Menu ✖

Mode Gelap
Presiden Prabowo Sambut Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang TNI AL Amankan Tugboat Pembawa Ribuan Kubik Kayu Log di Perairan Utara Pulau Buru Kisah Ibu-ibu Pemindang Ikan Kusamba, 28 Tahun Kerja Cuma Libur Nyepi-Galungan KPK Evaluasi Alasan Nusron Wahid Mangkir Sebelum Terbitkan Surat Perintah Membawa DPD RI Desak Menag Perkuat Pengawasan Anak Lindungi dari Kekerasan Seksual Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

Warta Utama

Kisah Pilu Putri, Siswi SD di Sinjai, Saat Sakit Ditandu, Jenazahnya pun Ditandu karena Ambulans Tak Bisa Masuk

badge-check


					Kisah Pilu Putri, Siswi SD di Sinjai, Saat Sakit Ditandu, Jenazahnya pun Ditandu karena Ambulans Tak Bisa Masuk Perbesar

Duka menyelimuti keluarga Putri, siswi kelas V SD Negeri 239 Laha-Laha, Desa Terasa, Kecamatan Sinjai Barat, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan.

Putri meninggal dunia pada Minggu (28/6/2026) setelah menjalani perawatan sekitar dua pekan di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar.

Sebelumnya, Putri sempat viral di media sosial setelah dievakuasi menggunakan tandu sederhana karena ambulans tidak bisa menjangkau rumahnya akibat akses jalan yang belum memadai.

Ironisnya, kondisi serupa kembali terjadi saat jenazah Putri hendak dibawa ke rumah duka. Ambulans yang membawa jenazahnya tidak dapat masuk hingga ke rumah keluarga, sehingga warga kembali menandu jenazah Putri menggunakan sarung dan bambu.

Putri merupakan anak dari pasangan Hasir dan Rismawati yang tinggal di Dusun Tonrong, Desa Terasa, Kecamatan Sinjai Barat. Sebelum sakit, Putri dikenal aktif mengikuti berbagai kegiatan di sekolah.

Ia meninggal dunia di RS Wahidin Sudirohusodo Makassar setelah menjalani perawatan selama kurang lebih dua pekan. Selama dirawat, Putri menjalani dua kali operasi akibat penyakit penyumbatan usus yang dideritanya.

Sebelum meninggal, Putri menjadi perhatian publik setelah video evakuasinya beredar di media sosial pada Selasa (9/6/2026). Dalam video tersebut, sejumlah warga terlihat bergotong royong mengangkat Putri menggunakan tandu sederhana.

Warga harus melewati jalan setapak menuju titik yang bisa dilalui kendaraan roda empat. Evakuasi dengan tandu itu dilakukan karena ambulans tidak dapat menjangkau rumah Putri akibat kondisi akses jalan yang belum memadai.

Paman Putri, Syamsul, mengatakan keluarga mendapat kabar duka dari nenek Putri sesaat setelah keponakannya meninggal dunia. “Iye, ini kebetulan ponakan saya. Sudah lama dirawat di Rumah Sakit Wahidin Makassar.” kata Syamsul kepada Tribun-Timur.com lewat aplikasi perpesanan WhatsApp, Minggu (28/6/2026).

Syamsul menjelaskan, jenazah Putri akhirnya ditandu menggunakan sarung dan bambu sejauh sekitar dua kilometer. Rute yang dilalui warga tidak mudah karena melewati jembatan, jalan berbatu, dan sebagian jalan tanah.

“Jadi jenazah kami tandu menggunakan sarung dan bambu sejauh sekitar dua kilometer, melewati jembatan, jalan bebatuan, dan sebagian jalan tanah,” jelasnya.

Syamsul menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang telah mendoakan Putri sejak kisahnya viral di media sosial.

Ia mengaku berduka atas kepergian keponakannya, tetapi juga bersyukur karena banyak pihak memberikan perhatian kepada Putri. “Saya berduka, namun juga bersyukur dan berterima kasih kepada semua masyarakat luas dan keluarga yang sudah mendoakan ponakan saya,” katanya.

Tokoh pemuda Tonrong, Isra, menilai peristiwa yang dialami Putri menggambarkan buruknya kondisi infrastruktur jalan di wilayah tersebut. Menurut Isra, warga kembali harus menghadapi kenyataan pahit karena jenazah seorang anak tidak bisa langsung diantar ke rumah duka menggunakan kendaraan.

“Warga kembali harus menghadapi kenyataan pahit ketika jenazah seorang anak terpaksa ditandu karena kendaraan tidak dapat menjangkau rumah duka,” kata Isra.

Isra mengatakan akses jalan yang buruk tidak hanya menghambat aktivitas harian warga, tetapi juga menyulitkan saat kondisi darurat. “Kejadian ini menjadi cerminan bahwa akses jalan di wilayah kami masih sangat memprihatinkan,” ujar Isra.

Menurutnya, warga yang sakit kesulitan dibawa ke fasilitas kesehatan. Bahkan ketika sudah meninggal dunia, jenazah masih harus ditandu karena kendaraan tidak bisa masuk. “Saat warga sakit kesulitan dibawa ke rumah sakit, bahkan setelah meninggal dunia pun jenazah masih harus ditandu karena mobil tidak bisa masuk,” jelasnya.

Isra berharap Pemerintah Kabupaten Sinjai segera memberikan perhatian serius terhadap pembangunan infrastruktur jalan menuju Dusun Tonrong. Ia meminta perbaikan jalan dilakukan agar peristiwa serupa tidak terus dialami warga.

“Kami meminta pemerintah daerah segera memperbaiki jalan menuju Dusun Tonrong. Jangan sampai kejadian seperti ini terus berulang,” harap Isra.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kisah Ibu-ibu Pemindang Ikan Kusamba, 28 Tahun Kerja Cuma Libur Nyepi-Galungan

19 Oktober 2026 - 02:57 WITA

Muhammad Saidil, Bocah 9 Tahun Kayuh Sepeda 12 Km Demi Bawa Ayah Berobat ke RSUD Sigli

16 Oktober 2026 - 02:50 WITA

Cerita ABK KM Maulana Dianiaya, Dipukul hingga Disiram Air Panas

11 Oktober 2026 - 04:57 WITA

Presiden Prabowo: Pemerintah Tidak Menyerah dalam Membela Kebenaran, Keadilan dan Kepentingan Rakyat

7 Oktober 2026 - 03:23 WITA

SD Negeri Purwosari Sleman Sulap 600 Galon Bekas Jadi Kebun Sayur

2 Oktober 2026 - 07:16 WITA

Trending di Warta Utama