Dampak pandemi COVID-19 pada 2020-2024 memberikan tantangan besar bagi kelompok penyandang disabilitas intelektual. Meskipun berbagai upaya pemulihan telah dilakukan sejak 2024, masih diperlukan penguatan melalui inovasi program yang lebih tepat sasaran.
Indonesia, negara dengan populasi penyandang disabilitas intelektual yang besar, memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem inklusi yang berkelanjutan. Untuk itu, Pengurus Pusat Special Olympics Indonesia (PP SOIna) akan berpartisipasi Strategic Meeting Special Olympics Asia Pacific (SOAP).

Pertemuan strategis untuk membahas struktur organisasi dan program itu akan berlangsung di Singapura pada 5 hingga 8 Mei 2026. Forum akan dihadiri delegasi dari Malaysia, Vietnam, dan Filipina untuk bertukar pengalaman dan merumuskan strategi pengembangan berkelanjutan bagi atlet tunagrahita.
Delegasi Indonesia dipimpin oleh Ketua Umum PP SOIna Warsito Ellwein, bersama Ine Kharisma dan Amran Siregar. Dalam forum tersebut, Indonesia akan mempresentasikan model pengembangan atlet melalui klub-klub SOIna yang telah berkembang di berbagai daerah.
Klub SOIna berfungsi sebagai wadah inklusif yang mempertemukan atlet, pelatih, orang tua, relawan, dan masyarakat dalam satu ekosistem. Program klub mencakup berbagai cabang olahraga sekaligus kegiatan non-olahraga.
Menurut Ine Kharisma, saat ini SOIna telah memiliki sekitar 350 klub yang tersebar di seluruh Indonesia. “Kami mengembangkan klub sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing kabupaten/kota di setiap provinsi,” ujar Ine Kharisma.
Delegasi Indonesia dipimpin oleh Ketua Umum PP SOIna Warsito Ellwein, bersama Ine Kharisma dan Amran Siregar. Dalam forum tersebut, Indonesia akan mempresentasikan model pengembangan atlet melalui klub-klub SOIna yang telah berkembang di berbagai daerah.
Klub SOIna berfungsi sebagai wadah inklusif yang mempertemukan atlet, pelatih, orang tua, relawan, dan masyarakat dalam satu ekosistem. Program klub mencakup berbagai cabang olahraga sekaligus kegiatan non-olahraga.
Menurut Ine Kharisma, saat ini SOIna telah memiliki sekitar 350 klub yang tersebar di seluruh Indonesia. “Kami mengembangkan klub sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing kabupaten/kota di setiap provinsi,” ujar Ine Kharisma.
Pasca pandemi, setiap negara menghadapi tantangan yang berbeda dalam membangun kembali program. SOIna saat ini masih mengandalkan dukungan pendanaan dari pemerintah daerah serta kemitraan dengan berbagai pihak.
Berbeda jauh dengan India yang memperoleh dukungan signifikan dari pemerintah pusat dengan pendanaan sekitar US$10 juta per tahun, “Agar pengembangan atlet dapat berjalan berkelanjutan, kami terus membangun kemitraan dengan berbagai pihak,” kata Ine Kharisma, yang juga menjabat sebagai Manajer Klub PP SOIna.
Lebih lanjut, Ine menyoroti masih terbatasnya dukungan infrastruktur dan pendanaan dari pemerintah pusat. Menurutnya, diperlukan peningkatan pemahaman publik mengenai keberadaan penyandang disabilitas intelektual sebagai bagian penting dari keberagaman masyarakat Indonesia.
Pada waktu bersamaan dengan Strategic Meeting, SOAP juga menyelenggarakan forum kepelatihan. Direktur Operasional SOIna Amran Siregar akan mengikuti diskusi bersama perwakilan dari Australia, Jepang, Bangladesh, Pakistan, India, Singapore, Thailand, dan New Zealand.
****









