Menu

Mode Gelap
Paus Leo XIV Kunjungi Guinea Khatulistiwa, Serukan Perdamaian Dunia Delapan ASN Kemenaker terbukti peras 20 perusahaan izin TKA Rp130 M MPR: Komitmen bersama dibutuhkan demi wujudkan semangat Kartini Residivis Bandar Narkoba di Pangkalpinang Ditangkap, Polisi Sita 2 Kg Sabu Dianggap Hama di RI, Ikan Sapu-sapu Justru Kuliner Favorit Amazon Hasil Pemeriksaan BPK 2025: Soroti Menko Pangan-Menteri Kesehatan

Serba Serbi

Kisah Inspiratif Perjalanan Sunyi Anak Tunarungu Hingga Menjadi Psikologi

badge-check


					Kisah Inspiratif Perjalanan Sunyi Anak Tunarungu Hingga Menjadi Psikologi Perbesar

Sri Andiani lulus sebagai Magister Profesi Psikologi dengan predikat cum laude Universitas Surabaya. Setiap pagi, ketika mata Sri Andiani terbuka, dunia tidak langsung menyapanya dengan bunyi.

Tiga puluh tahun lalu, Dian, sapaan akrab Sri Andiani, lahir dengan gangguan pendengaran berat. Di masa itu, teknologi alat bantu dengar (ABD) belum secanggih hari ini.

Dian didiagnosis mengalami tunarungu berat pada usia 1,5 tahun. Ia mulai menggunakan ABD, namun bunyi tetap terasa jauh. Perkembangan bicara dan bahasanya berjalan lambat.

Hingga pada usia tiga tahun, sebuah keputusan besar diambil Sinta Nursimah dan Sri Gutomo, orang tua Dian, yakni pemasangan implan koklea, alat bantu dengar yang ditanam melalui operasi untuk menggantikan fungsi rumah siput di telinga bagian dalam.

Implan itu membuka akses pada suara, tetapi bukan keajaiban instan. “Alat hanya pintu masuk,” demikian keyakinan Sri Gutomo, sang ayah yang praktisi audiogram. Sejak saat itu, rumah menjadi ruang terapi tanpa jam istirahat.

Sejak bangun tidur hingga menjelang malam, Dian diperkenalkan pada kata demi kata. Pagi diceritakan sebagai pagi, sabun dikenalkan sebagai sabun, handuk sebagai handuk. Kata-kata sederhana itu diulang tanpa lelah. Dunia bunyi dibangun perlahan, setahap demi setahap.

Tak selalu mudah. Ada hari-hari ketika Dian menolak, menangis, atau memilih menyendiri. Ia masih anak kecil, dengan naluri bermain yang kuat. Maka belajar pun diubah menjadi permainan. Menggunting, menggambar, menempel. Bahasa hadir di sela-sela tawa dan kesabaran.

“Ini gambar sabun,”
“Sekarang gunting botol sampo,”
“Tempel di kertas.”
Demikian terapi yang dilakukan Sinta Nursimah pada buah hatinya, Dian.

Kalimat-kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun diulang ribuan kali, setiap hari, selama bertahun-tahun. Waktu berjalan pelan, hasil pun tak datang seketika. Tetapi sedikit demi sedikit, Dian mulai memahami kata, lalu makna.

Ketika usia sekolah tiba, tantangan baru muncul. Dua puluh tahun lalu, sekolah inklusi belum menjadi istilah yang lazim seperti sekarang. Dari satu sekolah ke sekolah lain, pintu tertutup lebih sering ditemuinya. Hingga akhirnya, sebuah sekolah membuka ruang, bukan hanya menerima, tetapi mau belajar bersama Dian sebagai anak berkebutuhan khusus tunarungu.

Dian menempuh SD hingga SMP di sekolah itu. Di sanalah ia belajar bukan hanya pelajaran, tetapi juga keberanian. Lingkungan belum selalu ramah, namun satu pesan terus dipegangnya yakni jangan menyerah.

Keyakinan itu menemukan momentumnya saat Dian duduk di bangku SMP. Ia menjuarai lomba menulis tingkat nasional yang diselenggarakan WHO dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Dian menjadi satu-satunya peserta penyandang disabilitas di antara para finalis.

Prestasi itu bukan sekadar piala. Ia adalah pernyataan pada dunia bahwa potensi tidak ditentukan oleh kemampuan mendengar.

Langkah Dian tak berhenti di sana. Menjelang kelulusan SMA, ia kembali mencatat prestasi sebagai Juara 1 Olimpiade Biologi Tingkat Nasional. Sebuah capaian yang semakin mengukuhkan jalannya di dunia akademik.

Dian kemudian menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi, Universitas Surabaya, bekerja di biro psikologi industri, dan kembali melanjutkan studi pascasarjana. September 2025 menjadi penanda penting, ia lulus sebagai Magister Profesi Psikologi dengan predikat cum laude dari perguruan tinggi yang sama.

Perjalanan itu penuh air mata dan doa. Sunyi yang dulu membatasi, kini menjadi ruang empati yang menguatkan pilihannya sebagai psikolog.

“Intervensi dini, pendampingan intensif, dan kepercayaan yang tak pernah putus membawanya sampai titik sukses akademiknya,” kata Sinta Nursimah, yang dikenal sebagai pendiri Yayasan Aurica di tahun 1999, yang semula hanya perkumpulan kecil orang tua yang anaknya mengalami gangguan pendengaran.

Kini, Dian telah menjadi bagian dari masyarakat profesional. Namun di luar sana, masih banyak anak tunarungu yang belum mendapatkan kesempatan serupa. Masih banyak keluarga yang belum tahu bahwa sunyi bukan akhir dari segalanya.

Kisah Dian mengingatkan kita bahwa suara bisa datang dari mana saja. Dari kesabaran, dari ketekunan, dari keyakinan. Dan bahwa setiap anak, apa pun kondisinya, berhak didengar mimpinya untuk tampil sebagai sesama yang setara.

Yayasan Aurica kini tumbuh perlahan tapi pasti. Perkumpulan itu berkembang menjadi lembaga pendidikan inklusi PAUD dan PG-TK di Jalan Bendul Merisi Utara VIII/8, Surabaya.

Sebuah sekolah kecil sekaligus memberikan layanan terapi bagi anak tunarungu. Hingga kini, tercatat telah menangani 497 anak tunarungu dari berbagai daerah Indonesia.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dianggap Hama di RI, Ikan Sapu-sapu Justru Kuliner Favorit Amazon

23 April 2026 - 03:29 WITA

AFC Women’s Football Day 2026 di Nusantara, Tumbuhkan Semangat Sepak Bola Putri Sejak Dini

22 April 2026 - 07:37 WITA

Modal Rp100 Ribu, 10 Ibu Rumah Tangga Ini Sekarang Produksi 600 Botol Sehari

21 April 2026 - 05:54 WITA

Panjat tebing jadikan Asian Beach Games pemanasan ke Asian Games 2026

21 April 2026 - 05:47 WITA

Pecahkan Rekor MURI, TMII Tampilkan 1.000 Penari dari 34 Provinsi

20 April 2026 - 10:18 WITA

Trending di Serba Serbi