Menu

Mode Gelap
Presiden Prabowo Jadi Tamu Kehormatan Utama EEF ke-11 di Vladivostok Sherina Munaf Turun Tangan Bantu Padamkan Karhutla di Kalimantan Kisah Desa di Pekalongan yang Berdamai dengan Satwa Liar, Punya Aturan Larangan Berburu Lima Sila Pancasila Jadi Filosofi Pembangunan Gedung Mahkamah Agung di IKN Anggaran Kementerian di Kanwil Kemenag Kalteng dan Universitas Palangkaraya Terindikasi Dikorupsi Dari Tambling, Titiek Soeharto Dorong Kolaborasi Sains dan Alam untuk Konservasi Masa Depan

Warta Nusantara

Mega Proyek Perikanan, Guru Besar UGM Soroti Soal Transparansi dan Keterlibatan Masyarakat Pesisir  

badge-check


					Mega Proyek Perikanan, Guru Besar UGM Soroti Soal Transparansi dan Keterlibatan Masyarakat Pesisir   Perbesar

Pemerintah menyiapkan mega proyek senilai Rp 72 triliun untuk memperkuat sektor perikanan nasional. Program ini mencakup pembangunan 1.100 Kampung Nelayan Merah Putih, revitalisasi tambak pantai utara (pantura), serta modernisasi 1.000 kapal perikanan.

Paket ekonomi tersebut ditargetkan menyerap 568.000 tenaga kerja sekaligus memperkuat daya saing industri perikanan dan menekan kesenjangan kesejahteraan nelayan di berbagai daerah.

Menanggapi rencana tersebut, Guru Besar UGM bidang sosial ekonomi perikanan  Prof. Suadi, menilai mega proyek tersebut sangat ambisius dan berpotensi mengubah wajah perikanan Indonesia jika terlaksana dengan baik.

“Jika berjalan baik, proyek ini bisa menjadi lompatan struktural yang mengubah perikanan tradisional menjadi industri perikanan modern,” kata Suadi, Senin (29/9).

Suadi menyebutkan ada tantangan besar yang harus diantisipasi dalam menjalankan mega proyek ini. Menurutnya, revitalisasi tambak pantura, misalnya, harus mampu mengelola persoalan mendasar seperti kerusakan ekosistem pesisir, banjir rob, dan kepemilikan lahan.

Lalu, pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih pun tidak boleh sebatas fisik, tetapi juga harus menjamin ketersediaan fasilitas dasar seperti air bersih, listrik, sanitasi, akses jalan, dan cold storage.

“Infrastruktur ini penting untuk memperkuat sistem rantai dingin yang selama ini menjadi titik lemah bisnis perikanan,” ujarnya.

Suadi juga mengingatkan bahwa masalah kepemilikan tambak dan kapal kerap menimbulkan kesenjangan. Tanpa pola kolektif berbasis koperasi atau BUMDes, proyek besar ini berpotensi hanya menguntungkan pemilik modal. Ia mencontohkan program 1.000 kapal era Presiden SBY yang banyak mangkrak karena biaya operasional tinggi.

Selain tata kelola, keterlibatan masyarakat pesisir juga harus dipastikan. Menurutnya, koperasi perikanan harus diperkuat agar nelayan kecil bisa mengakses kapal, tambak, maupun pembiayaan usaha secara kolektif.

“Desain proyek top-down yang seragam berisiko tidak sesuai kebutuhan lokal. Padahal setiap kampung nelayan punya karakter sosial, budaya, dan geografis yang unik,” kata Suadi.

Tantangan lain adalah memastikan pasar dan logistik ikan. Sebab, produksi tinggi tanpa kepastian pasar justru bisa menjadi beban bagi nelayan. “Akses pasar dan distribusi logistik harus menjadi bagian integral dari program,” jelasnya.

Terkait dana jumbo Rp 72 triliun, Suadi menegaskan pentingnya mekanisme pengawasan yang transparan dan melibatkan publik. Ia bahkan mengusulkan adanya platform khusus seperti Kawal Perikanan agar masyarakat bisa ikut memantau lokasi proyek, penerima manfaat, dan progres pelaksanaan.

“Pengawasan harus kolaboratif, bukan sekadar reaktif. Keterlibatan publik, akademisi, hingga tokoh lokal akan memastikan program ini tidak menjadi ‘kotak hitam’ yang rawan penyalahgunaan,” ungkapnya.

Ia menekankan perlunya audit berlapis, baik dari internal KKP, BPK, maupun KPK, serta penegakan hukum yang tegas untuk mencegah praktik korupsi. Jika dilaksanakan dengan tata kelola yang baik, mega proyek Rp 72 triliun ini diharapkan tidak hanya memperluas lapangan kerja, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi pesisir.

“Investasi besar ini harus menyasar kesejahteraan nelayan kecil, perempuan nelayan, dan pembudidaya skala rumah tangga, bukan hanya korporasi besar,” pungkasnya.

Red~ IKN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Anggaran Kementerian di Kanwil Kemenag Kalteng dan Universitas Palangkaraya Terindikasi Dikorupsi

2 September 2026 - 04:33 WITA

Rangkuman Kunjungan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto 26,27-28 Agustus 2026

29 Agustus 2026 - 11:17 WITA

Presiden Prabowo: Bagaimana Kita Punya Ratusan Helikopter kalau Tak Ada Uang? Korupsi Harus Diperangi

26 Agustus 2026 - 06:00 WITA

Presiden Prabowo Susuri Lahan Terbakar di Kubu Raya, Pastikan Penanganan Karhutla Berjalan Optimal

22 Agustus 2026 - 11:45 WITA

Fatimah Az-Zahra Sosok Kartini Masa Kini

20 Agustus 2026 - 15:02 WITA

Trending di Warta Nusantara