Menu ✖

Mode Gelap
Presiden Prabowo Sambut Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang TNI AL Amankan Tugboat Pembawa Ribuan Kubik Kayu Log di Perairan Utara Pulau Buru Kisah Ibu-ibu Pemindang Ikan Kusamba, 28 Tahun Kerja Cuma Libur Nyepi-Galungan KPK Evaluasi Alasan Nusron Wahid Mangkir Sebelum Terbitkan Surat Perintah Membawa DPD RI Desak Menag Perkuat Pengawasan Anak Lindungi dari Kekerasan Seksual Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

Warta Utama

Kisah Pengabdian Nur, Ibu Guru Tunanetra Setiap Hari Tempuh 30 Km Demi Cerdaskan Siswa Disabilitas

badge-check


					Kisah Pengabdian Nur, Ibu Guru Tunanetra Setiap Hari Tempuh 30 Km Demi Cerdaskan Siswa Disabilitas Perbesar

Kala itu, Raden Ajeng Kartini berjuang untuk persamaan hak pada kaum perempuan. Namun saat ini muncul ‘Kartini baru’ yang berjuang untuk persamaan hak kaum penyandang cacat yang kerap dipandang sebelah mata.

Sosok Kartini yang kini telah bertranformasi di Kabupaten Kudus Jawa Tengah itu, adalah tunanetra bernama Nur Chasanah.

Wanita tunanetra yang berusia 38 tahun ini, berprofesi sebagai guru yang berstatus pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja. Ia mengajar mata pelajaran Agama Islam di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Purwosari Kudus.

Nur yang mengidolkan Gus Dur ini menganggap kondisi yang ada pada dirinya bukan menjadi penghalang untuk mengabdi sebagai guru.

Meski memiliki keterbatasan fisik tidak bisa melihat, namun tak menghalangi Nur, demikian ia akrab disapa, menjadi sosok pengajar yang terinspirasi dari semangat ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’.

Dari kumpulan surat dan buah pemikiran inspiratif Raden Adjeng Kartini itu, Nur ingin membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi niat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Prinsip itu diwujudkan Nur Chasanah dalam kesehariannya, mengajar para murid di SLB Negeri Purwosari Kudus.

Nur mengajarkan banyak hal kepada para muridnya, yakni baca tulis huruf braille dan pelajaran Agama Islam kepada murid-muridnya.

Meski memiliki keterbatasan, Nur Chasanah mengaku tetap bersemangat untuk mengajar murid-muridnya yang juga penyandang tunanetra di SLB Purwosari.

Setiap hari, ia harus menempuh jarak hingga 30 kilometer dari rumahnya di Dukuh Watuputih, Desa Terban, Kecamatan Jekulo Kudus, untuk pergi dan pulang mengajar di sekolah.

Perempuan lulusan Sarjana Kependidikan Islam dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2012 silam ini, mengawali karier sebagai tenaga pengajar di SLB A dan A Ganda Bina Insan Istiqomah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat tahun 2013.

Di sekolah tersebut, Chasanah mengabdi selama dua tahun. Menginjak bulan Juli tahun 2016, ia pun hijrah di Kudus dan menjadi guru di SLB Purwosari hingga saat ini.

”Di SLB Purwosari saya menjadi guru kelas 1,2, dan 3 khusus tunanetra jenjang SD dan guru mapel Pendidikan Agama Islam. Namun belakangan ini, saya sudah menjadi guru kelas setingkat SMA atau kelas XI dan XII,” kata Nur mengawali perbincangan, Senin (20/4/2026).

Perjalanan Chasanah dari rumahnya untuk pulang pergi menuju sekolahnya memang cukup jauh.

Meski demikian, ia terbiasa menggunakan jasa ojek online untuk menjalani aktivitasnya setiap hari. Ia harus mengeluarkan anggaran Rp 600 ribu sebulan untuk biaya transportasi.

”Kalau berangkat sekolah, saya sekalian bareng sama saudara dan pulangnya saya naik ojek online. Sebulan untuk transportasi Rp 600 ribu. Alhamdulillah masih cukup jika dengan gaji yang saat ini yang saya terima sekitar Rp 2,6 juta,” terangnya.

Rasa capek cukup melelahkan saat perjalanan pun hilang, setelah ia sampai di sekolah dan bertemu dengan murid-muridnya.

Chasanah mengaku sejak kecil bercita-cita menjadi guru, karena ingin ilmu yang dimilikinya bermanfaat bagi banyak orang.

”Saya sejak kecil ingin menjadi guru. Saya terinspirasi oleh guru-guru saya terutama kepada Presiden Gus Dur yang memiliki masalah penglihatan namun tetap bisa mengabdi kepada Negara dan menjadi orang nomor 1 di Indonesia,” cetusnya bersemangat.

Banyak mimpi dan harapan yang belum tergapai. Tampak sederhana permintaan Nur Chasanah. Orang cacat tak meminta prioritas, melainkan ingin diperlakukan sama dengan orang biasa.

“Sebab cacat bukan hambatan dalam berprestasi dan memberikan yang terbaik untuk bangsa,” tutur ibu dengan dua anak tersebut sesaat hendak pulang ke rumahnya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kisah Ibu-ibu Pemindang Ikan Kusamba, 28 Tahun Kerja Cuma Libur Nyepi-Galungan

19 Oktober 2026 - 02:57 WITA

Muhammad Saidil, Bocah 9 Tahun Kayuh Sepeda 12 Km Demi Bawa Ayah Berobat ke RSUD Sigli

16 Oktober 2026 - 02:50 WITA

Cerita ABK KM Maulana Dianiaya, Dipukul hingga Disiram Air Panas

11 Oktober 2026 - 04:57 WITA

Presiden Prabowo: Pemerintah Tidak Menyerah dalam Membela Kebenaran, Keadilan dan Kepentingan Rakyat

7 Oktober 2026 - 03:23 WITA

SD Negeri Purwosari Sleman Sulap 600 Galon Bekas Jadi Kebun Sayur

2 Oktober 2026 - 07:16 WITA

Trending di Warta Utama