Penyadartahuan soal lingkungan perlu sejak dini, salah satu melalui pendidikan di sekolah. Beberapa sekolah mulai melakukan pendidikan lingkungan secara intensif, baik di tingkat sekolah dasar maupun menengah. Mereka telah mengambil peran sesuai cara mereka masing-masing.
Sekolah Menengah Pertama (SMP) Santa Maria, Surabaya, misal, mulai ada pendidikan lingkungan sejak 2006.

Ide ini berawal dari kegelisahan seorang guru, Martinus Ekonugroho, terhadap persoalan-persoalan di sekitar sekolah.
Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn)– sekarang Pendidikan Kewarganegaraan (Pkn)– ini di dalam kelas berusaha memantik siswa untuk kritis terhadap berbagai persoalan lingkungan, termasuk sampah.
Dia juga terkadang untuk belajar di luar kelas, mengamati sekitar.
“Saya mengajak anak-anak untuk berani keluar dari sekolah, keluar dari kelas untuk belajar mulai dari membangun keprihatinan,” katanya Januari lalu.
Sekitar 2006-2007, Martinus beberapa kali mengajak siswa menelusuri kali di Surabaya. Dia bekerja sama dengan Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton) dalam mendidik siswa tentang lingkungan, terutama tentang sungai.
Belajar di luar kelas itu mendapat antusias para siswa.
Pada 2006, Martinus juga mendirikan Komunitas Duta Lingkungan (DuLink) sebagai ruang bagi siswa untuk belajar tentang lingkungan.
Martinus dinilai sebagai satu guru pembaharu oleh Ashoka sejak 2011.
Komunitas DuLink sampai saat ini aktif dengan berbagai kegiatan lingkungan. Ia jadi komunitas penggerak pendidikan lingkungan di SMP Santa Maria.
Dulink melahirkan beberapa pembaharu muda, baik yang bergerak dengan pembuatan produk sederhana, kampanye lingkungan, sampai kepemimpinan.
Antara lain, Ivan Winanto, membuat nutrisi tanaman dari urine, mereka namai Sutarin (susu tanaman dari urine).
Benedikto Gigih Putra Ranira, siswa kelas IX SMP Santa Maria, mengatakan, saat ini di sekolahnya ada program tiket ekologis kerja sama antara DuLink dan OSIS. Benedikto sebelumnya pengurus DuLink.
Setiap siswa yang masuk lingkungan sekolah, tidak boleh membawa makanan atau minuman wadah plastik sekali pakai.
Ada dua siswa piket secara bergantian menjaga setiap gerbang sekolah, ada dua gerbang, untuk pemeriksaan di setiap pintu masuk.
“Jadi, kami memastikan bahwa enggak ada yang bawa jajan kemasan ke dalam sekolah. Apabila membawa jajan, itu harus diwadahi dulu … ke tepak makannya sendiri,” kata Benedikto.
DuLink memiliki beberapa divisi dan beberapa koordinator program, antara lain, Divisi Green Leader dan Divisi Gerakan Inisiatif Perubahan.
Setiap Rabu, mereka juga mengadakan kegiatan Rabu bersih dan rosario earth hour. Setiap kelas dapat jadwal untuk bersih-bersih sekolah. Ada 15 kelas di SMP Santa Maria, Surabaya ini.
Dalam rosario earth hour ini, para siswa-siswi ini diajari untuk menghargai energi listrik di bumi dengan menghemat penggunaan listrik.
“Karena kita percaya, semua ini adalah pemberian dari Tuhan yang tidak boleh kita manfaatkan dengan tidak benar,” kata Jacqueline.
DuLink juga punya program sahabat hijau, sebuah upaya untuk meningkatkan kesadaran para siswa-siswi peduli lingkungan mereka.
“Sahabat hijau itu adalah program di mana setiap kelas itu akan menyediakan tanaman,” kata Benedikto.
Tanaman itu untuk mereka rawat.
Para anggota DuLink juga menyosialisasikan pupuk mereka ke warga Kampung Dinoyo, dekat sekolah mereka.
Ada juga gerakan naik angkutan umum.
Benedikto dan Jacqueline mengatakan, gerakan yang mereka lakukan tidak lepas dari sosok Martinus yang menginspirasi mereka. Guru yang selalu mendampingi dan mengajak mereka berpikir kritis dalam menanggapi berbagai persoalan sekitar.
