Menu

Mode Gelap
Diva Raih Emas di Kejuaraan Lompat Galah Taiwan Pemerintah Percepat 104 Sekolah Rakyat, Jangkau 112 Ribu Anak Miskin Ekstrem Berburu Kuliner Tradisional Pasar Medang Candi Prambanan KRI Prabu Siliwangi Tiba di Tanah Air, Langkah Besar Perkuat Pertahanan Maritim Arab Saudi Perketat Kepulangan Jemaah Umrah, Overstay Bisa Kena Sanksi Eks Penyidik KPK Kritik Tajam Status Tahanan Rumah Yaqut

Warta TNI

KRI Prabu Siliwangi Tiba di Tanah Air, Langkah Besar Perkuat Pertahanan Maritim

badge-check


					KRI Prabu Siliwangi Tiba di Tanah Air, Langkah Besar Perkuat Pertahanan Maritim Perbesar

Setelah berlayar satu bulan lebih dari dermaga Base Navale Della Spezia, Italia, kapal perang terbaru TNI Angkatan Laut, KRI Prabu Siliwangi-321, akhirnya tiba di wilayah perairan Indonesia. Kehadirannya diyakini bakal signifikan untuk memperkuat postur pertahanan maritim nasional sekaligus memperkuat pertahanan negara.

KRI Prabu Siliwangi-321 tiba di Tanah Air pada Minggu (22/3/2026). Kapal yang berada di bawah komando Kolonel Laut (P) Kurniawan Koes Atmadja itu disambut di perairan Selat Sunda oleh KRI Bung Karno-369, kapal perang buatan dalam negeri.

Kapal buatan Italia jenis offshore patrol vessels (OPV) atau kapal patroli lepas pantai itu selanjutnya sandar di Dermaga Panjang, Lampung, di ujung selatan Pulau Sumatera.

”Kapal sandar untuk bekal ulang pelayaran dan persiapan acara penyambutan di Jakarta, tanggal 26 Maret 2026, yang nantinya akan memperkuat jajaran Komando Armada Republik Indonesia,” ujar Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama Tunggul, Senin (23/3/2026).

Kapal ini dilepas dari dermaga Base Navale Della Spezia, Italia, pada 11 Februari 2026. Untuk menuju ke Indonesia, kapal berlayar terlebih dahulu mengitari Benua Afrika. Kapal pun melakukan kunjungan pelabuhan di sejumlah negara, seperti Maroko (13 Februari 2026), Nigeria (24 Februari 2026), Afrika Selatan (4 Maret 2026), dan Mauritius (12 Maret 2026). Maka, tidak heran waktu pelayarannya mencapai sekitar 1,5 bulan.

Di setiap kunjungan, Kurniawan beserta sejumlah perwira bertemu pejabat militer setempat dalam rangka mempererat hubungan dan membuka peluang kerja sama militer yang lebih luas.

Mandi Khatulistiwa

Selain itu, pelayaran KRI Prabu Siliwangi-321 juga diwarnai pelaksanaan tradisi Mandi Khatulistiwa. Tradisi ini digelar di tengah pelayaran dari Lagos, Nigeria, menuju Cape Town, Afrika Selatan, 28 Februari lalu.

Dikutip dari siaran pers Dinas Penerangan TNI AL, tradisi ini untuk para prajurit yang pertama kali melintasi garis Khatulistiwa. Melalui prosesi simbolis tersebut, para prajurit dikukuhkan sebagai pelaut sejati setelah resmi ”menaklukkan” garis imajiner yang membelah bumi.

”Tradisi mandi khatulistiwa merupakan salah satu tradisi turun-temurun di TNI AL yang sarat makna dan menjadi bagian dari identitas serta kebanggaan prajurit Jalasena. Ritual di tengah Samudra Atlantik ini juga menjadi momentum penting untuk memperkuat jiwa korsa, menanamkan nilai-nilai kebaharian, serta membangun karakter prajurit yang tangguh dan profesional dalam menghadapi dinamika penugasan di laut,” demikian dikutip dari siaran pers

Uji alutsista

Sebelum berlayar, kapal yang namanya diambil dari sosok legendaris semasa Kerajaan Sunda itu, melaksanakan serangkaian uji kemampuan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan kesiapan tempur. Salah satunya, pada 27 Januari 2026, diuji penembakan perdana meriam 127 milimeter.

Penembakan meriam ini untuk memastikan kekuatan dan respons struktur kapal terhadap beban serta getaran akibat tembakan, sekaligus memverifikasi kesiapan sistem senjata dari aspek mekanis, elektrikal, dan keselamatan.

Lima hari sebelumnya, persisnya pada 22 Januari 2026, KRI Prabu Siliwangi juga mencoba penembakan pertama meriam Sovraponte 76 mm. Melalui penembakan ini, getaran, respons struktur, serta stabilitas platform senjata diamati secara menyeluruh guna menjamin keselamatan dan efektivitas operasional di masa mendatang.

Selain itu, sempat diuji pula peran sekoci di kapal guna menguji kesiapan sistem penurunan dan pengoperasian sekoci, sekaligus meningkatkan keterampilan awak kapal dalam mendukung keselamatan pelayaran dan kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat.

Langkah besar

Kurniawan Koes Atmadja saat memulai perjalanan KRI Prabu Siliwangi dari Italia mengatakan, kehadiran kapal tersebut di armada TNI AL menjadi langkah besar dalam penguatan postur pertahanan maritim nasional. ”KRI Prabu Siliwangi-321 hadir dengan kesiapan personel yang tangguh dan sistem persenjataan yang telah melalui serangkaian pengujian ketat,” ujarnya.

