Menu ✖

Mode Gelap
Dua Tahun Pemerintahan Presiden Prabowo, Investasi Rp3.923,2 Triliun Serap 5,48 Juta Tenaga Kerja Juan Azmi Bawa Film Laga Indonesia Menembus Panggung Dunia Panen Raya UNESA 2026: 60 Ribu Ekor Ayam Dibagikan, Dosen dan Tenaga Kependidikan Rasakan Manfaatnya Satu Tahun di Afrika Tengah, 140 Personel FPU 7 Raih Penghargaan atas Misi Perdamaian Presiden Prabowo Sambut Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang TNI AL Amankan Tugboat Pembawa Ribuan Kubik Kayu Log di Perairan Utara Pulau Buru

Warta Daerah

Tak Lagi Jual ke Tengkulak ! Petani Melon HST Raup Untung Lewat Agrowisata, Sehari Terjual 2 Ton

badge-check


					Tak Lagi Jual ke Tengkulak ! Petani Melon HST Raup Untung Lewat Agrowisata, Sehari Terjual 2 Ton Perbesar

Bertahun-tahun selalu menjual hasil panen melon ke tengkulak. Di panen tahun ini, petani buah melon di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) pilih menjual langsung ke masyarakat.

Mereka mengambil konsep agrowisata untuk menarik pembeli. Pembeli bisa memilih sendiri buah melon sesuai ukuran dan harganya.

“Tujuan kami untuk membuka usaha ini adalah untuk meningkatkan hasil yang lebih daripada kami menjual ke tengkulak,” ujar Muhammad Khairani, Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS), Kamis (2/7/2026).

Agrowisata yang berlangsung 1 hingga 3 Juli 2026 ini disambut antusias warga. Pada hari pertama, sekitar dua ton lebih melon berhasil terpetik oleh pengunjung yang datang langsung ke kebun.

Pihaknya memperkirakan hari kedua menjadi puncak kunjungan setelah informasi agrowisata ini mulai menyebar luas melalui media sosial.

Kebun melon ini dikelola petani bersama BUMDes Partala di lahan seluas 0,4 hektar yang saat ini masih berstatus sewa, dengan total 2.500 bibit ditanam dan sekitar 2.000 bibit tumbuh produktif.

Jenis melon yang dipilih adalah melon rock, hasil seleksi setelah BUMDes Partala mencoba tiga varietas yakni sky, rock, dan golden.

“Ternyata yang lebih pas untuk masyarakat harganya terjangkau, pemeliharaannya juga cukup bagus, kami memilih untuk jenis rock,” kata Khairani.

Melon rock yang ditanam di kebun ini pun terbilang jumbo satu buah bisa mencapai berat 5 hingga 6 kilogram, dengan rata-rata bobot terbanyak sekitar 3 kilogram per buah. Per kilonya dihargai Rp12 ribu.

Kegiatan ini didukung tiga pilar yakni penyuluh pertanian swadaya, BUMDes Partala, dan pemerintah desa yang turut memfasilitasi gelaran agrowisata sebagai solusi agar hasil panen tidak terus bergantung pada harga tengkulak.

Khairani juga berharap langkah BUMDes Partala bisa menginspirasi desa-desa lain untuk lebih berinovasi di sektor perkebunan.

“Kami ingin memberikan motivasi pada BUMDes-BUMDes lain agar lebih berinovasi dalam perkebunan. Tidak hanya tergantung pada satu tanaman saja, mungkin tanaman yang lain juga bisa diikuti oleh para petani,” ujarnya.

Ke depan, BUMDes Partala berencana memperluas lahan dan menambah varietas tanaman yang lebih beragam untuk menarik lebih banyak pengunjung.

“Mudah-mudahan ke depannya agrowisata ini bisa terus berkembang dan bertahan. Kami komitmen untuk terus melanjutkan usaha ini,” pungkasnya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Panen Raya UNESA 2026: 60 Ribu Ekor Ayam Dibagikan, Dosen dan Tenaga Kependidikan Rasakan Manfaatnya

20 Oktober 2026 - 03:32 WITA

Jalan Rusak Parah, Warga Desa Wolokelo Swadaya Gotong Royong Lakukan Perbaikan

17 Oktober 2026 - 03:45 WITA

APH Didesak Usut Tuntas Dugaan Korupsi di Setda Barito Timur

15 Oktober 2026 - 07:15 WITA

Kebakaran Cagar Alam Gunung Lokon Tomohon Hanguskan 100 Hektare Lahan

14 Oktober 2026 - 10:25 WITA

Protes Tambang Galian C, Warga Puncu Kediri Keluhkan Jalan Rusak dan Sulit Air

13 Oktober 2026 - 04:27 WITA

Trending di Warta Daerah