Menu ✖

Mode Gelap
Presiden Prabowo Sambut Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang TNI AL Amankan Tugboat Pembawa Ribuan Kubik Kayu Log di Perairan Utara Pulau Buru Kisah Ibu-ibu Pemindang Ikan Kusamba, 28 Tahun Kerja Cuma Libur Nyepi-Galungan KPK Evaluasi Alasan Nusron Wahid Mangkir Sebelum Terbitkan Surat Perintah Membawa DPD RI Desak Menag Perkuat Pengawasan Anak Lindungi dari Kekerasan Seksual Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

Warta Utama

Menghakimi Anak Berdampak Buruk pada Kesehatan Mental

badge-check


					Menghakimi Anak Berdampak Buruk pada Kesehatan Mental Perbesar

Menghakimi anak termasuk sikap pengasuhan yang perlu dihindari orang tua. Sikap ini dapat menghambat perkembangan emosi dan kemampuan berpikir anak yang masih dalam tahap tumbuh kembang.

Psikolog Serena Psikologi, Rensi, mengatakan perilaku menghakimi anak dapat menyebabkan berbagai dampak buruk, salah satunya membuat hubungan anak dan orang tua menjadi renggang. Menurutnya, anak yang sering dihakimi cenderung menarik diri dan enggan terbuka kepada orang tua.

“Pertama jelas relasinya terhadap orang tua. Sudah pasti kalau yang menghakiminya kan adalah si orang tua, ya otomatis kan dari segi relasinya hubungannya dengan orang tua renggang,” katanya, saat menjadi narasumber program Zona Edukasi di Pro 1 RRI Palangka Raya, Kamis, 19 Februari 2026.

Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak Provinsi Kalimantan Tengah, Widiya Kumala, mengatakan, jika hal ini dilakukan terus-menerus, anak dapat mengalami stres yang berisiko pada perilaku menyakiti diri sendiri. Tekanan emosional yang berulang membuat anak merasa tidak memiliki ruang aman untuk bercerita dan mencari bantuan.

“Anak berada pada posisi yang salah sehingga dia tidak punya jalan atau dia tidak punya bantuan untuk keluar dari permasalahannya itu. Belum lagi ketika dibandingkan, akhirnya anak bisa menjadi korban ya itu tadi bisa sampai yang self harm,” katanya.

Perilaku self harm dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti menyakiti diri sendiri atau menolak makan dalam waktu lama. Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan batin yang serius dan membutuhkan perhatian serta pendampingan yang tepat.

Karena itu, orang tua diharapkan membangun komunikasi yang terbuka dan tidak menghakimi. Pendekatan yang penuh empati akan membantu anak merasa aman, dihargai, dan lebih percaya untuk berbagi cerita.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kisah Ibu-ibu Pemindang Ikan Kusamba, 28 Tahun Kerja Cuma Libur Nyepi-Galungan

19 Oktober 2026 - 02:57 WITA

Muhammad Saidil, Bocah 9 Tahun Kayuh Sepeda 12 Km Demi Bawa Ayah Berobat ke RSUD Sigli

16 Oktober 2026 - 02:50 WITA

Cerita ABK KM Maulana Dianiaya, Dipukul hingga Disiram Air Panas

11 Oktober 2026 - 04:57 WITA

Presiden Prabowo: Pemerintah Tidak Menyerah dalam Membela Kebenaran, Keadilan dan Kepentingan Rakyat

7 Oktober 2026 - 03:23 WITA

SD Negeri Purwosari Sleman Sulap 600 Galon Bekas Jadi Kebun Sayur

2 Oktober 2026 - 07:16 WITA

Trending di Warta Utama