“Pak Martinus itu seperti membuka banyak sekali … mata saya terhadap apa sih yang terjadi di dunia ini,” kata Jacqueline.
Beragam aksi mereka ini bukan tanpa tantangan. Mereka kadang hadapi sikap meremehkan dari sebagian siswa terhadap kegiatan DuLink.
Masih banyak siswa tidak serius mengikuti kegiatan. Meski demikian, para pengurus dan anggota DuLink tetap bertekad sama-sama saling mengingatkan.
“Karena kita ini ingin menjadi pembaharu,” kata Jacqueline.
Menurut Martinus, penting upaya perubahan pola pikir bagi anak-anak tentang menyelamatkan semesta.
Menyelamatkan semesta, katanya, tidak sekadar menanam pohon, tetapi bagaimana seseorang menjadi pembaharu, mengasah empati untuk peduli terhadap masyarakat dan lingkungan.
Tantangan sesungguhnya, katanya, adalah manajemen waktu dan membangun kolaborasi.
“Untuk (hambatan) administrasi dan sebagainya saya rasa enggak ada, hambatan-hambatan sistem tidak ada, hanya memang untuk meyakinkan.”
Pada akhirnya, semua pihak banyak yang mendukung, dari pihak sekolah maupun orang tua siswa. Martinus pun menulis pengalaman itu dalam bukunya yang berjudul “Changmaker Teacher.”
Sejak 2024 dia berhenti mendampingi DuLink. Dia limpahkan pendampingan itu kepada guru lain, Adi Priyono.
Adi Priyono, pendamping DuLink saat ini, mengatakan, DuLink tetap berjalan lancar sejauh ini tanpa menafikan bahwa selalu ada tantangan yang perlu mereka hadapi.
Dia melihat ada perubahan perilaku siswa, mulai terlihat kesadaran-kesadaran baru menghargai hal-hal yang tampak kecil di sekitar mereka. Bagi Adi, itu salah satu bentuk perubahan positif.
Kini, banyak para orang tua siswa kagum dengan pendidikan lingkungan ini dan mereka bersedia membantu, salah satunya perihal pemanfaatan sampah.
Aksi dari SMA perempuan di Sumenep
Sekolah lain di Jawa Timur yang punya aksi lingkungan adalah SMA 3 Annuqayah, Guluk-guluk, Sumenep, Madura. Di sekolah ini ada Komunitas Pemulung Sampah Gaul (PSG).
SMA ini adalah sekolah khusus perempuan. Ia berada di bawah naungan Pesantren Annuqayah. Per Desember 2025, ada 128 siswi di sana.
PSG berdiri pada 2008, bertepatan dengan peringatan Hari Bumi dengan penggagas M Mushthafa .
Kendati komunitas ini bernama “pemulung sampah”, kegiatannya tidak hanya mengurusi tentang sampah, juga masalah lingkungan lain seperti pangan lokal dan pupuk organik.
Ada tiga tim di PSG, yaitu, tim pengelolaan sampah plastik, pangan lokal, dan pupuk organik.
Prinsip utama gerakan PSG terkait sampah adalah mengurangi produksi sampah. Para siswa tak boleh hasilkan sampah, bukan sekadar mengelola, terutama sampah plastik.
“Sebenarnya, PSG itu intinya konservasi. Tapi setelah konservasi itu, juga ingin mencetak kader-kader lingkungan,” kata Moh Khatibul Umam, Kepala Sekolah SMA 3 Annuqayah, Desember lalu.
Melalui PSG, sekolah menekan lingkungan mereka untuk tidak membuat sampah. Para siswa dilarang minum air kemasan, di setiap kelas sudah galon minum, dan dilarang beli makanan pakai plastik.
Siswa yang melanggar akan kena denda uang. Terdapat Srikandi Lingkungan yang bertindak sebagai “polisi” lingkungan dua sekolah ini.
Terkadang penegakan aturan oleh Srikandi Lingkungan lemah ketika ada pelanggar di sana melawan.
“Menghadapi anak-anak itu susah,” kata Lailatul Mufidah, Ketua PSG periode 2025-2026. “Ada yang enggak suka ditegur.”
