Menu ✖

Mode Gelap
Geledah PT Djarum dan Bea Cukai Kudus, KPK Sita Dokumen hingga BBE Dasco: Semangat Sumpah Pemuda, Fondasi Hadapi Kompleksitas Global dan Regional Desy Ratnasari Kuras Emosi Perankan Ibu Hamka, Tantangan di Logat Minang Kadivhumas Polri: Kebebasan Berpendapat Dijamin Undang-Undang, Mari Jaga Keamanan Bersama APH Didesak Usut Tuntas Dugaan Penyalahgunaan Anggaran TA 2025 di DPUPRPERKIM Bartim Sekjen PBB Soroti Konflik hingga Krisis Iklim, Minta Negara Perkuat Kerja Sama

Serba Serbi

Inovasi Hijau dari Politeknik Negeri Manado: Sampah Jadi Ornamen Wisata”

badge-check


					Inovasi Hijau dari Politeknik Negeri Manado: Sampah Jadi Ornamen Wisata” Perbesar

Sebuah terobosan penting dalam pengelolaan sampah plastik sekaligus pengembangan pariwisata berkelanjutan resmi diluncurkan hari ini di Kampus Politeknik Negeri Manado, Kamis (11/09/2025).

Tim dosen dan mahasiswa dari Laboratorium Praktek Teknik Mesin kampus tersebut berhasil mengembangkan mesin pencacah plastik bertenaga surya dengan kapasitas produksi lebih besar dan hasil yang lebih optimal.

Riset ini dipimpin oleh Stevie Kaligis, dengan anggota tim Steven Runtuwene, Yolanda Lagarance, Maikel Wala, dan Dimas.

Penelitian mereka mendapat dukungan dari program Katalisator Kemitraan Berdikari Skema Emas, yang digawangi Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Ditjen Sains dan Teknologi, Kemendiktisaintek.

Mesin pencacah plastik berbasis tenaga surya ini dirancang untuk menjawab tantangan besar: sampah plastik yang sulit terurai, sekaligus mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan yang lebih ramah lingkungan.

Hasil cacahan plastik dari mesin ini akan diolah menjadi ecobrick, yang kemudian dimanfaatkan sebagai ornamen dalam paket wisata berbasis potensi alam di Desa Sarawet, Kecamatan Likupang Timur, Minahasa Utara.

“Mesin ini kami kembangkan untuk menjawab dua isu sekaligus: pengelolaan sampah plastik dan inovasi dalam pariwisata. Lewat pemanfaatan energi surya, kami juga ingin menekankan pentingnya pemberdayaan masyarakat,” ujar Stevie Kaligis, ketua tim peneliti.

Dalam pelaksanaannya, tim menggandeng bank sampah sebagai mitra utama dalam pengumpulan plastik. Kolaborasi ini memungkinkan masyarakat berperan aktif dalam pengurangan sampah sekaligus mendukung geliat pariwisata desa.

Hadirnya teknologi ini diharapkan menjadikan Desa Sarawet sebagai model pengembangan wisata hijau di Minahasa Utara.

Proyek ini membawa dampak ganda: solusi konkret atas persoalan sampah plastik, serta peningkatan daya tarik wisata berbasis komunitas dan lingkungan.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Presiden Prabowo Instruksikan BRIN Percepat Riset Vaksin Malaria RI

28 Oktober 2026 - 04:07 WITA

Dari Minahasa hingga Papua, Budaya Daerah Tampil di Festival Indonesia 2026

26 Oktober 2026 - 10:25 WITA

Lebihi Target di Asian Para Games 2026, Kontingen Indonesia Siap Tatap ASEAN Para Games 2027 dan Paralimpiade 2028

24 Oktober 2026 - 09:56 WITA

BMKG: Keindahan Hunter’s Moon pada 26 Oktober 2026

23 Oktober 2026 - 04:17 WITA

Lestarikan Budaya, PORTINA Sulut Latih Pelatih Olahraga Tradisional

21 Oktober 2026 - 02:27 WITA

Trending di Serba Serbi