Menu

Mode Gelap
Dari Ruang Kelas SMPN 111 Jakarta, Cita-Cita Besar Menggema di Hadapan Presiden Prabowo Nilai ekonomi jamu tembus Rp1,2 triliun, BPOM dorong inovasi herbal Kejagung Geledah Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana IOM serukan penguatan koordinasi lintas batas tekan wabah Ebola Timnas Basket U18 Putri Indonesia kalahkan Singapura KPK Sita Dolar dan Emas dalam OTT Kepala Imigrasi Jakarta Barat

Warta Nusantara

Tanah Ambles, Air Laut Naik, BRIN: Kawasan Pantura Jawa Semakin Terancam Tenggelam

badge-check


					Tanah Ambles, Air Laut Naik, BRIN: Kawasan Pantura Jawa Semakin Terancam Tenggelam Perbesar

Kawasan Pantai Utara Jawa (Pantura) menghadapi ancaman ganda yang semakin mengkhawatirkan. Penurunan tanah yang terjadi di berbagai kawasan pesisir mulai dari Jakarta, Bekasi, Indramayu, Cirebon, Subang, Pemalang, Pekalongan, hingga Demak, diperparah oleh kenaikan tinggi muka air laut yang mencapai 4,3 milimeter per tahun. Kombinasi keduanya berpotensi memperluas genangan permanen jika tidak segera ditangani.

Peneliti Pusat Riset Geoinformatika BRIN Agung Syetiawan mengatakan salah satu faktor utama penyebab penurunan tanah atau subsidence di kawasan pesisir adalah eksploitasi air tanah yang berlebihan, baik untuk kebutuhan air bersih masyarakat maupun aktivitas budidaya seperti tambak udang.

“Data pengamatan GNSS yang diperoleh dari Indonesia Continuously Operating Reference Station memperlihatkan pola deformasi vertikal yang cenderung tidak linear di sebagian besar wilayah Pantura,” ujar Agung, Minggu (31/5).

Berdasarkan hasil analisis data altimetri, tren kenaikan muka laut berada pada kisaran 2,4 hingga 4,3 milimeter per tahun. Melalui pemodelan geospasial, sejumlah wilayah pesisir Pantura berpotensi mengalami genangan permanen jika mitigasi tidak dilakukan.

Kawasan Muara Gembong dan beberapa wilayah pesisir Jakarta, Tangerang, dan Bekasi disebut sudah mengalami perluasan area genangan akibat kombinasi kedua faktor itu.

Agung menekankan rencana pembangunan infrastruktur mitigasi seperti giant sea wall perlu mempertimbangkan hasil kajian geospasial secara komprehensif agar wilayah prioritas penanganan dapat ditentukan secara tepat.

Kebijakan berbasis data geospasial juga dinilai penting dalam mendukung pembangunan pesisir berkelanjutan, mencakup pengendalian sumur bor, rehabilitasi mangrove, dan evaluasi pembangunan tanggul laut.

Untuk memantau penurunan tanah secara lebih akurat, BRIN bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung melakukan pengamatan episodik melalui pemasangan pilar benchmark permanen di sejumlah titik dengan laju penurunan tinggi yang dipantau setiap tahun.

Kepala Pusat Riset Geoinformatika BRIN Rokhis Khomarudin menegaskan persoalan penurunan tanah dan degradasi ekosistem pesisir adalah masalah multidisiplin yang tidak bisa diselesaikan tanpa dukungan riset geospasial yang berkelanjutan.

“Pemanfaatan teknologi GIS dan remote sensing menjadi sangat penting untuk mendukung pemantauan, analisis, serta penyusunan strategi mitigasi yang berbasis data ilmiah,” ujar Rokhis.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

BMKG prakirakan potensi gelombang hingga 4 meter di perairan selatan

3 Juni 2026 - 06:25 WITA

BPS: Neraca dagang RI Januari-April 2026 surplus 5,64 miliar dolar AS

2 Juni 2026 - 05:58 WITA

Hari Lahir Pancasila, Presiden Prabowo Tegaskan Transformasi Menuju Ekonomi Pancasila yang Berkeadilan

1 Juni 2026 - 07:02 WITA

LAN: ASN harus jadi teladan etika digital berdasarkan Pancasila

30 Mei 2026 - 01:40 WITA

Iduladha Perdana di Masjid Negara IKN, Sapi Kurban Presiden dan Wakil Presiden Disalurkan untuk Masyarakat dan Pekerja

28 Mei 2026 - 06:37 WITA

Trending di Warta Nusantara