Bila tetap melanggar, pengurus PSG akan melaporkan kepada guru pendamping untuk ambil tindakan.
Mus’idah, Pendamping PSG, menyadari, ada pergeseran di PSG, memberikan denda sudah tidak begitu efektif lagi.
Mereka berusaha mencari cara baru supaya para siswi tumbuh kesadaran tentang lingkungan.
Tantangan lain dalam pengendalian plastik datang dari pihak luar, seperti para penjual jajanan di depan gerbang sekolah.
Padahal sekolah sudah melarang pedagang. Untuk kantin di sekolah, pengurus PSG sudah menjalin kerja sama agar gunakan wadah, bukan plastik.
Dari data sampah PSG, dalam tiga bulan terakhir dari Oktober sampai Desember 2025, sampah yang bisa daur ulang dan kertas lebih mendominasi daripada sampah yang tidak bisa didaur ulang dan botol.
Sampah yang bisa mereka daur ulang, jadi berbagai kerajinan atau barang-barang bernilai pakai seperti kursi, tas, tikar, sampai hiasan bunga plastik. Kalau sampah organik jadi pupuk kompos. Pupuk organik untuk memupuk tanaman PSG.
SMA 3 Annuqayah punya sepetak tanah untuk menanam tanaman pangan seperti umbi-umbian yang kemudian tim pangan lokal kelola.
Tim pangan lokal punya program memasak pangan lokal berkala. Sekolah menyediakan dapur khusus untuk tim pangan lokal PSG berkreasi. Hasil masakan mereka jual di sekolah.
Tim pangan lokal juga membuat jamu tradisional setiap minggu yang dibagikan gratis kepada siswi.
Mereka mengambil bahan dari tanaman sendiri, bila tidak mencukupi, membeli di pasar atau toko terdekat.
Setiap tahun PSG menyelenggarakan festival pangan lokal. Para siswi diminta memasak masakan lokal, tidak boleh pakai plastik.
Proses masak mereka juga disiarkan langsung di YouTube. Mereka juga diminta mempresentasikan masakan mereka beserta alasan-alasan memasak hidangan itu.
“Nanti ada presentasinya juga. Kenapa buat stan kayak gini? Kenapa bikin olahan kayak gini?” kata Fatimah Ajeng Putri Hawe, siswi kelas XII sekaligus Sekretaris PSG periode 2024-2055.
Saat Fatimah menjadi pengurus PSG, program-programnya berjalan semua. Hanya saja, pengaturan waktu menjadi masalah karena para siswi mayoritas mondok.
Khatibul menyadari betul tantangan ini. Sedikitnya waktu para siswi untuk beraktivitas dan berkreativitas di sekolah menjadi salah satu faktor program-program PSG kurang berjalan lancar.
SMA 3 Annuqayah tidak hanya melakukan pendidikan lingkungan berbasis komunitas, mereka juga membuat perangkat pembelajaran lingkungan hidup pada kelas X selama dua semester. Ia menjadi mata pelajaran tersendiri, mata pelajaran lingkungan hidup (PLH).
PLH pertama kali pada 2014 dengan rancangan M. Mushthafa, kala itu kepala sekolah. Dia juga yang guru pelajaran ini.
Kini pengajar PLH berbentuk tim. Selain mengajar, tim juga bertugas memperbaharui materi-materi tentang lingkungan sesuai perkembangan diskursus tentang lingkungan.
Mushthafa berpikir membuat PLH karena saat itu pendidikan lingkungan hanya ekstra kurikuler lewat kemah lingkungan PSG selama tiga hari.
Dia ingin pendidikan lingkungan lebih merata kepada semua siswi. Dari situlah terpikir untuk membuat PLH masuk kurikulum sekolah, namun kegiatan ekstra kurikuler tetap jalan.
Mushthafa mengatakan, pelajaran-pelajaran di sekolah tidak menyentuh substansi pokok isu lingkungan. Sejatinya, pendidikan lingkungan seperti ini harus terintegrasi ke semua mata pelajaran.
Mushthafa adalah sarjana filsafat Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, dan lulus magister etika terapan (applied ethics) di Universitas Utrecht, Belanda) , kemudian NTNU di Trondheim, Norwegia. Dia punya kapasitas cukup untuk menyusun alur pembelajaran pendidikan lingkungan hidup di sekolah.
