Menu ✖

Mode Gelap
Presiden Prabowo Sambut Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang TNI AL Amankan Tugboat Pembawa Ribuan Kubik Kayu Log di Perairan Utara Pulau Buru Kisah Ibu-ibu Pemindang Ikan Kusamba, 28 Tahun Kerja Cuma Libur Nyepi-Galungan KPK Evaluasi Alasan Nusron Wahid Mangkir Sebelum Terbitkan Surat Perintah Membawa DPD RI Desak Menag Perkuat Pengawasan Anak Lindungi dari Kekerasan Seksual Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

Warta Utama

Esti Ernawati Harus Makan Lewat Selang karena Penyakit Langka

badge-check


					Esti Ernawati Harus Makan Lewat Selang karena Penyakit Langka Perbesar

Unggahan konten milik Esti Ernawati (28) melalui akun Instagram @estyernawaty viral menjadi perbincangan. Melalui konten-kontennya, perempuan di Tasikmalaya, Jawa Barat ini menceritakan perjuangannya bertarung melawan kondisi akalasia, melemahnya kemampuan saraf kerongkongan untuk mendorong makanan.

Kondisi itu membuatnya hanya bisa makan lewat selang nasogastric tube (NGT) dengan makanan yang sudah dihaluskan. Esti menceritakan kejadiannya bermula di tahun 2019.

Pada saat itu ia mengalami gejala seperti sakit tenggorokan, asam lambung keluar secara berlebih, sulit menelan, hingga perih di lambung. Karena gejala tersebut, ia memutuskan untuk pergi ke salah satu rumah sakit di Tasikmalaya dan dokter menemukan ada penyempitan kerongkongan bagian bawah, sehingga makanan tidak bisa didorong ke lambung.

Pada saat itu, seharusnya ia menjalani rujukan di salah satu rumah sakit di Bandung, tapi perawatannya terhenti karena terkendala biaya.

“Karena orang tua saya tidak punya biaya untuk melanjutkan pengobatan karena saat itu biaya untuk berobat dari uang pribadi, karena saya belum punya BPJS kesehatan,” ungkap Esti, Minggu (29/3/2026).

Selama periode 2019-2022, Esti masih bisa makan secara langsung lewat mulut, tapi makanan perlu dihaluskan. Lama-kelamaan, bubur makanan yang dikonsumsi juga tidak bisa masuk.

Pada tahun 2024, kondisi Esti semakin drop karena asupan nutrisi yang kurang. Dokter akhirnya menyarankannya untuk menggunakan selang NGT agar tetap bisa memenuhi nutrisinya. Berat badan Esti saat itu sudah menyentuh angka 36 kg.

Lalu, ia akhirnya kembali dirujuk lagi ke sebuah rumah sakit di Bandung untuk menjalani prosedur endoscopic balloon dilation.

“Alhamdulillah saya bisa ditindak, tapi hasilnya tidak berhasil, karena saya masih belum bisa menelan makanan langsung ke lambung, ternyata saraf kerongkongan setelah dilatasi balon kembali ke semula mengerut dan menyempit,” ceritanya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kisah Ibu-ibu Pemindang Ikan Kusamba, 28 Tahun Kerja Cuma Libur Nyepi-Galungan

19 Oktober 2026 - 02:57 WITA

Muhammad Saidil, Bocah 9 Tahun Kayuh Sepeda 12 Km Demi Bawa Ayah Berobat ke RSUD Sigli

16 Oktober 2026 - 02:50 WITA

Cerita ABK KM Maulana Dianiaya, Dipukul hingga Disiram Air Panas

11 Oktober 2026 - 04:57 WITA

Presiden Prabowo: Pemerintah Tidak Menyerah dalam Membela Kebenaran, Keadilan dan Kepentingan Rakyat

7 Oktober 2026 - 03:23 WITA

SD Negeri Purwosari Sleman Sulap 600 Galon Bekas Jadi Kebun Sayur

2 Oktober 2026 - 07:16 WITA

Trending di Warta Utama