Menu

Mode Gelap
Selat Hormuz, Selat Strategis Titik Perekonomian Dunia Dukung Pemberdayaan Nelayan, Danlanal Yogyakarta Hadiri Kunker Ketua Komisi IV DPR-RI Ketika Pemkab Bulungan Bersolek, Eks Pasar Ikan Kini Jadi Food Court Kemenlu RI Pastikan Koordinasi Intensif Pelindungan WNI di Timur Tengah Jalan Rusak dan Anak Putus Sekolah, Pengalaman Pahit Warga 2 Kampung di Polman Pemerintah perkuat peran generasi muda melalui Mangrove Goes To School

Warta Utama

Siswa SD di NTT Diduga Bunuh Diri karena Tak Mampu Beli Buku dan Pena

badge-check


					Siswa SD di NTT Diduga Bunuh Diri karena Tak Mampu Beli Buku dan Pena Perbesar

Menteri Sosial atau Mensos Saifullah Yusuf menanggapi terkait insiden tragis seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga mengakhiri hidupnya karena tak mampu beli buku dan pena.

Saifullah merasa prihatin dan menyampaikan duka cita. Ia mengatakan kejadian tersebut harus menjadi atensi bersama, termasuk pemerintah pusat maupun daerah.

“Tentu kita prihatin dulu ya, turut berduka. Yang kedua, tentu ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama, ya tentu bersama pemerintah daerah,” katanya, Selasa (3/2/2026).

Lebih lanjut, Gus Ipul itu menekankan pentingnya pendampingan dan penguatan data terhadap keluarga yang terbilang tidak mampu.

“Kita harus memperkuat pendampingan, kita harus memperkuat data kita, ya kita harapkan tidak ada yang tidak terdata,” ucapnya.

Menurut Gus Ipul, penguatan data penting untuk menjangkau seluruh keluarga di Indonesia, termasuk keluarga-keluarga yang berada di kategori miskin ekstrem dan kategori miskin.

Menurut Gus Ipul, penguatan data penting untuk menjangkau seluruh keluarga di Indonesia, termasuk keluarga-keluarga yang berada di kategori miskin ekstrem dan kategori miskin.

Ia pun kembali menyampaikan peristiwa meninggalnya anak SD diduga bunuh diri di NTT tersebut harus menjadi perhatian bersama.

“Ini hal yang sangat penting saya kira kembali kepada data, bagaimana data ini kita saksikan sebaik mungkin sehingga kita bisa menjangkau seluruh keluarga-keluarga yang memang memerlukan perlindungan, memerlukan rehabilitasi dan memerlukan pemberdayaan,” ujarnya.

“Ya, jadi itu sampai disitu dulu dan ini sungguh-sungguh menjadi perhatian bersama.”

Diberitakan, seorang siswa SD berusia 10 tahun di Ngada, NTT, diduga mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli buku dan pena.

Sebelum mengakhiri hidup, bocah SD itu sempat meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya. Dalam surat tersebut, tertulis ungkapan perpisahan kepada sang ibu.

Korban tersebut diketahui tinggal bersama neneknya karena ibunya merupakan orang tua tunggal yang bekerja sebagai petani dan kerja serabutan. Ibu korban mengurusi lima anak, termasuk korban yang telah meninggal dunia.

Disclaimer:

Artikel ini tidak bertujuan untuk mempromosikan perilaku bunuh diri.

Apabila Anda saat ini mengalami depresi atau keinginan bunuh diri, jangan putus asa.

Depresi dan gangguan kejiwaan dapat pulih dengan bantuan profesional kesehatan mental.

Temukan informasi mengenai bagaimana menjaga kesehatan mental dan menghubungi layanan profesional di laman Pencegahan Bunuh Diri Into The Light Indonesia di www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Jalan Rusak dan Anak Putus Sekolah, Pengalaman Pahit Warga 2 Kampung di Polman

1 Maret 2026 - 09:55 WITA

Ko Erwin Bandar Narkoba Ditangkap Saat Hendak Kabur ke Malaysia

27 Februari 2026 - 11:35 WITA

Momen Bahagia Ketika Si Kembar Tunarungu Sukses Dapat Kerja

25 Februari 2026 - 13:05 WITA

KDM Puji Suster Ika Selamatkan 13 Korban TPPO Asal Jabar di Maumere

23 Februari 2026 - 08:58 WITA

Menghakimi Anak Berdampak Buruk pada Kesehatan Mental

21 Februari 2026 - 05:48 WITA

Trending di Warta Utama