Menu

Mode Gelap
Spanyol Hadapi Gelombang Panas Ketiga, Suhu Bisa Capai 45 Derajat Celsius Kurangi Ketergantungan Gawai, KKN Unhas Edukasi Siswa SD Permainan Tradisional di Bone Presiden Prabowo: Anggaran Pertahanan dan Polri Bila Perlu Dikurangi untuk Hapus Kemiskinan Sosok Ibrahim Al Abrar, Bocah SD Boyolali Penemu Celah Keamanan Web NASA Eks Pejabat Dinas PUTR Batu Bara Divonis 6 Tahun di Kasus Korupsi Jalan Rp 43 M Kisah April DA7 yang Menginspirasi, Ketekunan Bawa Dirinya dari Jalanan ke Dunia Hiburan

Warta Nusantara

Tanah Ambles, Air Laut Naik, BRIN: Kawasan Pantura Jawa Semakin Terancam Tenggelam

badge-check


					Tanah Ambles, Air Laut Naik, BRIN: Kawasan Pantura Jawa Semakin Terancam Tenggelam Perbesar

Kawasan Pantai Utara Jawa (Pantura) menghadapi ancaman ganda yang semakin mengkhawatirkan. Penurunan tanah yang terjadi di berbagai kawasan pesisir mulai dari Jakarta, Bekasi, Indramayu, Cirebon, Subang, Pemalang, Pekalongan, hingga Demak, diperparah oleh kenaikan tinggi muka air laut yang mencapai 4,3 milimeter per tahun. Kombinasi keduanya berpotensi memperluas genangan permanen jika tidak segera ditangani.

Peneliti Pusat Riset Geoinformatika BRIN Agung Syetiawan mengatakan salah satu faktor utama penyebab penurunan tanah atau subsidence di kawasan pesisir adalah eksploitasi air tanah yang berlebihan, baik untuk kebutuhan air bersih masyarakat maupun aktivitas budidaya seperti tambak udang.

“Data pengamatan GNSS yang diperoleh dari Indonesia Continuously Operating Reference Station memperlihatkan pola deformasi vertikal yang cenderung tidak linear di sebagian besar wilayah Pantura,” ujar Agung, Minggu (31/5).

Berdasarkan hasil analisis data altimetri, tren kenaikan muka laut berada pada kisaran 2,4 hingga 4,3 milimeter per tahun. Melalui pemodelan geospasial, sejumlah wilayah pesisir Pantura berpotensi mengalami genangan permanen jika mitigasi tidak dilakukan.

Kawasan Muara Gembong dan beberapa wilayah pesisir Jakarta, Tangerang, dan Bekasi disebut sudah mengalami perluasan area genangan akibat kombinasi kedua faktor itu.

Agung menekankan rencana pembangunan infrastruktur mitigasi seperti giant sea wall perlu mempertimbangkan hasil kajian geospasial secara komprehensif agar wilayah prioritas penanganan dapat ditentukan secara tepat.

Kebijakan berbasis data geospasial juga dinilai penting dalam mendukung pembangunan pesisir berkelanjutan, mencakup pengendalian sumur bor, rehabilitasi mangrove, dan evaluasi pembangunan tanggul laut.

Untuk memantau penurunan tanah secara lebih akurat, BRIN bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung melakukan pengamatan episodik melalui pemasangan pilar benchmark permanen di sejumlah titik dengan laju penurunan tinggi yang dipantau setiap tahun.

Kepala Pusat Riset Geoinformatika BRIN Rokhis Khomarudin menegaskan persoalan penurunan tanah dan degradasi ekosistem pesisir adalah masalah multidisiplin yang tidak bisa diselesaikan tanpa dukungan riset geospasial yang berkelanjutan.

“Pemanfaatan teknologi GIS dan remote sensing menjadi sangat penting untuk mendukung pemantauan, analisis, serta penyusunan strategi mitigasi yang berbasis data ilmiah,” ujar Rokhis.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Presiden Prabowo: Anggaran Pertahanan dan Polri Bila Perlu Dikurangi untuk Hapus Kemiskinan

18 Juli 2026 - 23:47 WITA

Presiden Prabowo: LNG Abadi Masela Jadi Tonggak Kemandirian Energi dan Mesin Baru Kemakmuran Rakyat

17 Juli 2026 - 06:07 WITA

Yusril: Pemerintah Tunggu DPR Selesai Susun RUU Perampasan Aset

15 Juli 2026 - 05:37 WITA

Prabowo Minta Militer, Polisi, Jaksa Introspeksi: Bintangmu Uang Rakyat

11 Juli 2026 - 05:40 WITA

Luncurkan Biodiesel B50, Presiden Prabowo: Kemandirian Energi adalah Pilar Kedaulatan Bangsa

10 Juli 2026 - 06:21 WITA

Trending di Warta Nusantara