Menu

Mode Gelap
Presiden Prabowo Teken Perpres Kesehatan, Atur Integrasi Layanan dari Pusat hingga Desa Rossa Sebut Nama Baiknya Dijadikan Ajang Cari Cuan Clickbait Lewat Link Afiliasi Kepergok ke Kedai Kopi, Napi Korupsi Dipindah ke Lapas Nusakambangan Harga BBM Pertamina Naik, Pertamax Turbo Melejit Jadi Rp19.400 Potret Gereja Pertama IKN, Ada Makna di Balik Desain Indahnya Komisi IX DPR RI Dorong Optimalisasi Program Magang untuk Kurangi Pengangguran Sarjana

Warta Nusantara

Indonesia Rawan Bencana Sinkhole, BRIN Tunjuk 3 Wilayah Ini

badge-check


					Indonesia Rawan Bencana Sinkhole, BRIN Tunjuk 3 Wilayah Ini Perbesar

Indonesia merupakan wilayah yang paling rawan dengan fenomena lubang runtuhan tanah atau yang dikenal sebagai sinkhole. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan wilayah dengan bentang alam karst atau kawasan batu gamping sering mengalami fenomena ini.

Beberapa daerah yang rawan seperti Gunung Kidul, Pacitan, dan Maros. Wilayah-wilayah tersebut memiliki lapisan batu gamping yang cukup tebal di bawah permukaan tanah.

Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari menjelaskan sinkhole merupakan fenomena alam yang terjadi karena runtuhnya lapisan batu gamping di bawah permukaan tanah. Prosesnya dalam waktu lama yang dipicu air hujan bersifat asam karena menyerap karbon dioksida (CO2) dari udara dan permukaan tanah.

“Air hujan ini meresap ke dalam tanah dan melarutkan batuan yang mudah larut, terutama batu gamping, sehingga membentuk rekahan dan rongga di bawah permukaan,” jelasnya, dikutip dari laman resmi BRIN, Rabu (21/1/2026).

Air permukaan dan air tanah akan mengalir ke dalam rekahan seiring berjalannya waktu. Pada akhirnya membuat rongga makin membesar dan lapisan penyangga di bagian atasnya melemah.

Saat hujan terjadi, lapisan penutup rongga akan kian tipis. Pada satu titik rongga tersebut tidak bisa lagi menahan beban yang berada di atas.

“Saat itulah lapisan atap runtuh secara tiba-tiba dan terbentuk lubang di permukaan tanah yang kita kenal sebagai sinkhole,” ujar Adrin.

Adrin mengungkapkan sulit mendeteksi tanda awal kemunculan sinkhole. Pembentukan rongga terjadi sangat perlahan dan di bawah permukaan tanah, jadi tidak mudah dikenali secara langsung.

Namun sebenarnya identifikasi bisa dilakukan dengan beragam metode, seperti gaya berat, georadar, dan geolistrik. Jadi dapat memetakan dari sebaran, kedalaman dan ukuran rongga.

Dia juga mengingatkan kawasan permukiman di atas lapisan batu gamping berisiko lebih tinggi menghadapi fenomena ini. Salah satu yang bisa diwaspadai adalah hilangnya aliran air di permukaan.

“Jika aliran air mendadak menghilang, bisa jadi air masuk ke rongga bawah tanah. Kondisi ini perlu segera diinvestigasi karena berpotensi memicu runtuhan,” kata Adrin.

Sementara itu, Adrin menjelaskan air dalam sinkhole berasal dari air hujan dan air bawah permukaan. Jadi tidak bisa disimpulkan secara langsung apakah air layak untuk dikonsumsi dan harus melewati berbagai analisis terlebih dulu.

“Air harus melalui analisis kimia terlebih dahulu, meliputi kejernihan, warna, bau, rasa, pH, kandungan bakteri berbahaya seperti E. coli, serta logam berat, sesuai standar kesehatan yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan,” dia menjelaskan.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Presiden Prabowo Teken Perpres Kesehatan, Atur Integrasi Layanan dari Pusat hingga Desa

18 April 2026 - 07:12 WITA

Harga BBM Pertamina Naik, Pertamax Turbo Melejit Jadi Rp19.400

18 April 2026 - 06:59 WITA

Satu WN Malaysia Jadi Korban Tewas Helikopter Jatuh di Sekadau Kalbar

17 April 2026 - 05:23 WITA

Presiden Prabowo Tiba di Tanah Air, Rampungkan Rangkaian Diplomasi Strategis di Eropa

16 April 2026 - 06:01 WITA

UI Nonaktifkan 16 Mahasiswa Terduga Pelaku Pelecehan Seksual, Dilarang Masuk Kampus

16 April 2026 - 05:58 WITA

Trending di Warta Nusantara