Menu

Mode Gelap
Presiden Prabowo Jadi Tamu Kehormatan Utama EEF ke-11 di Vladivostok Sherina Munaf Turun Tangan Bantu Padamkan Karhutla di Kalimantan Kisah Desa di Pekalongan yang Berdamai dengan Satwa Liar, Punya Aturan Larangan Berburu Lima Sila Pancasila Jadi Filosofi Pembangunan Gedung Mahkamah Agung di IKN Anggaran Kementerian di Kanwil Kemenag Kalteng dan Universitas Palangkaraya Terindikasi Dikorupsi Dari Tambling, Titiek Soeharto Dorong Kolaborasi Sains dan Alam untuk Konservasi Masa Depan

Warta Daerah

Tak Lagi Jual ke Tengkulak ! Petani Melon HST Raup Untung Lewat Agrowisata, Sehari Terjual 2 Ton

badge-check


					Tak Lagi Jual ke Tengkulak ! Petani Melon HST Raup Untung Lewat Agrowisata, Sehari Terjual 2 Ton Perbesar

Bertahun-tahun selalu menjual hasil panen melon ke tengkulak. Di panen tahun ini, petani buah melon di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) pilih menjual langsung ke masyarakat.

Mereka mengambil konsep agrowisata untuk menarik pembeli. Pembeli bisa memilih sendiri buah melon sesuai ukuran dan harganya.

“Tujuan kami untuk membuka usaha ini adalah untuk meningkatkan hasil yang lebih daripada kami menjual ke tengkulak,” ujar Muhammad Khairani, Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS), Kamis (2/7/2026).

Agrowisata yang berlangsung 1 hingga 3 Juli 2026 ini disambut antusias warga. Pada hari pertama, sekitar dua ton lebih melon berhasil terpetik oleh pengunjung yang datang langsung ke kebun.

Pihaknya memperkirakan hari kedua menjadi puncak kunjungan setelah informasi agrowisata ini mulai menyebar luas melalui media sosial.

Kebun melon ini dikelola petani bersama BUMDes Partala di lahan seluas 0,4 hektar yang saat ini masih berstatus sewa, dengan total 2.500 bibit ditanam dan sekitar 2.000 bibit tumbuh produktif.

Jenis melon yang dipilih adalah melon rock, hasil seleksi setelah BUMDes Partala mencoba tiga varietas yakni sky, rock, dan golden.

“Ternyata yang lebih pas untuk masyarakat harganya terjangkau, pemeliharaannya juga cukup bagus, kami memilih untuk jenis rock,” kata Khairani.

Melon rock yang ditanam di kebun ini pun terbilang jumbo satu buah bisa mencapai berat 5 hingga 6 kilogram, dengan rata-rata bobot terbanyak sekitar 3 kilogram per buah. Per kilonya dihargai Rp12 ribu.

Kegiatan ini didukung tiga pilar yakni penyuluh pertanian swadaya, BUMDes Partala, dan pemerintah desa yang turut memfasilitasi gelaran agrowisata sebagai solusi agar hasil panen tidak terus bergantung pada harga tengkulak.

Khairani juga berharap langkah BUMDes Partala bisa menginspirasi desa-desa lain untuk lebih berinovasi di sektor perkebunan.

“Kami ingin memberikan motivasi pada BUMDes-BUMDes lain agar lebih berinovasi dalam perkebunan. Tidak hanya tergantung pada satu tanaman saja, mungkin tanaman yang lain juga bisa diikuti oleh para petani,” ujarnya.

Ke depan, BUMDes Partala berencana memperluas lahan dan menambah varietas tanaman yang lebih beragam untuk menarik lebih banyak pengunjung.

“Mudah-mudahan ke depannya agrowisata ini bisa terus berkembang dan bertahan. Kami komitmen untuk terus melanjutkan usaha ini,” pungkasnya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kisah Desa di Pekalongan yang Berdamai dengan Satwa Liar, Punya Aturan Larangan Berburu

3 September 2026 - 05:21 WITA

Strategi Tepat Hadapi El Nino, Petani di Luwu Utara Sukses Panen Raya

31 Agustus 2026 - 09:09 WITA

El Nino Picu Migrasi Ikan, Nelayan Kecil Hadapi Beban Ongkos Melaut

29 Agustus 2026 - 05:42 WITA

Jalan ke Kawasan Baduy Lebak Rusak, Tokoh Adat Harap Segera Diperbaiki

28 Agustus 2026 - 04:53 WITA

Update Gempa NTT: 91 Orang Meninggal, 1.286 Luka dan 161.084 Mengungsi

24 Agustus 2026 - 05:48 WITA

Trending di Warta Daerah