Ratusan penumpang korban selamat kebakaran Kapal Motor Penumpang (KMP) Mutiara Sentosa 2 memadati kantor perusahaan pemilik kapal di Jalan Perak Timur, Kelurahan Perak Utara, Kecamatan Pabean Cantian, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (7/8/2026) sekitar pukul 15.00 WIB.
Kedatangan para korban selamat tersebut bertujuan untuk mengambil uang pengganti pembelian tiket kapal yang disediakan oleh manajemen perusahaan pemilik armada.

Sebagian penumpang tampak duduk berderet di kursi sisi utara halaman, sementara lainnya terpaksa duduk di trotoar jalan tepat di depan pagar kantor. Proses pembagian uang kompensasi pengembalian tiket dilakukan secara bergantian.
Beberapa petugas perusahaan yang menggunakan kemeja formal memanggil nama penumpang satu per satu menggunakan alat pengeras suara. Penumpang yang dipanggil lantas menuju meja petugas untuk menerima uang tuna
Besaran uang pengganti tiket yang diterima para korban selamat tidak seragam. Sejumlah penumpang menerima nominal sebesar Rp 3.000.000, sedangkan beberapa penumpang lainnya hanya mendapatkan Rp 2.000.000 per orang. Perbedaan besaran kompensasi ini diduga menyesuaikan rute pengangkutan pelayaran masing-masing penumpang.
Jadang (57), salah satu korban selamat yang bepergian bersama istrinya, Kartini (48), mengonfirmasi perbedaan nominal tersebut. “Itu tergantung orang dari mana. Kalau ke Makassar Rp 3 juta. Kalau masih turun ke Jawa dapat Rp 2 juta. Beda-beda,” kata Jadang di lokasi, Jumat.
Jadang mengungkapkan, nominal yang diberikan saat ini murni sebatas pengganti biaya tiket kapal, belum mencakup kompensasi kerugian atas hilangnya barang bawaan atau klaim asuransi.
“Ini sosialisasi dengan teman yang mengalami kecelakaan ini sama pihak kapal, ini hanya sekadar uang ganti tiket, tapi kalau kompensasi atau apa, belum dibicarakan,” ujar kakek empat cucu tersebut.
Jadang dan istrinya berniat memanfaatkan uang itu untuk ongkos pulang ke Makassar. Pasalnya, seluruh harta benda hasil merantaunya di Jawa telah dijual untuk bekal pindah ke kampung halaman dan ikut terbakar dalam musibah tersebut.
“Total kehilangan kami ya lumayan, kami jual harta di Jawa untuk pindah ke Makassar. Saya jual semua barang di sana, lalu pulang ke Makassar, ternyata ada musibah. Kami sendiri selamat nyawa sudah alhamdulillah,” kata Jadang.
Ia berharap pihak perusahaan dan pemerintah dapat memberikan penanganan yang layak atas kerugian material yang dialami para korban.
“Semoga teman-teman yang mengalami kecelakaan ini bisa terbantu bisa tenang, apa yang hilang dan rugi, karena terbakar, bisa diganti dengan pihak perusahaan atau pemerintah terkait. Karena kami sudah enggak punya apa-apa. Saya cuma pakai celana dalam aja kemarin,” tuturnya.
Cerita lain datang dari Ridwan (46), seorang sopir truk tronton asal Kota Makassar. Ia menerima uang kompensasi tiket sebesar Rp 3.000.000.
Nilai penggantian tiket tersebut terbilang jauh dari total kerugian yang dialaminya. Kendaraan tronton beserta belasan ton muatan buah-buahan milik perusahaannya hangus terbakar.
Selain itu, Ridwan sempat terombang-ambing di laut lepas selama lima jam sebelum dievakuasi, yang menyebabkan ponsel di tas selempangnya rusak terendam air laut.
“Iya ini sudah sementara, tapi saya sudah ambil Rp 3 juta,” kata Ridwan.
Menurut Ridwan, angka Rp 3.000.000 didapat setelah melalui negosiasi yang alot antara para penumpang selamat dan pihak manajemen. Awalnya, penumpang mengajukan angka kompensasi sebesar Rp 6.500.000 per orang, namun ditolak perusahaan.
“Kemarin dikasih naik lagi Rp 1 juta, enggak cocok. Jadi permintaannya teman-teman Rp 6,5 juta per orang,” kata pria yang telah 30 tahun menjadi sopir ini.
Bahkan, tawaran awal dari pihak pemilik kapal sempat sangat rendah. “Perusahaan awalnya cuma Rp 300 ribu. Akhirnya teman-teman tidak cocok lah ya, akhirnya naik Rp 500 ribu, enggak cocok lagi. Tapi pihak yang perusahaan katanya enggak mampu. Akhirnya kita nego-nego akhirnya jadi Rp 3 juta,” jelasnya.
Meski tidak sebanding dengan nilai kerugian barang, Ridwan memilih menerima uang tersebut.
“Kalau masalah cukup, enggak sebanding itu yang barang-barang yang hilang. Kayak SIM, STNK, istilahnya hanya KTP, dan HP. Alhamdulillah saya enggak ada yang hilang, surat-surat lengkap semua. Cuma HP rusak. Saya masukkan tas ini, belum saya ganti,” tutur Ridwan.
Kondisi senada dirasakan Aziz Disiamak (45), seorang porter yang ditugaskan mengawal pengiriman 18 ekor kuda pacu dan kuda pedaging dari Bandung menuju Makassar dengan nilai mencapai belasan miliar rupiah. Saat ditemui di lokasi, Aziz masih menunggu giliran pemanggilan nama oleh petugas.
“Untuk dapat ganti rugi yang cuma bilang Rp 3 juta gitu, berupa uang tunai. Saya masih menunggu, belum dapat, masih antre, saya enggak tahu dapat berapa. Ada yang bilang Rp 2 juta, ada yang bilang Rp 3 juta. Saya dengar gitu,” kata Aziz.
Pria yang hilang kontak dengan pihak pemilik barang akibat ponselnya rusak ini hanya bisa pasrah menunggu petunjuk lebih lanjut.
“Enggak tahu, terserah dari bos. Saya belum komunikasi, HP enggak ada. Cuma sudah ada kabar kepada keluarga saya, bahwa saya masih hidup,” pungkasnya.
****









