Menu

Mode Gelap
Selat Hormuz, Selat Strategis Titik Perekonomian Dunia Dukung Pemberdayaan Nelayan, Danlanal Yogyakarta Hadiri Kunker Ketua Komisi IV DPR-RI Ketika Pemkab Bulungan Bersolek, Eks Pasar Ikan Kini Jadi Food Court Kemenlu RI Pastikan Koordinasi Intensif Pelindungan WNI di Timur Tengah Jalan Rusak dan Anak Putus Sekolah, Pengalaman Pahit Warga 2 Kampung di Polman Pemerintah perkuat peran generasi muda melalui Mangrove Goes To School

Serba Serbi

Dari ART Jadi Juragan Bawang Goreng: Kisah Inspiratif Anik Raih Omzet Ratusan Juta

badge-check


					Dari ART Jadi Juragan Bawang Goreng: Kisah Inspiratif Anik Raih Omzet Ratusan Juta Perbesar

Berawal dari seorang mantan asisten rumah tangga (ART) bisa menjadi juragan dengan omzet ratusan juta rupiah per bulan.

Seperti dikutip dari video unggahan kanal Youtube CapCapung yang berjudul ‘Dari Kamar 2×3 Meter Bisa Beli 4 Rumah dengan Usaha Bawang Goreng Modal Awal Cuma 50 Ribu loh’ dikutip pada Sabtu, 30 Agustus 2025.

Itulah kisah nyata Ibu Anik atau Sulistyorini, perempuan asal Sukoharjo yang kini sukses membangun usaha brambang goreng dari nol.

Dari kamar sempit berukuran 2×3 meter, ia menjadikan kerja keras, doa, dan keberanian sebagai kunci untuk mengubah hidup.

Ibu Anik memulai langkah besar itu pada tahun 2014. Saat itu, ia baru saja pulang dari Jakarta setelah bekerja sebagai ART.

Ekonomi keluarganya terhimpit, suaminya berjualan sayur, namun penghasilan itu tidak cukup. Lebih berat lagi, anak sulungnya mengalami keterbatasan sehingga membutuhkan perhatian khusus.

“Saya pulang ke Jawa karena ingin bisa antar sekolah anak saya. Kalau tidak, masa depannya bisa gelap. Dari situlah saya bertekad membangun usaha kecil-kecilan,” kenangnya.

Bermodal Rp50 ribu, wajan sederhana, dan semangat tanpa batas, ia mulai mengiris bawang di lantai kamarnya.

“Kasur saya dulu kecil, hanya satu meter. Tidur berempat sama suami dan anak-anak. Di kamar itu juga saya ngupas, motong, sampai goreng bawang. Kadang jam 3 pagi sudah bangun lagi untuk goreng, lalu habis itu antar anak sekolah,” cerita Ibu Anik.

Dari keterbatasan itulah, lahir sebuah usaha besar yang kini memberi manfaat bagi banyak orang.

Cerita Awal Memulai Usaha

Awal usaha Ibu Anik bisa dibilang penuh air mata. Bermodalkan Rp50 ribu, ia membeli beberapa kilogram bawang merah.

Produksi dilakukan di kamar kos yang sempit, sementara alat yang dipakai hanyalah pisau, wajan, dan kompor sederhana. Namun, keterbatasan itu tidak membuatnya menyerah.

“Saya yakin, meski kecil, kalau dikerjakan dengan sungguh-sungguh pasti ada hasilnya,” katanya.

Setiap hari, ia berjualan door to door. Mulai dari sekolah, kantor kelurahan, hingga puskesmas, semuanya ia datangi untuk menawarkan produk.

Anak-anaknya sering ikut menemani, meskipun kadang orang yang melihat justru merasa iba.

“Orang pikir kasihan lihat saya bawa anak kecil ikut keliling. Tapi ternyata produk saya disukai. Karena bawang gorengnya asli, tanpa campuran apa pun,” ungkapnya.

Dari situ, sedikit demi sedikit pembeli bertambah. Banyak yang awalnya hanya membeli untuk kebutuhan rumah tangga, tapi kemudian tertarik ikut menjual kembali.

Tanpa ia sadari, jaringan reseller mulai terbentuk. Inilah titik awal yang kelak membuat usaha brambang goreng miliknya berkembang pesat.

Tantangan dalam Mengembangkan Usaha

Meski perlahan berkembang, perjalanan usaha Ibu Anik tidak selalu mulus. Salah satu tantangan terbesar adalah harga bawang yang tidak stabil.

Ketika harga bawang naik drastis, produksi otomatis ikut menurun. “Kalau bawang mahal, orang enggan beli bawang goreng dengan harga tinggi. Mau tidak mau saya berhenti produksi dulu. Waktu itu saya sempat alihkan jualan ke sayur, sambal pecel, sampai pisang goreng,” tuturnya.

Tantangan lain datang dari keterbatasan alat. Ia bisa saja membeli mesin pengupas atau pemotong bawang, namun Ibu Anik justru menolak. Keputusannya cukup mengejutkan banyak orang.

