan yang menghubungkan Castel Sant’Angelo dengan pusat kota. Jembatan itu dibangun Kaisar Hadrianus untuk menghubungkan mausoleumnya dengan Roma.
Di sisi lain, Sungai Tiber kini mengalami penurunan debit yang cukup signifikan. Koordinator Pusat Perlindungan Sipil Roma untuk pengelolaan air, Giovanni Giganti, mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi kekeringan berkepanjangan selama musim panas.
“Sungai Tiber sedang mengalami fase debit rendah yang cukup signifikan. Salah satu penyebabnya adalah kekeringan berkepanjangan selama musim panas,” kata Giganti.
Debit rata-rata Sungai Tiber di wilayah perkotaan Roma kini berada di bawah 80 meter kubik per detik. Padahal, rata-rata historisnya mencapai sekitar 150 meter kubik per detik.
Kondisi tersebut menjadi bagian dari krisis air yang melanda sejumlah wilayah Italia. Minimnya salju di Pegunungan Apennini juga disebut ikut memperparah kekeringan.
“Kami sedang menghadapi krisis air yang besar. Musim dingin lalu memang terjadi hujan yang cukup banyak, tetapi setelah itu periode kering berlangsung cukup panjang. Minimnya salju di Pegunungan Apennini juga menjadi penyebab langsung kekeringan ini,” terangnya.
Kini, saat permukaan Sungai Tiber masih berada di bawah kondisi normal, sisa jembatan kuno tersebut terlihat di atas aliran sungai. Kemunculannya menjadi kesempatan langka untuk melihat peninggalan sejarah Romawi yang selama ini tersembunyi di bawah air.
****









