Menu ✖

Mode Gelap
Taiwan Lumpuh Diterjang Topan Champi, Ribuan Warga Dievakuasi Kejati Kalsel Tahan Kepala BKSDA Kalsel Korupsi Rp5,62 miliar Kutuk Keras Peredaran Narkoba di NTB, DPD RI Ajak Semua Pihak Perkuat Perlawanan Pameran Nandur Srawung 2026 Hadirkan Kelas Penulisan Kritik Seni Rupa Plt. Dirjen Badilag Arahkan Aparatur Pengadilan Melayani dengan Empati BMKG: Keindahan Hunter’s Moon pada 26 Oktober 2026

Warta Internasional

Dampak Perang Timur Tengah, Sejumlah Negara Liburkan Kampus dan Sekolah hingga Batasi Pembelian BBM

badge-check


					Dampak Perang Timur Tengah, Sejumlah Negara Liburkan Kampus dan Sekolah hingga Batasi Pembelian BBM Perbesar

Beberapa negara mulai memberlakukan kebijakan pembatasan untuk mengatasi dampak kelangkaan energi buntut perang di Timur Tengah. Penutupan atau pembatasan akses terhadap Selat Hormuz berdampak pada pasokan bahan bakar dan gas di seluruh dunia.

Bangladesh menutup universitas serta memberlakukan penjatahan bahan bakar.

Pihak berwenang menutup universitas negeri dan swasta di seluruh negara itu dan mempercepat libur Idul Fitri sebagai langkah darurat untuk menghemat listrik dan bahan bakar.

Para pejabat mengatakan, kebijakan tersebut tidak hanya mengurangi konsumsi listrik tapi juga mengurangi kemacetan lalu lintas yang menyebabkan pemborosan bahan bakar.

Kampus-kampus mengonsumsi listrik dalam jumlah besar untuk asrama, ruang kelas, laboratorium, dan pendingin udara. Penerapan libur Idul Fitri lebih awal akan mengurangi tekanan atau beban listrik negara.

“Keputusan ini diambil untuk mengurangi konsumsi listrik dan bahan bakar dengan mempertimbangkan situasi global saat ini,” bunyi pernyataan Kementerian Pendidikan Bangladesh, seperti dikutip dari Al Jazeera, Senin (9/3/2026).

Sekolah negeri dan swasta telah diliburkan sejak awal Ramadan, yang berarti sebagian besar lembaga pendidikan di Bangladesh tutup.

Negara yang 95 persen kebutuhan bahan bakar dan energi bergantung dari impor itu telah membatasi pembelian bahan bakar akibat panic buying sejak Jumat pekan lalu.

Sebagai bagian dari langkah-langkah penghematan yang lebih luas, pemerintah juga meminta semua sekolah dengan kurikulum internasional serta bimbingan belajar swasta untuk menangguhkan operasional selama periode Ramadan guna membatasi penggunaan listrik.

Bersamaan dengan penutupan tersebut, pemerintah mengeluarkan pedoman yang mendorong lembaga dan kantor untuk menggunakan listrik secara lebih efisien, termasuk memaksimalkan cahaya matahari serta meminimalkan penerangan dan penggunaan daya yang tidak perlu.

Perang Timur Tengah telah berkembang menjadi konflik yang lebih luas, menghambat ekspor minyak dan gas, serta mendorong kenaikan biaya.

Kelangkaan gas yang parah telah memaksa Bangladesh untuk menghentikan operasi pada empat dari lima pabrik pupuk milik pemerintah, mengalihkan gas yang tersedia untuk pembangkit listrik untuk menghindari meluasnya pemadaman listrik.

Negara berpenduduk 170 juta jiwa itu membeli gas alam cair dari pasar spot dengan harga jauh lebih tinggi sambil mencari kargo tambahan untuk menutup kesenjangan pasokan.

“Kami melakukan segala yang kami bisa untuk mengurangi konsumsi dan memastikan stabilitas pasokan listrik, bahan bakar, dan impor,” kata seorang pejabat senior Kementerian Listrik, Energi, dan Sumber Daya Mineral.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Taiwan Lumpuh Diterjang Topan Champi, Ribuan Warga Dievakuasi

23 Oktober 2026 - 08:56 WITA

China Minta Politikus Filipina Tak Bikin Panas Hubungan Antar Negara

21 Oktober 2026 - 02:33 WITA

Singapura Layangkan Peringatan ke 7 Perusahaan Indonesia Terkait Kabut Asap

17 Oktober 2026 - 03:38 WITA

RI Dorong ACAFTA Buka Peluang Ekonomi bagi UMKM

15 Oktober 2026 - 06:45 WITA

PBB Desak Investigasi Serangan Terhadap Bandara Internasional Riyadh

13 Oktober 2026 - 04:33 WITA

Trending di Warta Internasional