Warga Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur memanfaatkan lahan di Kampung Ciguntur, Desa Cipendawa untuk membuat perkebunan kopi jenis Arabika.
Hal ini dilakukan Engkus (65) karena menganggap kopi jenis Arabika berpotensi menjadi salah satu peluang bisnis yang menjanjikan.

Lahan seluas sekitar dua hektar dan berada di ketinggian lebih dari 1.400 meter di atas permukaan laut (mdpl), dinilai cocok untuk budidaya kopi arabika berkualitas. Engkus menanam lebih dari 7.000 pohon kopi yang kini mulai memasuki masa produksi.
“Dari awal penanaman sampai panen membutuhkan waktu sekitar tiga tahun, baru bisa panen pertama,” kata Engkus.
Kini, produksi kopi arabika yang ditanam Engkus mampu mencapai 40 hingga 50 kilogram per hari saat musim panen. Total hasil panen bahkan sudah menembus lebih dari tiga kuintal dan sebagian dipasarkan hingga Jakarta.
Engkus menjelaskan, kualitas kopi sangat dipengaruhi proses perawatan tanaman. Untuk menjaga kesuburan tanah dan kualitas buah, ia menggunakan pupuk kandang dari kotoran kambing serta rutin memangkas tunas air agar pohon tetap produktif.
“Perawatan menjadi kunci utama supaya hasil buah kopi bagus dan pohonnya tetap produktif,” jelasnya.
Meski begitu, petani kopi di kawasan pegunungan Cianjur masih menghadapi tantangan cuaca. Curah hujan tinggi kerap memengaruhi kualitas buah kopi, terutama saat proses pematangan hingga pengeringan.
Untuk menjaga nilai jual, sebagian besar hasil panen dipasarkan dalam bentuk kopi kering. Harga kopi kering saat ini berkisar Rp80 ribu per kilogram dan bisa mencapai Rp140 ribu per kilogram ketika pasokan terbatas. Sedangkan kopi basah dijual sekitar Rp17 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram.
Selain memberi dampak ekonomi, keberadaan perkebunan kopi arabika juga dinilai membantu menjaga lingkungan. Tanaman kopi mampu menahan erosi serta meningkatkan daya serap air di kawasan lereng pegunungan.
“Kopi ini bagus untuk menahan erosi dan menjadi penahan air,” kata Engkus.
Pengembangan kebun kopi tersebut turut membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar. Sedikitnya empat pekerja rutin dilibatkan dalam proses perawatan hingga panen.
Melihat potensi itu, Engkus berharap semakin banyak masyarakat memanfaatkan lahan tidak produktif untuk pengembangan kopi arabika di Cianjur.
“Kalau dikelola dengan baik, kopi bukan hanya menghasilkan ekonomi, tetapi juga menjaga alam,” tukasnya.
****









