Menu

Mode Gelap
Sosok Ibrahim Al Abrar, Bocah SD Boyolali Penemu Celah Keamanan Web NASA Eks Pejabat Dinas PUTR Batu Bara Divonis 6 Tahun di Kasus Korupsi Jalan Rp 43 M Kisah April DA7 yang Menginspirasi, Ketekunan Bawa Dirinya dari Jalanan ke Dunia Hiburan Presiden Prabowo: LNG Abadi Masela Jadi Tonggak Kemandirian Energi dan Mesin Baru Kemakmuran Rakyat Ledakan Gudang Amunisi Tewaskan 1 Prajurit dan Enam Lainnya Terluka, TNI AD Bentuk Tim Investigasi 1,2 Juta NIK Warga Miskin Dibobol, Ombudsman Desak Dinsos-Diskomdigi Benahi Sistem Keamanan Digital

Warta Utama

Menembus Medan Terjal demi Sekolah di Puncak Gunung, Kisah SD Swadaya yang Bertahan 50 Tahun di Pesawaran

badge-check


					Menembus Medan Terjal demi Sekolah di Puncak Gunung, Kisah SD Swadaya yang Bertahan 50 Tahun di Pesawaran Perbesar

Perjalanan menuju SDS Pujoraharjo di Dusun Pujoraharjo, Desa Banjaran, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran tak bisa diukur hanya dari jarak.

Dari Bandar Lampung, perjalanan dengan sepeda motor memakan waktu sekitar satu jam 45 menit hingga tiba di kaki Bukit Gunung Bundar, sebutan warga setempat, dengan ketinggian sekitar 500 Mdpl.

Namun sesungguhnya, perjalanan baru dimulai ketika jalan aspal berganti jembatan gantung yang membentang di atas sungai. Selebihnya, hanya ada jalan setapak selebar sekitar 50 sentimeter yang sudah dicor semen.

Jalur itu hanya cukup dilalui satu sepeda motor. Jarak menuju sekolah hanya sekitar tiga kilometer, dari kaki bukit.

Di sisi kanan dan kiri jalan terbentang jurang, sedangkan rimbunnya hutan menutup sebagian cahaya matahari. Tak ada kendaraan roda empat yang mampu mencapai sekolah ini.

Di ujung tanjakan itulah berdiri SDS Pujoraharjo. Sebuah sekolah sederhana yang telah menjadi harapan anak-anak pegunungan selama lebih dari 50 tahun.

Sekolah ini lahir bukan karena proyek pemerintah. Pada awal 1970-an, warga yang tinggal di pegunungan kesulitan menyekolahkan anak-anak mereka ke wilayah bawah.

Jarak jauh dan medan berat membuat banyak anak terancam tak mengenyam pendidikan.

Tokoh masyarakat, almarhum Imam Suparyono bersama almarhumah Mariyana kemudian menggagas pendirian sekolah swadaya. Awalnya, kegiatan belajar mengajar menumpang dari satu rumah warga ke rumah warga lainnya.

Ketika jumlah murid terus bertambah hingga puluhan orang, bahkan pernah mencapai ratusan siswa, warga bergotong royong membangun sekolah dengan kemampuan sendiri. Mustofa, warga yang datang ke kawasan itu sejak 1974, masih mengingat seperti apa rupa sekolah pertama tersebut.

Mustofa, warga yang datang ke kawasan itu sejak 1974, masih mengingat seperti apa rupa sekolah pertama tersebut.

“Bangunannya dulu cuma pakai kayu-kayu hutan yang bulat. Atapnya juga masih alang-alang. Semua swadaya warga,” kenang Mustofa, Selasa (14/7/2026).

Menurut dia, bangunan pertama berdiri sekitar tahun 1975 sebelum akhirnya dipindahkan ke lokasi yang sekarang.

“Awalnya sekolah juga numpang. Setelah itu masyarakat gotong royong. Baru belakangan ada bantuan pemerintah sehingga bangunannya menjadi permanen,” ujarnya.

Semangat gotong royong menjadi modal utama warga membangun sekolah di atas gunung. Bapak Taram, warga yang menetap sejak 1977, mengatakan setiap kepala keluarga ikut menyumbang sesuai kemampuan.

“Dulu semua swadaya. Ada yang kasih uang, ada yang kasih tenaga. Semua ikut gotong royong membangun sekolah,” kata Taram.

Kayu bangunan diambil dari hutan sekitar, lalu digergaji bersama-sama.

“Kalau dulu kayunya dari sini semua. Digergaji sendiri, diangkut sama-sama. Waktu itu belum ada larangan seperti sekarang,” ujarnya.