Kehadiran kapal perang terbaru ini selaras pula dengan pernyataan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana Muhammad Ali yang kerap menekankan bahwa modernisasi dan penambahan alutsista menjadi salah satu prioritas TNI AL dalam menghadapi berbagai tantangan guna menjaga kedaulatan di perairan Indonesia.

”Kita semakin tegas, arahan dari Bapak Presiden, kita harus mencegah penyelundupan-penyelundupan yang dapat membocorkan dan memberikan kerugian negara,” ujar Ali dalam Rapat Pimpinan TNI Angkatan Laut di Markas Besar TNI AL Cilangkap, Jakarta, Rabu (11/2/2026).

KRI Prabu Siliwangi merupakan satu dari dua kapal berjenis OPV atau kapal patroli lepas pantai yang dibeli Pemerintah RI melalui kontrak senilai 1,18 miliar euro (sekitar Rp 20 triliun) yang ditandatangani dengan perusahaan galangan kapal di Italia, Fincantieri, pada Maret 2024.

Satu kapal lainnya adalah KRI Brawijaya-320. Berbeda dengan KRI Prabu Siliwangi, kapal tersebut sudah lebih dulu tiba di Tanah Air pada 8 September 2025.

Untuk mempercepat pengiriman ke Indonesia, Fincantieri mengambil dua kapal yang sudah selesai dibangun untuk Angkatan Laut Italia, yakni unit kelima dan keenam. Kapal tersebut diluncurkan pada November 2022 dan diberi nama Marcantonio Colonna dan Ruggiero di Lauria.

Kapal ini memiliki panjang 143 meter, lebar 16,5 meter, draft 5,2 meter, kecepatan maksimum 32 knot yang ditenagai oleh kombinasi mesin diesel, listrik, dan gas turbin. Kapal tersebut dipersenjatai dengan SAM: 16 VL Sistem, SSM: 8 Teseo Mk-2E, meriam 127 mm, meriam 76 mm, dan torpedo. Kapal dirancang untuk patroli lepas pantai dan mengemban berbagai tugas pertempuran (multipurpose combat ship), antara lain pengawasan perbatasan, keamanan maritim, antipenyelundupan, pertempuran di garis depan, dan bantuan bencana.

Selanjutnya KRI Brawijaya-320 bergabung sebagai unsur Satuan Kapal Eskorta (Satkor) Komando Armada (Koarmada) II. Begitu pula, rencananya, KRI Prabu Siliwangi-321.

”Rencananya KRI Prabu Siliwangi-321 akan menempati di bawah Satuan Kapal Eskorta Koarmada II Surabaya,” ujar Tunggul.

Koarmada II membawahkan wilayah laut Indonesia bagian tengah dengan markas di Surabaya, Jawa Timur. Koarmada II membawahkan beberapa Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal), seperti Lantamal V (Surabaya), Lantamal VI (Makassar), Lantamal VII (Kupang), Lantamal VIII (Manado), dan Lantamal XIII (Tarakan).

Urgensi kehadiran kapal baru

Pengamat militer dari Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (Lesperssi) Beni Sukadis mengapresiasi pembelian kapal fregat Italia tersebut. Kehadirannya penting untuk menggantikan armada TNI AL yang telah tua atau sebagian besar berumur lebih dari 30 tahun. Selain itu, kehadiran kapal fregat penting untuk melindungi kepentingan nasional, terlebih di tengah ketegangan di Laut China Selatan.

Karenanya, setiap rencana pembelian untuk perlengkapan kapal fregat di kelasnya perlu dipikirkan secara lebih matang dan mempertimbangkan kontinuitas, termasuk sistem persenjataan dan amunisi atau dikenal Integrated Logistic Support (ILS).

“Terutama ketika warranty period alutsista terkait (fregat) yang dua tahun selesai, seharusnya Indonesia mengalokasikan anggaran untuk sistem persenjataan, munisi dan suku cadang secara utuh. Hal itu untuk menjamin kesiapan operasional bagi kapal-kapal fregat dalam menghadapi lingkungan strategis yang tidak menentu ini,” ujarnya.

Yang juga patut jadi atensi, aspek pemeliharaan dan perawatan. Saat ini, Indonesia memiliki kapal perang dari berbagai negara, seperti Jerman, Belanda, Inggris, dan belakangan, dari Italia. Dengan beragam sumber pemasok ini, otomatis membutuhkan supply chain suku cadang, sistem persenjataan, dan pelatihan tambahan bagi mekanik, yang juga beragam.

“Ini bisa jadi persoalan tersendiri. Dari aspek biaya akan cukup menimbulkan beban tambahan, walaupun bukan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan,” tambah Beni.

Saat ini, lanjutnya, kedua kapal fregat tersebut belum dilengkapi senjata rudal dan amunisi lengkap, sehingga pemerintah seharusnya segera mempersiapkannya. “Tanpa rudal dan munisi yang lengkap, kapal fregat ini tidak akan dianggap oleh musuh ataupun belum optimal untuk mengatasi ancaman yang akan datang,” ucapnya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Prajurit Satgas Yonif 732/Banau tunaikan tugas di perbatasan RI-PNG

21 Maret 2026 - 10:18 WITA

Prajurit TNI AD Harumkan Indonesia, Juara 1 MHQ Internasional Militer di Libya

15 Maret 2026 - 04:52 WITA

Menguatkan Harapan di Pedalaman Papua, Satgas 743/PSY Bawa Pelayanan Kesehatan Gratis Ke Kampung Ginnik

10 Maret 2026 - 03:44 WITA

Panglima TNI Pimpin Upacara Peringatan HUT ke-65 Kostrad

7 Maret 2026 - 06:24 WITA

Dukung Pemberdayaan Nelayan, Danlanal Yogyakarta Hadiri Kunker Ketua Komisi IV DPR-RI

2 Maret 2026 - 03:46 WITA

Trending di Warta TNI