“Kalau pakai mesin memang cepat, satu kuintal bisa selesai kurang dari sejam. Tapi buat apa? Tidak ada manfaat untuk orang sekitar. Saya lebih senang memberi pekerjaan ke ibu-ibu tetangga. Mereka bisa kerja sambil momong anak di rumah,” tegasnya.

Selain itu, hutang juga pernah menghantui. Di awal merintis, hampir setiap keuntungan digunakan untuk melunasi pinjaman.

“Untung saya waktu itu tidak kepingin macam-macam. Setiap dapat untung langsung saya buat bayar hutang. Setelah lunas, baru bisa bangun rumah sedikit demi sedikit,” kata Ibu Anik.

Kesabaran inilah yang akhirnya membuat pondasi usahanya semakin kua

Strategi Bangkit Mengembangkan Usaha

Ibu Anik sadar bahwa satu-satunya jalan agar usahanya bertahan adalah menjaga kualitas produk. Ia menolak mencampur bawang goreng dengan tepung, pepaya muda, atau ubi seperti kebanyakan produsen lain.

“Kalau bawang goreng saya, 100 persen asli. Digorengnya hanya pakai garam, tidak ada tambahan lain. Itu yang bikin rasanya gurih alami,” jelasnya.

Selain kualitas, ia juga mengubah strategi pemasaran. Jika dulu hanya mengandalkan jualan keliling, kini ia lebih fokus membangun jaringan reseller bawang goreng. Reseller inilah yang membuat penjualan melonjak tajam. “Alhamdulillah sekarang reseller saya sudah lebih dari 50 orang, tersebar di seluruh Indonesia, bahkan ada juga yang kirim keluar negeri,” ujarnya.

Berkat strategi ini, produksi yang dulunya hanya beberapa kilogram kini melonjak hingga 500-600 kilogram per hari. Dalam sehari, penjualan bisa mencapai 600-700 toples.

“Dulu pegang uang sejuta saja sudah kayak banyak sekali. Sekarang omzet bisa ratusan juta per bulan,” ucapnya penuh syukur.

Kesuksesan yang Diraih

Hasil kerja keras Ibu Anik sungguh luar biasa. Dari seorang ART yang dulu hanya bisa tidur berempat di kasur kecil, kini ia mampu membeli empat rumah.

Rumah-rumah itu bukan hanya untuk tempat tinggal, tetapi juga difungsikan sebagai rumah produksi.

Kesuksesan itu tidak ia nikmati sendiri. Hingga kini, lebih dari 40 orang tetangga ikut bekerja bersamanya. Mereka mendapat penghasilan Rp600 ribu sampai Rp700 ribu per minggu.

“Kalau pakai mesin mungkin saya lebih untung, tapi tidak ada manfaatnya untuk masyarakat. Sekarang saya kerja bukan hanya cari untung, tapi juga cari berkah,” ungkapnya.

Selain finansial, keberhasilan terbesarnya adalah melihat produknya diterima luas.

Dari bawang goreng khas Tawangmangu yang manis gurih hingga bawang goreng Brebes yang gurih renyah, semua laris manis. Bahkan, produk inovasinya seperti bawang pedas juga banyak digemari.

“Kalau makan bawang pedas ini, rasanya kayak sambal. Nasi putih saja sudah nikmat,” katanya sambil tersenyum.

Rencana Masa Depan Usaha

Meski sudah sukses, Ibu Anik tidak berhenti bermimpi. Ke depan, ia ingin membangun rumah produksi yang lebih bersih, lebih besar, dan lebih higienis.

“Doakan ya, dari rumah keempat yang saya beli ini, rencananya mau saya buat rumah produksi yang lebih layak,” katanya.

Selain itu, ia ingin menjadikan brand Bramgor Putri Mangu sebagai bawang goreng premium yang mendunia.

“Harapan saya, produk ini bisa sampai ke luar negeri dengan skala lebih besar. Tapi tetap harus jaga kualitas, karena itu yang bikin orang percaya,” tegasnya.

Menariknya, Ibu Anik membuka pintu bagi siapa saja yang ingin belajar darinya.

“Silakan datang langsung ke rumah produksi kami. Gratis, tidak ada biaya sepeser pun. Kalau ada yang minta bayaran, itu bukan dari saya. Saya ingin pengalaman saya bisa jadi ilmu untuk orang lain,” ujarnya menutup cerita.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pemerintah perkuat peran generasi muda melalui Mangrove Goes To School

28 Februari 2026 - 09:50 WITA

Otorita IKN Perkuat Pelaku Usaha Lokal untuk Bangun Ekosistem Ekonomi Berkelanjutan

28 Februari 2026 - 09:46 WITA

Armaya Doremi: Dari Kegagalan TOEFL 7 Kali Hingga Jadi Pembicara Utama Wisuda Northeastern University 2026

27 Februari 2026 - 05:49 WITA

Tiwi/Fadia siap bongkar strategi Hsu/Lin di babak kedua German Open

26 Februari 2026 - 04:42 WITA

BRIN Cek Bawah Laut Sulut

24 Februari 2026 - 04:40 WITA

Trending di Serba Serbi