Menu

Mode Gelap
Presiden Putin: Indonesia Mitra Paling Kunci bagi Rusia di Kawasan Asia Pasifik 12 Pasang Atlet TNI AU Siap Berjuang, Kobarkan Semangat Prestasi di Piala Panglima TNI 2026 Keluarga Jadi Kekuatan Suksesnya Pembudidaya Ikan Nila Lestari di Manganitu Presiden Prabowo Jadi Tamu Kehormatan Utama EEF ke-11 di Vladivostok Sherina Munaf Turun Tangan Bantu Padamkan Karhutla di Kalimantan Kisah Desa di Pekalongan yang Berdamai dengan Satwa Liar, Punya Aturan Larangan Berburu

Warta Daerah

300 ASN di DPRD Riau Dipindahkan Imbas Kasus Dugaan Korupsi SPPD Fiktif

badge-check


					300 ASN di DPRD Riau Dipindahkan Imbas Kasus Dugaan Korupsi SPPD Fiktif Perbesar

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau bakal memindahkan semua aparatur sipil negara (ASN) di Sekretariat Dewan (Setwan) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Riau imbas kasus dugaan korupsi perjalanan dinas fiktif.

Sedikitnya, ada sekitar 300 ASN di DPRD Riau yang kena “cuci gudang”. Mereka akan dipindahkan ke instansi lain akibat kasus Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) fiktif.

Langkah ini diambil langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto.

“Kebijakan ini kami ambil untuk penyegaran dengan sistem baru. Ini murni penyegaran organisasi,” ucap Hariyanto saat diwawancarai wartawan di Pekanbaru, Selasa (19/5/2026).

Putus Praktik Lama

Hariyanto menegaskan, langkah tersebut dilakukannya semata-mata untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang lebih bersih, akuntabel, dan bebas dari praktik yang merugikan keuangan daerah pada masa mendatang.

Ia pun meminta kepada masyarakat untuk tidak terpengaruh isu simpang siur terkait perombakan besar-besaran di kantor wakil rakyat tersebut.

Hariyanto menyebut, dugaan praktik SPPD fiktif di Setwan DPRD Riau bukan lagi persoalan baru. Masalah tersebut sudah menjadi pola yang mengakar di dalam sistem kerja internal di Setwan DPRD Riau.

Menurutnya, pola penyimpangan yang terus muncul setiap tahun menjadi alarm serius bagi pemerintah daerah untuk melakukan pembenahan menyeluruh.

“Jadi, kami memilih melakukan pergantian seluruh ASN di Setwan (DPRD) Riau untuk memutus rantai praktik lama. Kalau orangnya tetap (meskipun sistem baru), pola lama dikhawatirkan ikut terbawa. Maka kami lakukan penyegaran total,” ujar Hariyanto.

Hariyanto menyebut, ratusan ASN yang dipindahkan itu, nantinya akan ditempatkan di sejumlah instansi dibawah naungan Pemprov Riau.

Seperti di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Satpol PP, hingga ke beberapa panti sosial milik pemerintah daerah. Secara teknis, proses pemindahan dilakukan dalam dua tahap.

“Pemindahan ditargetkan tuntas dalam waktu maksimal dua bulan agar pelayanan di lingkungan Setwan DPRD Provinsi Riau tetap berjalan normal. Jadi, pergantiannya dua tahap,” kata Hariyanto.

SF Hariyanto menegaskan, pergantian massal ini tidak bermuatan politik ataupun bentuk hukuman kolektif terhadap ASN.

“Ini demi memperbaiki tata kelola pemerintahan dan menyelamatkan keuangan daerah dari praktik yang terus berulang,” kata Hariyanto.

Kasus SPPD Fiktif

Sebagaimana diberitakan, Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Riau, mengusut kasus dugaan korupsi perjalanan dinas fiktif di Setwan DPRD Riau.

Dugaan korupsi ini terjadi pada tahun anggaran 2020-2021. Dalam kasus ini, menyeret nama mantan Pj Wali Kota Pekanbaru, Muflihun, yang menjabat sebagai Sekretaris DPRD Riau di periode itu.

Berdasarkan hasil penyelidikan, penyidik menemukan sejumlah bukti yang memperkuat adanya korupsi perjalanan dinas fiktif. Di antaranya, surat perjalanan dinas fiktif, tempat penginapan fiktif, hingga 35.000 lebih tiket pesawat fiktif.

Sebab, saat itu tidak ada penerbangan pesawat karena sedang dilanda virus Covid-19. Penyidik kemudian meningkatkan status penyelidikan ke penyidikan.

Dalam proses penyidikan, polisi memanggil saksi-saksi yang diduga menerima aliran dana korupsi tersebut. Di antaranya, 400 lebih pegawai dan pejabat di Setwan DPRD Riau.

Usut punya usut, ternyata uang rakyat itu juga mengalir ke artis Hana Hanifah, yang diduga untuk membayar jasa. Uang itu diberikan seorang ASN di Setwan DPRD Riau.

Selain itu, penyidik juga menyita 4 apartemen di Batam, Kepulauan Riau. Salah satu apartemen adalah milik Muflihun. Lalu, penyidik menyita salah satu rumah milik Muflihun di Pekanbaru.

Dari hasil pengembangan, penyidik kembali menyita 11 unit homestay di Kabupaten Limopuluh, Sumatera Barat. Aset-aset yang disita ini diduga dibeli dengan uang hasil korupsi.

Akibat kasus ini, polisi menghitung kerugian negara mencapai Rp 195,9 miliar. Penyidik telah menemukan bukti adanya pelanggaran hukum dalam penggunaan anggaran perjalanan dinas tersebut.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kisah Desa di Pekalongan yang Berdamai dengan Satwa Liar, Punya Aturan Larangan Berburu

3 September 2026 - 05:21 WITA

Strategi Tepat Hadapi El Nino, Petani di Luwu Utara Sukses Panen Raya

31 Agustus 2026 - 09:09 WITA

El Nino Picu Migrasi Ikan, Nelayan Kecil Hadapi Beban Ongkos Melaut

29 Agustus 2026 - 05:42 WITA

Jalan ke Kawasan Baduy Lebak Rusak, Tokoh Adat Harap Segera Diperbaiki

28 Agustus 2026 - 04:53 WITA

Update Gempa NTT: 91 Orang Meninggal, 1.286 Luka dan 161.084 Mengungsi

24 Agustus 2026 - 05:48 WITA

Trending di Warta Daerah