“Alur pembelajarannya dalam bentuk tema-tema yang akan dipelajari dalam satu tahun,” katanya.
Alur pembelajaran yang dibuat Mushthafa memuat 25 tema pembelajaran, termasuk pengantar PLH, dan 30 judul tulisan dalam buku bahan ajarnya.
Kini, Khatibul berusaha mengintegrasikan isu lingkungan hidup dengan berbagai mata pelajaran. Dia menghimbau kepada guru-guru untuk membuat praktik-praktik yang sesuai dengan visi-misi sekolah.
“Terutama kayak ke isu-isu lingkungan. Kalau misal ada praktik tanaman, bagaimana ini tanaman bisa dikonservasi, pembibitan, sebagainya, kayak begitu.”
Lewat PSG, katanya, sekolah punya dorongan untuk menularkan gerakan lingkungan ke sekolah-sekolah lain.
Mereka terus membangun kemitraan dengan sekolah lain, salah satu programnya adalah kemah lingkungan.
Tak melulu melalui kemah lingkungan, terkadang sekolah mitra yang datang langsung ke SMA 3 Annuqayah untuk belajar lingkungan. Terkadang sebaliknya, SMA 3 Annuqayah yang mendatangi sekolah mitra.
Sekolah yang ingin belajar dan menjalin kerja sama bukan hanya dari kalah sekolah berbasis pesantren, juga dari non pesantren.
PSG juga punya program baru “Ngaji Lingkungan.” Program ini khusus untuk para anggota dan pengutus PSG. Di sini, PSG mendatangkan atau mengunjungi pegiat lingkungan.
Pendidikan lingkungan di sekolah dasar di Bali
Pendidikan lingkungan juga ada di Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah 3 Denpasar, Bali. SD ini punya modul pembelajaran lingkungan hidup dengan nama Pahlawan Samudra, mulai pertama kali pada 2021.
Modul ini merupakan inisiatif dari Plastic Bank Indonesia, organisasi asal Kanada yang juga beroperasi di Bali, yang banyak bergerak di bidang pengelolaan plastik.
Materi Kurikulum Samudra untuk setingkat SD terbagi dua level, pertama, untuk kelas I, II, dan III, kedua, untuk kelas IV, V, dan VI.
Secara garis besar, materi ajar kurikulum ini mencakup pengenalan terhadap plastik dan bahayanya, pengenalan ekosistem laut dan urgensinya, dan dampak sampah plastik terhadap ekosistem laut.
Kemudian, literasi lingkungan dan perubahan iklim, pembangunan karakter baik terhadap lingkungan, sampai soal kepedulian dan peran-peran untuk menjaga bumi.
Awalnya, kurikulum ini untuk memperkuat program sedekah sampah, yang waktu itu sudah berjalan selama 10 bulan. Kegiatan ini bekerja sama dengan Plastic Bank.
Emma Rosada, Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 3 Denpasar, sadar bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya dari capaian akademik.
Pendidikan bukan hanya untuk menyiapkan capaian akademik siswa, juga membangun karakter siswa peduli lingkungan sejak dini.
“Kurikulum ini dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata siswa agar memiliki literasi lingkungan, tanggung jawab sosial, dan kesadaran ekologis yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari,” katanya kepada Mongabay, Januari lalu.
Penerapan Kurikulum Pahlawan Samudra secara bertahap. Pertama, pada 2021, proses pengenalan kurikulum dengan pelatihan kepada para guru.
Kedua, pada 2022, kurikulum ini mulai masuk dalam Kurikulum Merdeka (kurikulum pelajaran mendalam–rancangan pemerintah) secara bertahap dalam pembelajarannya.
Baru tahun berikutnya masuk ke Kurikulum Merdeka sepenuhnya. Tahun 2025, ada penyelarasan visi misi sekolah dengan memasukkan unsur-unsur Kurikulum Samudra.
Saat ini, Modul Pahlawan Samudra tidak lagi menjadi mata pelajaran yang berdiri sendiri, ia sudah terintegrasi dengan kurikulum pemerintah.
