Menu

Mode Gelap
MA Tolak PK Eks Dirut Garuda Emirsyah Satar di Kasus Pengadaan Pesawat China Bermitra dengan ASEAN Prioritaskan Perdamaian, Pembangunan Hagai Pakan: Tren Kebaya Mengarah ke Ladu Padan Busana Modern Polemik Tutup-Buka Penyeberangan Perintis di NTT Prajurit Batalyon Hanud 11 Pasgat Laksanakan Lintas Medan Tingkatkan Ketangkasan dan Jiwa Korsa BMKG Ungkap Daftar 17 Wilayah Indonesia Berpotensi Hujan Hari Ini

Serba Serbi

Ramadan di Rantau, Kisah Haru Tenaga Nusantara Sehat

badge-check


					Ramadan di Rantau, Kisah Haru Tenaga Nusantara Sehat Perbesar

Ramadan di tanah rantau menjadi perjalanan penuh makna bagi Nur Azizah, tenaga kesehatan yang pernah bertugas dalam program Nusantara Sehat di Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah dan Sigi, Sulawesi Tengah. Jauh dari keluarga di Kabupaten Bone, ia merasakan campur aduk emosi saat pertama kali menjalani puasa tanpa orang tua.

Nur Azizah mengawali penugasannya pada 2019 di Kotawaringin Timur, kemudian kembali bertugas pada 2022 di Kabupaten Sigi. Ia menuturkan, suasana Ramadan di daerah tugas terasa berbeda karena mayoritas masyarakat setempat nonmuslim.

“Rasanya campur aduk, karena jauh dari keluarga. Awalnya berat, tapi karena niat ibadah jadi tetap semangat,” ujarnya, Selasa (3/3/2026).

Menurutnya, meskipun berada di lingkungan dengan mayoritas nonmuslim, toleransi antarumat beragama sangat tinggi. Rekan kerja serta masyarakat tetap menghormati yang berpuasa.

“Teman-teman dan masyarakat sangat menghargai. Walau mayoritas nonmuslim, tetap saling menghormati dan menjaga suasana Ramadan,” katanya.

Tantangan terbesar datang dari kondisi geografis wilayah tugas yang cukup ekstrem. Untuk memberikan pelayanan kesehatan, ia bersama tim harus melewati sungai hingga berjalan kaki menuju daerah terpencil.

“Puskesmasnya jauh, kadang harus lewat sungai atau jalan kaki. Meski puasa, tetap semangat apalagi lihat warga antusias datang berobat,” ungkapnya.

Perbedaan paling terasa dibanding Ramadan di Bone adalah suasana kebersamaan keluarga. Ia mengaku rindu momen berbuka puasa bersama orang tua dan saudara.

“Biasanya buka puasa dengan keluarga, sekarang dengan teman-teman saja. Itu yang paling terasa,” ucapannya.

Menu khas kampung halaman pun sering terbayang saat azan Magrib berkumandang. Ia menyebut pisang ijo, barongko, dan cendol sebagai makanan yang dirindukan. “Di rantau hampir tidak pernah ditemukan, jadi harus buat sendiri kalau mau,” katanya sambil tersenyum.

Nur Azizah juga pernah merasakan Lebaran di tanah rantau saat pandemi Covid-19 meningkat, sehingga tenaga kesehatan tidak diizinkan keluar daerah. Ia mengobati rasa rindu dengan video call bersama keluarga. “Waktu itu tidak bisa pulang karena pembatasan. Jadi hanya video call, itu saja penguatnya,” tuturnya.

Kini, setelah menyelesaikan masa tugas Nusantara Sehat, Nur Azizah bekerja di RS Sandi Karsa Makassar bagian laboratorium sambil melanjutkan pendidikan. Ia menekankan pentingnya manajemen waktu dan menjaga niat ibadah selama Ramadan.

“Kuncinya manajemen waktu, niat ibadah, tetap baca Alquran. Rumah itu tetap tempat pulang, sejauh apa pun kita merantau,” pungkasnya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Hagai Pakan: Tren Kebaya Mengarah ke Ladu Padan Busana Modern

23 Juli 2026 - 01:54 WITA

Begini Keseruan Ratusan Siswa SD Main Permainan Tradisional

22 Juli 2026 - 07:43 WITA

JARR Milik Haji Isam Akui Beli CPO Sitaan Kejaksaan Agung

20 Juli 2026 - 06:27 WITA

Kurangi Ketergantungan Gawai, KKN Unhas Edukasi Siswa SD Permainan Tradisional di Bone

19 Juli 2026 - 06:10 WITA

Pembangunan Tahap II IKN Terus Berjalan, Otorita IKN Lakukan Evaluasi Berkala

17 Juli 2026 - 06:02 WITA

Trending di Serba Serbi