Menu

Mode Gelap
Sosok Ibrahim Al Abrar, Bocah SD Boyolali Penemu Celah Keamanan Web NASA Eks Pejabat Dinas PUTR Batu Bara Divonis 6 Tahun di Kasus Korupsi Jalan Rp 43 M Kisah April DA7 yang Menginspirasi, Ketekunan Bawa Dirinya dari Jalanan ke Dunia Hiburan Presiden Prabowo: LNG Abadi Masela Jadi Tonggak Kemandirian Energi dan Mesin Baru Kemakmuran Rakyat Ledakan Gudang Amunisi Tewaskan 1 Prajurit dan Enam Lainnya Terluka, TNI AD Bentuk Tim Investigasi 1,2 Juta NIK Warga Miskin Dibobol, Ombudsman Desak Dinsos-Diskomdigi Benahi Sistem Keamanan Digital

Warta Utama

Kisah Nyata Hj Siti Srimulati Bangun Jalan 2,5 Kilometer dan Dua Jembatan Pakai Tabungan hingga Jual Emas

badge-check


					Kisah Nyata Hj Siti Srimulati Bangun Jalan 2,5 Kilometer dan Dua Jembatan Pakai Tabungan hingga Jual Emas Perbesar

Hamparan jalan yang kini membelah kawasan perbukitan dan hutan lebat di Desa Plumbon, Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, itu tampak sederhana.

Namun, siapa sangka, jalan sepanjang sekitar 2,5 kilometer lengkap dengan dua bangunan jembatan tersebut lahir bukan dari kucuran anggaran pemerintah, melainkan dari ketulusan hati seorang perempuan lansia bernama Hj Siti Srimulati.

Di balik fasilitas jalan yang kini membuka harapan baru bagi masyarakat desa yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani, tersimpan kisah pengorbanan yang tak banyak diketahui orang.

Seluruh biaya pembangunannya murni dibiayai menggunakan harta tabungan pribadi wanita berusia 72 tahun tersebut yang telah dikumpulkannya selama bertahun-tahun.

Perempuan yang akrab disapa Hj Siti Sudar itu mengaku niat mulia untuk membangun jalan tersebut sebenarnya telah muncul sejak lama di benaknya. Tepatnya, setelah ibu mertuanya meninggal dunia pada tahun 2016.

Saat itu, ia sempat merenung bahwa dirinya telah diterima dengan sangat baik oleh masyarakat setempat meskipun ia bukan merupakan warga asli dari Desa Plumbon.

Wanita paruh baya ini diketahui saat ini tinggal bersama sang suami di Jakarta, di mana suaminya merupakan putra daerah asli yang berasal dari Desa Plumbon tersebut.

Saat merenung kala itu, ia merasa sedih karena belum pernah memberikan sesuatu yang benar-benar bermanfaat secara nyata bagi warga desa setempat.

“Saya berpikir, saya sudah lama diterima di sini, diterima dengan baik oleh masyarakat, tetapi belum pernah memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk mereka,” kata Hj Siti Srimulati saat ditemui di ujung pembangunan jalan tersebut, Senin (6/7/2026).

Niat itu pun semakin menguat ketika dirinya melihat langsung kawasan hutan dan lahan pertanian desa yang sebenarnya memiliki potensi ekonomi besar, tetapi sangat sulit dimanfaatkan secara optimal karena akses jalur darat yang sangat terbatas.

Ia mengenang, dahulu untuk mencapai lokasi perkebunan di atas bukit, seorang petani harus berjalan kaki dari pagi buta hingga sore hari. Kondisi medan yang berat itu membuat banyak lahan produktif akhirnya terbengkalai begitu saja karena warga kesulitan mengangkut hasil panen mereka ke pasar.

“Saya melihat potensi hutannya bagus, tetapi tidak ada jalan. Saya berdoa, kalau suatu saat Allah memberi rezeki, saya ingin membantu membuat jalan,” katanya.

Kesempatan emas itu akhirnya datang beberapa tahun kemudian. Saat itu, ia membeli sebidang tanah sawah milik saudaranya yang hendak menjual aset demi menutup biaya menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Pembelian lahan tersebut justru semakin menguatkan tekad bulatnya untuk membuka akses lebar menuju kawasan pertanian di sekitarnya.

Saat memutuskan untuk memulai proses pengerjaan fisik, Hj Siti Srimulati sama sekali tidak mencari sponsor dari korporasi maupun meminta bantuan dari pihak lain. Ia memilih konsisten menggunakan seluruh tabungan pribadinya yang selama ini disimpan rapat.

