Menu

Mode Gelap
Wamen Imipas Silmy Karim dan 7 Pejabat Imigrasi Ditahan KPK Kodaeral IX-Wanadri ekspedisi selam di Pulau Buru jaga ekosistem laut Titi DJ Buka Suara Usai Sebut Ada yang Lebih Bagus Nyanyikan ‘Sang Dewi’ dari Lyodra Puskesmas Tebing Tinggi Hadirkan Inovasi Cegah Penyakit Menular 3 Eks Pimpinan Lembaga BGN Ditetapkan Jadi Tersangka Terkait Perkara Penyimpangan Tata Kelola MBG Dari Ruang Kelas SMPN 111 Jakarta, Cita-Cita Besar Menggema di Hadapan Presiden Prabowo

Warta Nusantara

BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim

badge-check


					BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim Perbesar

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meprediksi hujan lebat masih mengguyur sejumlah wilayah selama masa peralihan musim pada 3-9 April 2026.

Berdasarkan pemantauan, cuaca di Indonesia umumnya didominasi kondisi hujan ringan hingga hujan lebat sepeken ke depan. Wilayah yang perlu waspada antara lain Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Jakarta, Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Kemudian, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, dan Papua Selatan.

“Dengan mempertimbangkan dinamika atmosfer yang masih signifikan, BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi,” ungkap BMKG dalam keterangannya, Jumat (3/4/2026).

Selama peridoe itu, kondisi cuaca di Indonesia masih dipengaruhi dinamika atmosfer skala global, regional, dan lokal. Pengaruh Berbagai Fenomena Pada skala global, fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO) berada pada fase netral yang tidak berdampak terhadap aktivitas konvektif di Indonesia.

Sementara, nilai Dipole Mode Index (DMI) berada pada fase netral yang menunjukkan tidak adanya aliran udara signifikan dari Samudra Hindia timur Afrika ke Indonesia. Sehingga pengaruhnya terhadap distribusi curah hujan di dalam negeri masih terbatas.

Sedangkan pada skala regional, monsun Australia terpantau kian menguat dan diperkirakan akan begitu dalam beberapa hari ke depan.

“Kondisi ini mendorong peningkatan massa udara dari Australia menuju Indonesia yang umumnya bersifat lebih kering. Konsisten dengan hal tersebut, analisis angin zonal menunjukkan dominasi angin timuran di sebagian besar wilayah Indonesia, yang mengindikasikan bahwa sejumlah wilayah mulai mengalami masa peralihan menuju musim kemarau,” jelas BMKG.

Kendati demikian, fenomena madden julian oscillation (MJO) spasial diprediksi melintasi sebagian besar wilayah Sumatra serta sebagian Papua, sehingga berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di sana.

Gelombang rossby ekuatorial pun bakal aktif melintasi sebagian wilayah Sumatera dan Jawa. BMKG menyebut, sirkulasi siklonik berpotensi terbentuk di perairan barat Aceh serta Laut Banda.

“Sistem-sistem ini membentuk daerah konvergensi dan konfluensi yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut,” papar BMKG.

Labilitas atmosfer juga terpantau cukup kuat di Aceh, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Papua Selatan.

Adapun sebelumnya BMKG mencatat hujan ringan hingga sangat lebat pada 30 Maret hingga 2 April 2026. Curah hujan tertinggi dengan intensitas sangat lebat terpantau di Maluku (134,3 mm/hari), Sumatera Barat (86,6 mm/hari), Kalimantan Barat (58,3 mm/hari), Sumatera Utara (77,6 mm/hari), Sulawesi Selatan (76,0 mm/hari), Aceh (75,6 mm/hari), Gorontalo (60,5 mm/hari), dan Nusa Tenggara Barat (57,5 mm/hari).

Di sisi lain, berdasarkan pengamatan citra satelit BMKG pada periode yang sama juga terpantau adanya titik panas (hotspot) kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kalimantan Barat.

“Keberadaan titik panas tersebut terjadi karena sebaran hujan yang tidak merata di beberapa provinsi tersebut, sehingga pada wilayah yang minim sebaran awan hujan, curah hujan, maupun hari hujannya dapat memicu terjadinya titik panas,” ungkap BMKG.

Sebaran hujan tidak merata merupakan kondisi yang dapat terjadi selama peralihan musim.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

BMKG prakirakan potensi gelombang hingga 4 meter di perairan selatan

3 Juni 2026 - 06:25 WITA

BPS: Neraca dagang RI Januari-April 2026 surplus 5,64 miliar dolar AS

2 Juni 2026 - 05:58 WITA

Hari Lahir Pancasila, Presiden Prabowo Tegaskan Transformasi Menuju Ekonomi Pancasila yang Berkeadilan

1 Juni 2026 - 07:02 WITA

Tanah Ambles, Air Laut Naik, BRIN: Kawasan Pantura Jawa Semakin Terancam Tenggelam

31 Mei 2026 - 06:20 WITA

LAN: ASN harus jadi teladan etika digital berdasarkan Pancasila

30 Mei 2026 - 01:40 WITA

Trending di Warta Nusantara