Siti Patmawati (34) menggenggam tangga tali kapal yang mengangkut batu bara. Helm, jaket pelampung, sarung tangan, dan sepatu keselamatan melekat di tubuhnya. Siti menaiki satu per satu anak tangga. Di titik pilot on board (POB) yang berjarak sekitar 2 mill dari bibir Pantai Cirebon, Siti bergelantungan, diterpa angin laut, dan harus tiba di anjungan kapal dengan selamat.
Tugas berat itu dijalani Siti tak kenal waktu. Pada siang dan malam, cerah maupun hujan, hingga beragam cuaca buruk di lautan telah dilalui. Setiap ada panggilan tugas, dia langsung berangkat menemui kapal kargo raksasa di titik POB. Siti tak pernah gentar.

Baginya, memandu kapal yang mengangkut logistik nasional agar mendarat dengan selamat di dermaga, adalah prioritas utama. Begitulah perempuan kelahiran Jakarta mendeskripsikan tugasnya saat ditemui di Kantor Area V PT Jasa Armada Indonesia (JAI) Tbk, di kawasan Pelabuhan pada Rabu (23/9/2026).
Sebagai petugas pandu, tugas Siti bukanlah memegang kemudi, melainkan menjadi komando utama. Siapa pun kaptennya, sehebat apa pun pengalamannya menembus samudera laut lepas, petugas pandu lokal memegang peranan krusial untuk memandu kapal bersandar maupun keluar pelabuhan dengan selamat, aman, dan efisien.
“Jadi, (tugasnya) bukan bawa kapal. Di anjungan, saya mengarahkan kapal bergerak ke kanan ke kiri, kapan mesin mati, kapan mesin harus maju. Karena kapal enggak ada remnya. Jadi kita harus tahu arus dan anginya ke mana, ini semua untuk memastikan kapal bersandar dengan aman,” kata Siti.
Sudah tiga bulan Siti menjadi petugas pandu yang bertugas di Area V PT JAI Tbk, di perairan Kanci, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Posisi ini membuatnya tercatat sebagai petugas pandu perempuan pertama di seluruh area operasi PT JAI di Indonesia. Baginya, kebijakan memosisikan perempuan pada petugas pandu merupakan langkah progresif.
Di mata Siti, dunia maritim Indonesia masih didominasi kaum pria. Jumlah pelaut perempuan maih sangat minim, terlebih petugas petugas pandu perempuan yang masih dihitung jari. Tak heran jika Siti kerap berhadapan dengan keraguan atau pandangan sebelah mata.
Siti mengisahkan, satu ketika dia berhadapan dengan seorang kapten yang tampak ragu terhadapnya. Sang kapten menjabat tangan Siti dengan sangat dingin, memberinya banyak tanya, hingga menunjukkan gestur was-was.
Siti tak merespons. Dia bersikap tenang, menjaga professionalisme, dan membuktikan kemampuannya, bahwa perempuan pun bisa. Setelah bersandar dengan selamat, sang kapten memberinya senyum.
“Saya sering merasakan itu. Pernah ya di Kanci, sesuai SOP tiba di anjungan, saya mengenalkan diri, menyapa, dan membangun komunikasi baik dengan kapten. Saat salaman, tangan kapten itu sangat dingin. Telapak tangan dingin itu kan tanda gugup, takut, was-was. Tapi saya tenang, saya jalani dengan profesional, dan akhirnya kapal mendarat selamat,” kata Siti.
Kapal-kapal yang ditangani Siti mayoritas adalah kapal kargo penyuplai batu bara dari Kalimantan menuju Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Kanci I dan II, dengan kapasitas antara 10.000-13.000 ton.
Siti menyadari betul, setiap pergerakan kapal yang ia pandu membawa dampak besar bagi kehidupan masyarakat luas, khususnya pasokan energi listrik. Dalam sebulan, Siti bersama rekan lainnya memandu dan menunda pergerakan sekitar 160 kapal.
Siti terpilih di posisi yang penuh resiko dan vital ini karena perjalanan melautnya yang cukup panjang. Dia lulus di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta jurusan Nautika tahun 2015. Setelah lulus, ia melanglang buana menjadi perwira hingga menahkodai berbagai kapal kargo kontainer hingga kapal latih.
Pengalaman berlayarnya membentang dari perairan domestik Indonesia hingga kawasan Asia Timur, seperti Korea, Jepang, Thailand, Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Singapura.
****