Emma bilang, ini untuk menghindari tumpang tindih kurikulum sekaligus memastikan pembelajaran berlangsung efektif, bermakna, dan tak membebani siswa.
Selain itu, Kurikulum Pahlawan Samudra ini selaras dengan konsep pendekatan pembelajaran mendalam.
“Kurikulum Merdeka memberi fleksibilitas bagi satuan pendidikan untuk mengembangkan kurikulum berbasis konteks dan kebutuhan sekolah,” katanya.
Adapun program sedekah sampah plastik siswa sebagai bentuk tanggung jawab mereka terhadap sampah yang mereka buat.
Sampah plastik bisa berasal dari lingkungan sekolah, juga dari rumah, setor ke sekolah secara berkala sebelum jam pelajaran berlangsung dari Senin-Kamis..
Kegiatan ini juga bekerja sama dengan pengurus komite sekolah. Mereka yang mencatat jumlah sampah yang terkumpul.
Sampah jual ke pengepul, yang sudah bekerja sama dengan Plastic Bank. Mereka yang memarani langsung plastik itu ke sekolah.
Berdasarkan data dari Plactik Bank, dalam 2025, SD Muhammadiyah 3 Denpasar mampu mengumpulkan plastik 862 kg. Paling banyak dalam satu bulan 242 kg dan paling sedikit 52 kg.
Hasil dari penjualan sampah itu jadi subsidi pembayaran SPP sekolah. Biaya SPP Rp300.000 sejak tahun ini, sebelumnya Rp250.000 per bulan.
“Per siswa mendapat potongan Rp50.000, biasa langsung 20 siswa.”
Selain potongan SPP, saat awal program ini, siswa mendapatkan tablet pembelajaran karena saat itu pandemi COVID-19.
Dwi Suputra, Koordinator Community and Strategic Partnership, Plastic Bank, mengatakan, modul Pahlawan Samudra ini sebatas untuk mengenalkan tentang plastik dan ekosistem laut karena yang sasar masih di sekolah dasar.
“Kami memang kenalkan awalnya itu di modul pertama-tama itu adalah keindahan bawah laut,” katanya.
Harapannya, timbul gambaran di benak anak-anak bahwa laut mereka indah. Setelah mereka punya gambaran laut indah, lalu perkenalkan laut tercemar sampah plastik.
Program-program yang mereka lakukan, dengan sekolah, kata Dwi, bukan untuk menciptakan ketergantungan sekolah terhadap mereka. Untuk menangani masalah plastik ini, katanya, memang perlu kerja sama lintas sektor.
SD Muhammadiyah 3 Denpasar, katanya, bisa bekerja sama dengan siapa saja untuk menanggulangi masalah lingkungan, terutama sampah plastik.
Perlu visi kuat pendidikan lingkungan hidup di sekolah
Seiring berubahnya kondisi sosial, politik, lingkungan, dan budaya di Indonesia, terdapat pekerjaan baru lembaga pendidikan dan pemerintah untuk merespons perubahan ini.
Mushthafa mengatakan, kondisi baru perlu ada respon dengan paradigma baru dalam dunia pendidikan. “Dunia pendidikan perlu punya visi perubahan yang jelas dan kuat.”
Dia bilang, pendidikan lingkungan hidup di sekolah tidak boleh hanya berhenti pada isu-isu teknis tentang lingkungan, tetapi harus memberikan visi perubahan yang lebih bersifat sosial, budaya, politik.
Perlu dorongan terhadap para siswa, guru dan sekolah untuk membuat mereka menjadi agen pembaharu. Dorongan seperti itu yang coba Ashoka lakukan. Mereka mencoba ikut mendorong para pembaharu, di antaranya para guru pembaharu melalui berbagai program.
Ashoka ingin memperkuat para guru sebagai bagian ekosistem gerakan pembaharuan.
Nani Zulminarni, Direktur Regional Ashoka Asia Tenggara, mengatakan, bila bicara ekosistem, di situ terdapat dua elemen besar yaitu kekuatan dan pola pikir.
“Jadi, kita berharap para guru ini bisa menjadi katalisator, bisa menjadi inovator, bisa menjadi penggerak untuk mempengaruhi dua besaran sistem ini yang saling terkait,” katanya, Februari lalu.
****









