Kritik seni kontemporer di Indonesia dinilai sedang mengalami stagnasi di tengah masyarakat. Pameran sering kali bisu tanpa teks pengantar yang mampu menjembatani karya dengan akal sehat publik awam. Pameran seni rupa Nandur Srawung 2026 di Yogyakarta hadir untuk membongkar kebiasaan usang tersebut dengan mengubah ruang pajang menjadi kampus alternatif pencetak penulis.
Sebanyak 10 penulis seni muda kini dilatih secara khusus melalui program Kelas Penulisan Seni mulai dari tahap observasi hingga ulasan analitis. Mereka berlatih merespons karya secara lugas dalam sesi wicara bersama seniman seperti Maryanto, Yudha Kusuma Putera, hingga Pangestumu.

Tim kurator merancang silabus khusus untuk mengasah ketajaman analisis para penulis muda tersebut. “Peserta akan mempelajari observasi, analisis karya dan pameran, hingga penulisan kontekstual dengan mempertimbangkan perspektif sosial, budaya, dan praktik artistik,” kata kurator Gintani Swastika, saat konferensi pers di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Rabu (21/10/2026).
Pameran Berubah Jadi Akademi Seni
Penyelenggaraan Nandur Srawung ke-13 ini mengusung agenda besar di bawah payung tema utama “Akademi”. Program kuratorial tiga tahunan tersebut sengaja dirancang untuk membedah praktik dan pengetahuan para seniman muda. Tim kurator yang beranggotakan Gintani Swastika, Febrian A. Hasibuan, dan Tomi Firdaus mengawal penuh pergulatan ide pameran ini.
Sementara itu, Kepala TBY, Purwiati, merinci peta jalan pameran ini secara langsung. “Akademi dikembangkan dalam tiga subtema, yakni Lanskap pada 2026, Lab pada 2027, dan Lintasan pada 2028,” ungkapnya kepada wartawan.
Penyusunan teks kuratorial yang tajam mutlak membutuhkan bukti perbandingan visual yang beragam. Panitia telah menyeleksi secara ketat 100 seniman dari total 264 pendaftar yang berasal dari berbagai provinsi di Indonesia. Pendatang baru semacam Ipeh Nur dan Mira Rizki kini beradu medium dengan sosok mapan sekaliber Siti Adiyati dan Titarubi.
Ajang tahunan ini juga menganugerahkan Lifetime Achievement Award kepada maestro seni Melati Suryodarmo. Ia dijadwalkan menyampaikan pidato kebudayaan yang merefleksikan pertautan diri guna melampaui jebakan pemikiran Barat dan Timur di era pascakolonial.
Apa Saja Agenda Literasi Publik yang Tersedia?
Agenda Taman Budaya Yogyakarta pada bulan Oktober 2026 ini sangat padat dengan asupan literasi kritis. Publik bebas mengikuti forum Polemik Seni Pasca Reformasi atau membedah urusan tata kelola lewat kuliah umum Festival dan Seni. Pendidikan seni rupa kontemporer mutlak menuntut dialog terbuka secara berkelanjutan antara pencipta karya dan kritikus visual.
Panitia turut menyiapkan penghargaan Audience Recognition Award bagi partisipan yang karyanya paling banyak mendapat atensi warga. Masyarakat dapat menikmati pameran seni di Jogja ini secara gratis setiap hari dari pukul 10.00 hingga 20.00 WIB sampai 28 Oktober 2026.
Para pengunjung juga dipersilakan untuk mendatangi Kios Seni garapan kelompok Yogyakarta Art Book Club di area pameran. Kelompok ini menggelar lokakarya pada Selasa (27/10/2026) demi memperkuat infrastruktur pendukung penerbitan karya seni lokal. Rangkaian acara edukatif ini mendorong ruang pameran agar berfungsi maksimal sebagai pabrik pengetahuan bagi publik luas.
****









