Menu ✖

Mode Gelap
Presiden Prabowo Sambut Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang TNI AL Amankan Tugboat Pembawa Ribuan Kubik Kayu Log di Perairan Utara Pulau Buru Kisah Ibu-ibu Pemindang Ikan Kusamba, 28 Tahun Kerja Cuma Libur Nyepi-Galungan KPK Evaluasi Alasan Nusron Wahid Mangkir Sebelum Terbitkan Surat Perintah Membawa DPD RI Desak Menag Perkuat Pengawasan Anak Lindungi dari Kekerasan Seksual Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

Warta Utama

Kisah Srikandi Maritim, Berjuang di Laut demi Menjaga Urat Nadi Logistik Nasional

badge-check


					Kisah Srikandi Maritim, Berjuang di Laut demi Menjaga Urat Nadi Logistik Nasional Perbesar

Siti Patmawati (34) menggenggam tangga tali kapal yang mengangkut batu bara. Helm, jaket pelampung, sarung tangan, dan sepatu keselamatan melekat di tubuhnya. Siti menaiki satu per satu anak tangga. Di titik pilot on board (POB) yang berjarak sekitar 2 mill dari bibir Pantai Cirebon, Siti bergelantungan, diterpa angin laut, dan harus tiba di anjungan kapal dengan selamat.

Tugas berat itu dijalani Siti tak kenal waktu. Pada siang dan malam, cerah maupun hujan, hingga beragam cuaca buruk di lautan telah dilalui. Setiap ada panggilan tugas, dia langsung berangkat menemui kapal kargo raksasa di titik POB. Siti tak pernah gentar.

Baginya, memandu kapal yang mengangkut logistik nasional agar mendarat dengan selamat di dermaga, adalah prioritas utama. Begitulah perempuan kelahiran Jakarta mendeskripsikan tugasnya saat ditemui di Kantor Area V PT Jasa Armada Indonesia (JAI) Tbk, di kawasan Pelabuhan pada Rabu (23/9/2026).

Sebagai petugas pandu, tugas Siti bukanlah memegang kemudi, melainkan menjadi komando utama. Siapa pun kaptennya, sehebat apa pun pengalamannya menembus samudera laut lepas, petugas pandu lokal memegang peranan krusial untuk memandu kapal bersandar maupun keluar pelabuhan dengan selamat, aman, dan efisien.

“Jadi, (tugasnya) bukan bawa kapal. Di anjungan, saya mengarahkan kapal bergerak ke kanan ke kiri, kapan mesin mati, kapan mesin harus maju. Karena kapal enggak ada remnya. Jadi kita harus tahu arus dan anginya ke mana, ini semua untuk memastikan kapal bersandar dengan aman,” kata Siti.

Sudah tiga bulan Siti menjadi petugas pandu yang bertugas di Area V PT JAI Tbk, di perairan Kanci, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Posisi ini membuatnya tercatat sebagai petugas pandu perempuan pertama di seluruh area operasi PT JAI di Indonesia. Baginya, kebijakan memosisikan perempuan pada petugas pandu merupakan langkah progresif.

Di mata Siti, dunia maritim Indonesia masih didominasi kaum pria. Jumlah pelaut perempuan maih sangat minim, terlebih petugas petugas pandu perempuan yang masih dihitung jari. Tak heran jika Siti kerap berhadapan dengan keraguan atau pandangan sebelah mata.

Siti mengisahkan, satu ketika dia berhadapan dengan seorang kapten yang tampak ragu terhadapnya. Sang kapten menjabat tangan Siti dengan sangat dingin, memberinya banyak tanya, hingga menunjukkan gestur was-was.

Siti tak merespons. Dia bersikap tenang, menjaga professionalisme, dan membuktikan kemampuannya, bahwa perempuan pun bisa. Setelah bersandar dengan selamat, sang kapten memberinya senyum.

“Saya sering merasakan itu. Pernah ya di Kanci, sesuai SOP tiba di anjungan, saya mengenalkan diri, menyapa, dan membangun komunikasi baik dengan kapten. Saat salaman, tangan kapten itu sangat dingin. Telapak tangan dingin itu kan tanda gugup, takut, was-was. Tapi saya tenang, saya jalani dengan profesional, dan akhirnya kapal mendarat selamat,” kata Siti.

Kapal-kapal yang ditangani Siti mayoritas adalah kapal kargo penyuplai batu bara dari Kalimantan menuju Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Kanci I dan II, dengan kapasitas antara 10.000-13.000 ton.

Siti menyadari betul, setiap pergerakan kapal yang ia pandu membawa dampak besar bagi kehidupan masyarakat luas, khususnya pasokan energi listrik. Dalam sebulan, Siti bersama rekan lainnya memandu dan menunda pergerakan sekitar 160 kapal.

Siti terpilih di posisi yang penuh resiko dan vital ini karena perjalanan melautnya yang cukup panjang. Dia lulus di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta jurusan Nautika tahun 2015. Setelah lulus, ia melanglang buana menjadi perwira hingga menahkodai berbagai kapal kargo kontainer hingga kapal latih.

Pengalaman berlayarnya membentang dari perairan domestik Indonesia hingga kawasan Asia Timur, seperti Korea, Jepang, Thailand, Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Singapura.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kisah Ibu-ibu Pemindang Ikan Kusamba, 28 Tahun Kerja Cuma Libur Nyepi-Galungan

19 Oktober 2026 - 02:57 WITA

Muhammad Saidil, Bocah 9 Tahun Kayuh Sepeda 12 Km Demi Bawa Ayah Berobat ke RSUD Sigli

16 Oktober 2026 - 02:50 WITA

Cerita ABK KM Maulana Dianiaya, Dipukul hingga Disiram Air Panas

11 Oktober 2026 - 04:57 WITA

Presiden Prabowo: Pemerintah Tidak Menyerah dalam Membela Kebenaran, Keadilan dan Kepentingan Rakyat

7 Oktober 2026 - 03:23 WITA

SD Negeri Purwosari Sleman Sulap 600 Galon Bekas Jadi Kebun Sayur

2 Oktober 2026 - 07:16 WITA

Trending di Warta Utama