Menu

Mode Gelap
Lima Sila Pancasila Jadi Filosofi Pembangunan Gedung Mahkamah Agung di IKN Anggaran Kementerian di Kanwil Kemenag Kalteng dan Universitas Palangkaraya Terindikasi Dikorupsi Dari Tambling, Titiek Soeharto Dorong Kolaborasi Sains dan Alam untuk Konservasi Masa Depan Mutasi Polri Agustus 2026, Kapolda dan Wakapoda Sulut serta Sejumlah Pejabat Utama Pindah Tugas hingga Promosi Jabatan Baru Berusia 11 Tahun, Mikhayla Shanum Caya Jadi Kontingen Indonesia Termuda Asian Games 2026, Targetkan Medali Kejagung Tampilkan Uang Sitaan Rp401 Miliar Kasus Nikel PT CNI

Warta Utama

Menghakimi Anak Berdampak Buruk pada Kesehatan Mental

badge-check


					Menghakimi Anak Berdampak Buruk pada Kesehatan Mental Perbesar

Menghakimi anak termasuk sikap pengasuhan yang perlu dihindari orang tua. Sikap ini dapat menghambat perkembangan emosi dan kemampuan berpikir anak yang masih dalam tahap tumbuh kembang.

Psikolog Serena Psikologi, Rensi, mengatakan perilaku menghakimi anak dapat menyebabkan berbagai dampak buruk, salah satunya membuat hubungan anak dan orang tua menjadi renggang. Menurutnya, anak yang sering dihakimi cenderung menarik diri dan enggan terbuka kepada orang tua.

“Pertama jelas relasinya terhadap orang tua. Sudah pasti kalau yang menghakiminya kan adalah si orang tua, ya otomatis kan dari segi relasinya hubungannya dengan orang tua renggang,” katanya, saat menjadi narasumber program Zona Edukasi di Pro 1 RRI Palangka Raya, Kamis, 19 Februari 2026.

Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak Provinsi Kalimantan Tengah, Widiya Kumala, mengatakan, jika hal ini dilakukan terus-menerus, anak dapat mengalami stres yang berisiko pada perilaku menyakiti diri sendiri. Tekanan emosional yang berulang membuat anak merasa tidak memiliki ruang aman untuk bercerita dan mencari bantuan.

“Anak berada pada posisi yang salah sehingga dia tidak punya jalan atau dia tidak punya bantuan untuk keluar dari permasalahannya itu. Belum lagi ketika dibandingkan, akhirnya anak bisa menjadi korban ya itu tadi bisa sampai yang self harm,” katanya.

Perilaku self harm dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti menyakiti diri sendiri atau menolak makan dalam waktu lama. Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan batin yang serius dan membutuhkan perhatian serta pendampingan yang tepat.

Karena itu, orang tua diharapkan membangun komunikasi yang terbuka dan tidak menghakimi. Pendekatan yang penuh empati akan membantu anak merasa aman, dihargai, dan lebih percaya untuk berbagi cerita.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Desil dan Dilema Bantuan Sosial: Ketika Data Tak Sesuai Kondisi Warga

26 Agustus 2026 - 05:54 WITA

Presiden Prabowo: Tingkatkan Layanan Dasar bagi Rakyat dari Puskesmas hingga Sekolah, Tak Boleh Ada Anak Belajar dalam Keadaan Lapar

14 Agustus 2026 - 11:13 WITA

Kisah Munawi di Lereng Bromo, Merangkak di Tebing dan Mengejar Api hingga Larut Malam

8 Agustus 2026 - 12:10 WITA

Dari Mimpi Gaji Puluhan Juta ke Neraka Scam, Kisah Pekerja Migran di Sumut Jadi Korban TPPO

5 Agustus 2026 - 04:18 WITA

Akad Massal 62.000 KPR, Presiden Prabowo Pastikan Pemerintah Terus Hadirkan Hasil Nyata bagi Rakyat

31 Juli 2026 - 05:21 WITA

Trending di Warta Utama