Menu

Mode Gelap
Pemda Buru dan Pemilik Lahan Sepakat Akhiri Konflik Warga Peduli Kesehatan Warga Pedalaman, Satgas Banau Jemput Bola Tindaklanjuti Arahan Presiden Prabowo, Kapolri Resmikan 19 Jembatan Merah Putih Presisi Crane Proyek Kereta Cepat Roboh, Sedikitnya 22 Orang Tewas Sisa Kuota Internet Hangus, Dua Warga Wadul MK Kisah Inspiratif: Penjual Es Kelapa Daftarkan 24 Keluarga untuk Haji

Serba Serbi

Terkuak, Tradisi Pengobatan Sakral dan Unik Dayak Golik, Diwariskan Lewat Mimpi

badge-check


					Terkuak, Tradisi Pengobatan Sakral dan Unik Dayak Golik, Diwariskan Lewat Mimpi Perbesar

Peneliti dari Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas (PR BSK) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dwi Wahyuni, mengungkapkan tentang tradisi sakral dan unik Suku Dayak Golik. Kemampuan pengobatan diwariskan lewat mimpi atau ilham.

Suku Dayak Golik berada di perbatasan Indonesia-Malaysia, Kecamatan Beduai, Entikong, dan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Suku itu masih menggenggam erat warisan leluhur, termasuk dalam pengobatan tradisional. Mereka mengandalkan tanaman hutan untuk pengobatan.

Dwi mengatakan kesimpulan itu didapatkan melalui penelitian dan diungkap dalam webinar bertajuk “Eksplorasi Bahasa dan Sastra dalam Etnomedisin Masyarakat Etnik di Perbatasan”.

Pada tahun pertama penelitian, Dwi dan tim mencatat ada 82 jenis tanaman obat dan 38 tanaman rempah yang digunakan oleh Suku Dayak Golik. Tanaman obat dan rempah itu banyak digunakan untuk perawatan kesehatan reproduksi perempuan.

“Tanaman seperti jahe, kencur, lengkuas, sirih, kemiri, kunyit, dan berbagai jenis dedaunan lokal digunakan dalam berbagai bentuk ramuan, baik untuk diminum, dilulurkan, ataupun sebagai campuran air mandi,” kata Dwi dilansir BRIN, Minggu (31/8/2025).

Yang spesial, pengobatan itu tidak hanya mengandalkan tanaman obat dan rempah, namun kental ldengan aspek spiritual dan sudah diturunkan dari generasi sebelumnya. Praktik pengobatan itu eksklusif karena sistem pewarisan ilmu yang sangat tertutup, tidak semua orang bisa mempelajari atau mewarisinya.

“Ada sistem pewarisan yang sangat tertutup. Pengetahuan ini dianggap sakral dan tidak bisa sembarangan diajarkan kepada orang lain,” ujar Dwi.

Dwi menemukan bahwa budaya itu tidak serta-merta diturunkan, namun hanya orang tertentu saja yang menerima mimpi/ilham yang dapat mewarisi.

“Sistem pewarisan ini masih secara lisan, belum terdokumentasi secara ilmiah. Nah, di sini, peran kita sebagai peneliti untuk mendokumentasikan itu!” kata Dwi.

Sayangnya, di tengah arus modernisasi, generasi muda mulai meninggalkan tradisi itu. Dwi mengaku khawatir jika pengetahuan langka ini hilang sebelum sempat terdokumentasi secara ilmiah.

“Generasi muda semakin sedikit yang tertarik mempelajari pengobatan tradisional. Jika tidak segera didokumentasikan, pengetahuan ini bisa hilang ditelan zaman,” katanya.

BRIN melalui riset ini berharap bisa mendukung pelestarian warisan lokal. Khususnya di wilayah-wilayah yang sering luput dari radar kebijakan nasional.

Penelitian itu diyakini bisa membuka peluang kolaborasi lintas disiplin, mulai dari ilmu kebahasaan, botani, farmasi, hingga antropologi.

Dia praktik etnomedisin itu tak hanya dikenang sebagai bagian dari masa lalu, tapi juga berkontribusi pada masa depan kesehatan Indonesia.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kisah Inspiratif: Penjual Es Kelapa Daftarkan 24 Keluarga untuk Haji

14 Januari 2026 - 02:32 WITA

Dua Mahasiswi Ini, Sulap Barang Bekas Jadi Seni Estetik

10 Januari 2026 - 05:11 WITA

Mengulas Setahun Kepemimpinan YSK – Victory di Bumi Nyiur Melambai

8 Januari 2026 - 10:05 WITA

Kemenkebud hadirkan program buat perkuat desa sebagai pondasi budaya

7 Januari 2026 - 05:47 WITA

Cara Membangun Bisnis Tanpa Utang yang Tahan Krisis

6 Januari 2026 - 04:07 WITA

Trending di Serba Serbi