Menurut Taram, jumlah murid ketika itu jauh lebih banyak dibanding sekarang.

“Dulu anak-anak banyak, sampai ratusan. Gurunya juga orang sini,” katanya.

Kini, suasana sekolah jauh lebih sepi. SDS Pujoraharjo hanya memiliki 10 murid yang diajar empat tenaga pendidik, termasuk kepala sekolah.

Guru sekaligus pengelola sekolah, Naim Jauhari, mengatakan sekolah itu tetap bertahan karena warga masih membutuhkan pendidikan di daerah pegunungan.

“Kalau dulu masyarakat di sini enggak mampu menyekolahkan anak ke bawah. Makanya tokoh masyarakat berunding mendirikan sekolah di sini,” kata Naim.

Menurutnya, perjuangan guru di sekolah tersebut tidak pernah mudah. Banyak guru datang, tetapi tidak bertahan lama karena beratnya akses menuju sekolah.

“Dulu banyak guru datang. Tapi paling kuat tiga sampai empat bulan, habis itu berhenti. Ganti lagi orangnya,” ujarnya.

Naim menceritakan, ayahnya mulai mengajar di sekolah itu pada era 1980-an. Saat sang ayah terserang stroke pada 2007, tugas mengajar diteruskan ibunya. Kini giliran dirinya yang melanjutkan perjuangan keluarga mengajar anak-anak di puncak gunung.

Bangunan sekolah yang berdinding kayu masih berdiri sederhana. Sebagian atap asbes mulai bocor dimakan usia. Saat hujan turun, proses belajar mengajar harus menyesuaikan kondisi ruang kelas.

“Kalau hujan, kami cari tempat duduk yang enggak bocor. Anak-anak pindah-pindah supaya tetap bisa belajar,” ujar Naim sambil menunjuk beberapa titik atap yang rusak.

Ia mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir sekolah memang menerima bantuan semen dan panel tenaga surya dari relawan asal Korea Selatan. Namun, untuk perbaikan bangunan secara menyeluruh, sekolah belum memiliki kemampuan.

“Lantainya memang pernah dibantu semen. Tenaga surya juga bantuan dari orang Korea. Tapi kondisi atap sekarang sudah banyak yang bocor,” katanya.

Meski berada di pelosok, kegiatan belajar mengajar tetap mengikuti kurikulum nasional.

“Kami tetap ikut pelatihan guru. Dulu waktu masih ada Ujian Nasional, siswa kami menginduk ke sekolah di bawah. Sekarang ujian sekolah sudah bisa dilakukan di sini,” ujar Naim.

Di tengah sunyi pegunungan Gunung Bundar, SDS Pujoraharjo masih berdiri. Bukan dengan bangunan megah ataupun fasilitas lengkap, melainkan dengan semangat gotong royong yang diwariskan lintas generasi.

Setengah abad berlalu sejak ruang kelas pertama dibangun dari kayu hutan dan beratapkan alang-alang. Kini, jumlah murid memang tinggal belasan orang. Jalan menuju sekolah pun masih menguji siapa saja yang ingin datang.

Namun, bagi warga Pujoraharjo, sekolah kecil di puncak gunung itu bukan sekadar tempat belajar membaca dan berhitung. Ia adalah bukti bahwa ketika akses begitu sulit, harapan tetap bisa dibangun sedikit demi sedikit melalui gotong royong dan keyakinan bahwa pendidikan harus tetap hadir, bahkan di tempat yang nyaris tak terjangkau.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sosok Ibrahim Al Abrar, Bocah SD Boyolali Penemu Celah Keamanan Web NASA

18 Juli 2026 - 13:03 WITA

Usai Temuan Emas 74 Kg Serta Uang Rp476 Miliar Dirumahnya, Febrie Adriansyah Jadi Tersangka Korupsi dan TPPU di Tiga Kasus

11 Juli 2026 - 14:26 WITA

Kisah Nyata Hj Siti Srimulati Bangun Jalan 2,5 Kilometer dan Dua Jembatan Pakai Tabungan hingga Jual Emas

10 Juli 2026 - 06:19 WITA

BRIN Sebut Es Abadi di Puncak Jaya Tak Mungkin Lagi Kembali

4 Juli 2026 - 09:32 WITA

Selain Divonis 10 Tahun Penjara, Nadiem Makarim Dihukum Bayar Uang Pengganti Rp809,6 Miliar

1 Juli 2026 - 05:07 WITA

Trending di Warta Utama