Mulai dari alat pengasapan ikan yang praktis dan terjangkat jadi solusi bagi pembudidaya tanpa freezer hingga inovasi pakan bioflok yang bisa mempercepat masa panen dan lebih hemat biaya. Bahkan, berbagai produk olahan ikan juga berpotensi masuk ke dapur MBG dan memperluas pasar.
Namun di balik potensi besar ini, masih ada tantangan serius. Indonesia saat ini baru memiliki kurang dari 4 ribu penyuluh perikanan, padahal idealnya dibutuhkan sekitar 12 ribu untuk menjangkau seluruh wilayah.

Komisi IV DPR RI pun mendorong agar inovasi-inovasi ini diperbanyak dan didukung dengan penambahan penyuluh, demi meningkatkan kesejahteraan pembudidaya dan nelayan di seluruh Indonesia.
Kunjungan yang dipimpin Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto (Titiek Soeharto), tersebut meninjau langsung berbagai produk olahan berbahan ikan air tawar serta inovasi yang dikembangkan balai riset.
Dalam diskusi bersama masyarakat dan pemangku kepentingan, Siti Hediati Soeharto menyampaikan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk mengetahui berbagai inovasi yang telah dikembangkan serta mengidentifikasi kendala yang dihadapi masyarakat di sektor perikanan.
Dalam pameran yang digelar, ditampilkan beragam produk olahan ikan air tawar yang berpotensi dipasarkan dan dimanfaatkan untuk mendukung dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Selain itu, diperkenalkan inovasi teknologi pengasapan ikan yang mampu memperpanjang masa simpan tanpa ketergantungan pada freezer, sehingga memudahkan proses distribusi dan pemasaran.
“Inovasi ini sangat membantu masyarakat. Kami minta agar alat ini dapat diperbanyak dan diberikan sebagai bantuan kepada para pembudidaya ikan,” ujar Siti Hediati Soeharto.
Selain itu, Komisi IV DPR RI juga menyoroti keterbatasan tenaga penyuluh perikanan yang saat ini berjumlah sekitar 4.000 orang, dari kebutuhan ideal sekitar 12.000 orang di seluruh Indonesia. Untuk itu, pihaknya akan mendorong kementerian terkait meningkatkan jumlah tenaga penyuluh guna mendukung para pembudidaya dan nelayan.
****









