Dari “berfoto di tempat wisata” hingga interaksi budaya yang imersif, dan dari sekadar jalan-jalan hingga partisipasi langsung, “wisata kota kuno + ekonomi pengalaman” muncul sebagai tren yang berkembang pesat di seluruh China dalam beberapa tahun terakhir, menjadi pendorong baru bagi pertumbuhan konsumsi dan perkembangan pariwisata budaya.
Menyusuri jalanan berusia ratusan tahun, mengenakan busana tradisional Hanfu, serta membuat kerajinan tangan warisan budaya takbenda (intangible cultural heritage/ICH) yang dipersonalisasi kini semakin populer di kalangan wisatawan.

Menurut data dari Kementerian Perdagangan China, jumlah pelancong lintas provinsi di berbagai platform utama selama masa liburan tersebut meningkat 7,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), sementara pengeluaran untuk menyaksikan pertunjukan naik 17,6 persen.
Selama libur Hari Buruh (May Day) baru-baru ini, pasar pariwisata China mengalami pergeseran nyata dari perjalanan wisata singkat menjadi perjalanan wisata yang lebih mendalam dan berorientasi pada pengalaman, dengan ekonomi pengalaman menjadi mesin baru dalam mendorong potensi konsumsi.
Di kota kuno Datong di Provinsi Shanxi, China utara, deretan toko yang menawarkan kerajinan tangan ICH, fotografi busana tradisional, serta pengalaman interaktif lainnya berjajar di sepanjang jalan, menarik arus wisatawan.
Di dalam salah satu toko pengalaman ICH, karya-karya seni menggunting kertas (paper cutting) dan menggosok tembaga (copper rubbing) tertata rapi, dan banyak pengunjung memilih membuat kerajinan mereka sendiri setelah melihat-lihat koleksi yang dipamerkan.
“Menggosok tembaga merupakan proyek workshop kerajinan ICH khas Datong. Kerajinan ini sangat interaktif dan memungkinkan wisatawan bisa merasakan langsung pesona budaya tradisional,” kata Li Qing, kepala toko pengalaman tersebut.
Menurut Li, sebagian besar pelanggan adalah keluarga dan pasangan. Orang tua sering memilih pola yang melambangkan keberhasilan akademik untuk anak-anak mereka, sementara pasangan lebih menyukai desain bertema romantis.
“Dibandingkan produk jadinya, pengunjung justru lebih menikmati pengalaman emosional selama proses pembuatan kerajinan,” ujarnya.
Studio-studio yang menampilkan patung adonan, patung tanah liat, tembikar, dan ukiran kenari berderet di sepanjang gang bergaya kuno, tempat wisatawan dapat langsung berpartisipasi dalam pembuatan kerajinan tradisional, mengubah kegiatan tamasya menjadi dialog yang berkesan dengan budaya tradisional.
“Mengalami langsung pembuatan kerajinan tradisional di lingkungan kuno seperti ini memberi kami rasa keterlibatan yang kuat,” ujar Wang Xin, seorang wisatawan.
Sementara itu, pengalaman ICH juga menjadi daya tarik utama di kota kuno Xinzhou, yang juga berada di Provinsi Shanxi. Selama libur Hari Buruh, kota kuno Xinzhou menerima 573.300 kunjungan wisatawan.
Seni patung adonan Xinzhou, yang merupakan produk ICH tingkat nasional di China, sangat populer di kalangan pengunjung.
“Toko kami kecil, namun kami tetap menerima lebih dari 20 pengunjung setiap hari untuk mencoba membuat patung adonan,” kata Lu Peihong, kepala Studio Patung Adonan Dahai di kota kuno Xinzhou.
“Pariwisata pada dasarnya merupakan bagian dari ekonomi pengalaman,” ujar Dai Bin, presiden Akademi Pariwisata China (China Tourism Academy). Dia mengatakan bahwa permintaan wisatawan sedang bergeser dari nilai fungsional menjadi nilai emosional, dan pengembangan terpadu dari budaya, perdagangan, olahraga, serta pariwisata sedang menciptakan pengalaman konsumsi komprehensif yang berorientasi masa depan.
Jin Zhun, sekretaris jenderal Pusat Penelitian Pariwisata di Akademi Ilmu Sosial China (Chinese Academy of Social Sciences/CASS), mengatakan bahwa inti dari ekonomi pengalaman adalah penciptaan skenario yang membangkitkan emosi dan resonansi spiritual, sehingga menghasilkan momentum ekonomi.
“Tembok kota kuno yang sama dapat menghasilkan nilai pengalaman yang sepenuhnya berbeda melalui eksplorasi kreatif,” kata Jin.
Menurut Buku Hijau Pariwisata — Perkembangan Pariwisata China pada 2025-2026: Analisis dan Prediksi (Tourism Green Paper — China’s Tourism Development in 2025-2026: Analysis and Prediction) yang dirilis pada akhir 2025, industri pariwisata China sedang membentuk ulang batas-batas konsumsi dengan menempatkan pengalaman sebagai inti, mengembangkan pasar ceruk (niche market) yang didorong oleh permintaan beragam, serta mengoptimalkan rantai industri melalui pengembangan berbasis layanan. Sektor ini sedang menunjukkan tren menuju kualitas yang lebih tinggi, diversifikasi, dan pengoperasian yang lebih terarah.
Seiring kebijakan pendukung yang terus menunjukkan dampak dan skenario konsumsi yang semakin beragam, integrasi mendalam antara pariwisata kota kuno dan ekonomi pengalaman menyuntikkan vitalitas berkelanjutan ke pasar konsumen China.
****









