Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) memperkuat kesiapsiagaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berbasis teknologi melalui pemasangan sensor kebakaran di tujuh kawasan delineasi IKN dalam menghadapi El Nino di musim kemarau tahun ini.
“Selain melakukan mitigasi karhutla berbasis teknologi, kami juga melakukan penguatan infrastruktur pemadaman kebakaran hingga berkolaborasi dengan masyarakat dan lintas pemangku kepentingan,” ujar Staf Khusus Kepala OIKN Bidang Komunikasi Publik Troy Pantouw di Nusantara, Kamis.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan pembangunan dan aktivitas masyarakat di Nusantara tetap berjalan aman dan berkelanjutan di tengah potensi cuaca ekstrem berupa musim kemarau tahun ini.
Berdasarkan data paparan BMKG, lanjutnya, El Nino akan berdampak pada musim kemarau yang dapat berlangsung lebih kering dan panjang sehingga perlu diantisipasi karena berpotensi meningkatkan risiko kekeringan dan karhutla.
“Paparan BMKG pada April 2026 menyatakan, sifat musim kemarau di IKN tahun 2026 sebagian besar bawah normal yang artinya curah hujan saat musim kemarau diperkirakan lebih sedikit dari rata-rata normal, sehingga kondisi cenderung lebih kering dan potensi kekeringan atau karhutla bisa meningkat,” katanya.
Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 dengan curah hujan rendah berkisar 0–20 mm. Sementara itu, sepanjang 2026 terdapat beberapa titik panas yang terkonsentrasi di wilayah Sepaku, Samboja, Muara Jawa, dan sekitar Mentawir.
Mengantisipasi kondisi tersebut, OIKN telah menggagas strategi pengendalian karhutla mulai dari tahap pencegahan, kesiapsiagaan dan deteksi dini, pemadaman, hingga penanganan pascakebakaran.
Pada tahap pencegahan, pihaknya menyiapkan regulasi dan standar operasional prosedur (SOP) penanganan karhutla, meningkatkan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, memperluas penyampaian informasi melalui kegiatan keagamaan seperti dakwah, serta memperkuat pengawasan di kawasan rawan kebakaran.
Pada tahap kesiapsiagaan dan deteksi dini, OIKN mengoptimalkan pemanfaatan teknologi melalui pemasangan sensor kebakaran hutan di tujuh kawasan delineasi IKN yang memiliki potensi karhutla.
“Pemantauan dilakukan secara langsung melalui Command Center OIKN yang terintegrasi dengan sistem panggilan darurat dan panic button, guna mempercepat respons penanganan,” kata Troy.
****









