Menu ✖

Mode Gelap
Presiden Prabowo Sambut Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang TNI AL Amankan Tugboat Pembawa Ribuan Kubik Kayu Log di Perairan Utara Pulau Buru Kisah Ibu-ibu Pemindang Ikan Kusamba, 28 Tahun Kerja Cuma Libur Nyepi-Galungan KPK Evaluasi Alasan Nusron Wahid Mangkir Sebelum Terbitkan Surat Perintah Membawa DPD RI Desak Menag Perkuat Pengawasan Anak Lindungi dari Kekerasan Seksual Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

Warta Nusantara

Tanah Ambles, Air Laut Naik, BRIN: Kawasan Pantura Jawa Semakin Terancam Tenggelam

badge-check


					Tanah Ambles, Air Laut Naik, BRIN: Kawasan Pantura Jawa Semakin Terancam Tenggelam Perbesar

Kawasan Pantai Utara Jawa (Pantura) menghadapi ancaman ganda yang semakin mengkhawatirkan. Penurunan tanah yang terjadi di berbagai kawasan pesisir mulai dari Jakarta, Bekasi, Indramayu, Cirebon, Subang, Pemalang, Pekalongan, hingga Demak, diperparah oleh kenaikan tinggi muka air laut yang mencapai 4,3 milimeter per tahun. Kombinasi keduanya berpotensi memperluas genangan permanen jika tidak segera ditangani.

Peneliti Pusat Riset Geoinformatika BRIN Agung Syetiawan mengatakan salah satu faktor utama penyebab penurunan tanah atau subsidence di kawasan pesisir adalah eksploitasi air tanah yang berlebihan, baik untuk kebutuhan air bersih masyarakat maupun aktivitas budidaya seperti tambak udang.

“Data pengamatan GNSS yang diperoleh dari Indonesia Continuously Operating Reference Station memperlihatkan pola deformasi vertikal yang cenderung tidak linear di sebagian besar wilayah Pantura,” ujar Agung, Minggu (31/5).

Berdasarkan hasil analisis data altimetri, tren kenaikan muka laut berada pada kisaran 2,4 hingga 4,3 milimeter per tahun. Melalui pemodelan geospasial, sejumlah wilayah pesisir Pantura berpotensi mengalami genangan permanen jika mitigasi tidak dilakukan.

Kawasan Muara Gembong dan beberapa wilayah pesisir Jakarta, Tangerang, dan Bekasi disebut sudah mengalami perluasan area genangan akibat kombinasi kedua faktor itu.

Agung menekankan rencana pembangunan infrastruktur mitigasi seperti giant sea wall perlu mempertimbangkan hasil kajian geospasial secara komprehensif agar wilayah prioritas penanganan dapat ditentukan secara tepat.

Kebijakan berbasis data geospasial juga dinilai penting dalam mendukung pembangunan pesisir berkelanjutan, mencakup pengendalian sumur bor, rehabilitasi mangrove, dan evaluasi pembangunan tanggul laut.

Untuk memantau penurunan tanah secara lebih akurat, BRIN bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung melakukan pengamatan episodik melalui pemasangan pilar benchmark permanen di sejumlah titik dengan laju penurunan tinggi yang dipantau setiap tahun.

Kepala Pusat Riset Geoinformatika BRIN Rokhis Khomarudin menegaskan persoalan penurunan tanah dan degradasi ekosistem pesisir adalah masalah multidisiplin yang tidak bisa diselesaikan tanpa dukungan riset geospasial yang berkelanjutan.

“Pemanfaatan teknologi GIS dan remote sensing menjadi sangat penting untuk mendukung pemantauan, analisis, serta penyusunan strategi mitigasi yang berbasis data ilmiah,” ujar Rokhis.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Presiden Prabowo Sambut Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang

19 Oktober 2026 - 03:01 WITA

Presiden Prabowo Instruksikan Transformasi Menyeluruh PLN, Fokus Efisiensi dan Percepat Energi Surya 100 GW

16 Oktober 2026 - 02:52 WITA

Pemerintah Intensifkan Penanganan Karhutla, Operasi Darat dan Udara Terus Dioptimalkan

14 Oktober 2026 - 07:21 WITA

Pertemuan Presiden Prabowo dan Presiden El-Sisi Hasilkan Empat Kesepakatan Kerja Sama

12 Oktober 2026 - 05:13 WITA

Presiden Prabowo Sambut Presiden Mesir El-Sisi dengan Upacara Kenegaraan di Istana Merdeka

11 Oktober 2026 - 07:29 WITA

Trending di Warta Nusantara