Bahkan, untuk menutup kekurangan dana pembangunan di tengah jalan, ia rela menjual simpanannya yang sudah dalam bentuk emas perhiasan. Menurut dia, menyimpan emas memang sudah menjadi pilihan investasi utamanya sejak puluhan tahun lalu. Ketika momentum harga emas dunia sedang melonjak tinggi, ia pun langsung menjualnya untuk membiayai seluruh proyek pembangunan jalan tersebut.

“Dulu saya lebih sering membeli emas sedikit demi sedikit. Ketika harganya naik, saya jual untuk membangun jalan ini,” ujarnya.

Ia sengaja menutup rapat dan tidak ingin menyebutkan nominal dana pasti yang telah habis dikeluarkan dari dompet pribadinya. Baginya, besarnya biaya materiil bukanlah hal yang perlu dipublikasikan kepada khalayak luas karena seluruh pengorbanan itu murni diniatkan sebagai ladang ibadah.

“Kalau ditanya berapa biayanya, saya tidak akan menjawab. Itu urusan saya dengan Allah,” kata Hj Siti.

Warga Sukarela Hibahkan Tanah Tanpa Ganti Rugi

Proses pengerjaan awal jalan tersebut dimulai pada tanggal 21 April, sengaja bertepatan dengan momentum peringatan Hari Kartini. Ia menyebut tanggal bersejarah itu sengaja dipilih sebagai penanda kuat dimulainya cita-cita dan emansipasi yang telah lama ia simpan di dalam hati.

Selama kurang lebih tiga bulan lamanya, proses pembangunan dilakukan secara intensif hingga akhirnya jalan sepanjang sekitar 2,5 kilometer beserta dua jembatan penghubung berhasil tersambung sempurna. Jalur baru tersebut sukses menembus rimbunnya hutan belantara dan melintasi beberapa aliran sungai kecil.

Tak hanya sekadar mengeluarkan biaya material yang besar, keberhasilan pembangunan jalan ini juga memerlukan dukungan penuh dari moralitas masyarakat. Beruntung, warga desa menyambut baik gagasan luar biasa tersebut. Sejumlah pemilik lahan di sepanjang rute bahkan rela menghibahkan sebagian tanah milik mereka agar jalan dapat dibangun rata tanpa hambatan konflik.

“Alhamdulillah saya dimudahkan. Banyak warga yang memberikan sebagian tanahnya untuk jalan, sebagian juga beli. Ada yang belasan meter, ada yang puluhan meter untuk dibuat jalan,” katanya.

Kini, manfaat nyata dari eksistensi jalan baru itu mulai dirasakan langsung oleh urat nadi perekonomian masyarakat. Jika dahulu perjalanan melelahkan menuju area kebun memerlukan waktu berjam-jam dengan medan tanah yang curam, kini kendaraan bermotor dapat menjangkaunya hanya dalam hitungan menit saja.

Menurut Hj Siti Srimulati, kemudahan akses transportasi tersebut diharapkan mampu mendongkrak tingkat kesejahteraan hidup masyarakat luas karena hasil pertanian dan perkebunan kini jauh lebih mudah serta cepat diangkut keluar desa.

“Sekarang sekitar 10 menit sudah sampai. Warga bisa membawa hasil bumi dengan lebih mudah. Harapan saya, pendapatan mereka juga ikut meningkat,” ujarnya tersenyum.

“Saya ingin apa yang saya lakukan ini menjadi amal yang terus mengalir manfaatnya. Semoga jalan ini membawa rezeki dan kemudahan bagi masyarakat,” tuturnya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sosok Ibrahim Al Abrar, Bocah SD Boyolali Penemu Celah Keamanan Web NASA

18 Juli 2026 - 13:03 WITA

Menembus Medan Terjal demi Sekolah di Puncak Gunung, Kisah SD Swadaya yang Bertahan 50 Tahun di Pesawaran

15 Juli 2026 - 05:17 WITA

Usai Temuan Emas 74 Kg Serta Uang Rp476 Miliar Dirumahnya, Febrie Adriansyah Jadi Tersangka Korupsi dan TPPU di Tiga Kasus

11 Juli 2026 - 14:26 WITA

BRIN Sebut Es Abadi di Puncak Jaya Tak Mungkin Lagi Kembali

4 Juli 2026 - 09:32 WITA

Selain Divonis 10 Tahun Penjara, Nadiem Makarim Dihukum Bayar Uang Pengganti Rp809,6 Miliar

1 Juli 2026 - 05:07 WITA

Trending di Warta Utama