Menu

Mode Gelap
Wamen Imipas Silmy Karim dan 7 Pejabat Imigrasi Ditahan KPK Kodaeral IX-Wanadri ekspedisi selam di Pulau Buru jaga ekosistem laut Titi DJ Buka Suara Usai Sebut Ada yang Lebih Bagus Nyanyikan ‘Sang Dewi’ dari Lyodra Puskesmas Tebing Tinggi Hadirkan Inovasi Cegah Penyakit Menular 3 Eks Pimpinan Lembaga BGN Ditetapkan Jadi Tersangka Terkait Perkara Penyimpangan Tata Kelola MBG Dari Ruang Kelas SMPN 111 Jakarta, Cita-Cita Besar Menggema di Hadapan Presiden Prabowo

Warta Utama

Menghakimi Anak Berdampak Buruk pada Kesehatan Mental

badge-check


					Menghakimi Anak Berdampak Buruk pada Kesehatan Mental Perbesar

Menghakimi anak termasuk sikap pengasuhan yang perlu dihindari orang tua. Sikap ini dapat menghambat perkembangan emosi dan kemampuan berpikir anak yang masih dalam tahap tumbuh kembang.

Psikolog Serena Psikologi, Rensi, mengatakan perilaku menghakimi anak dapat menyebabkan berbagai dampak buruk, salah satunya membuat hubungan anak dan orang tua menjadi renggang. Menurutnya, anak yang sering dihakimi cenderung menarik diri dan enggan terbuka kepada orang tua.

“Pertama jelas relasinya terhadap orang tua. Sudah pasti kalau yang menghakiminya kan adalah si orang tua, ya otomatis kan dari segi relasinya hubungannya dengan orang tua renggang,” katanya, saat menjadi narasumber program Zona Edukasi di Pro 1 RRI Palangka Raya, Kamis, 19 Februari 2026.

Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak Provinsi Kalimantan Tengah, Widiya Kumala, mengatakan, jika hal ini dilakukan terus-menerus, anak dapat mengalami stres yang berisiko pada perilaku menyakiti diri sendiri. Tekanan emosional yang berulang membuat anak merasa tidak memiliki ruang aman untuk bercerita dan mencari bantuan.

“Anak berada pada posisi yang salah sehingga dia tidak punya jalan atau dia tidak punya bantuan untuk keluar dari permasalahannya itu. Belum lagi ketika dibandingkan, akhirnya anak bisa menjadi korban ya itu tadi bisa sampai yang self harm,” katanya.

Perilaku self harm dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti menyakiti diri sendiri atau menolak makan dalam waktu lama. Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan batin yang serius dan membutuhkan perhatian serta pendampingan yang tepat.

Karena itu, orang tua diharapkan membangun komunikasi yang terbuka dan tidak menghakimi. Pendekatan yang penuh empati akan membantu anak merasa aman, dihargai, dan lebih percaya untuk berbagi cerita.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dari Ruang Kelas SMPN 111 Jakarta, Cita-Cita Besar Menggema di Hadapan Presiden Prabowo

3 Juni 2026 - 06:34 WITA

Alumnus Unair Berkarier Jadi Marine Biologist di Maldives

30 Mei 2026 - 01:39 WITA

Kisah Mauliyan dan Ariandi, Orangutan Kurus yang Bertahan di Tengah Krisis Habitat

29 Mei 2026 - 06:36 WITA

Kakek Mujiran di Lampung Ambil Sisa Getah di Kebun PTPN Berujung Dipenjara

25 Mei 2026 - 06:32 WITA

Perjuangan Suami Merawat Istri yang Mengidap Tuberkulosis Tulang

22 Mei 2026 - 07:14 WITA

Trending di Warta Utama