Menu ✖

Mode Gelap
Presiden Prabowo Sambut Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang TNI AL Amankan Tugboat Pembawa Ribuan Kubik Kayu Log di Perairan Utara Pulau Buru Kisah Ibu-ibu Pemindang Ikan Kusamba, 28 Tahun Kerja Cuma Libur Nyepi-Galungan KPK Evaluasi Alasan Nusron Wahid Mangkir Sebelum Terbitkan Surat Perintah Membawa DPD RI Desak Menag Perkuat Pengawasan Anak Lindungi dari Kekerasan Seksual Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

Warta Utama

380 Ribu Ton Melayang, Produksi Beras RI Melemah, Panen Ikut Menyusut

badge-check


					380 Ribu Ton Melayang, Produksi Beras RI Melemah, Panen Ikut Menyusut Perbesar

Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi beras nasional sepanjang Januari-Mei 2026 mencapai 16,57 juta ton. Jumlah itu turun 380 ribu ton atau setara 2,22% jika dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan potensi penurunan itu terjadi seiring melemahnya produksi padi (gabah) akibat penurunan luas panen pada awal tahun.

“Dengan demikian produksi beras sepanjang Januari-Mei 2026 diperkirakan mencapai 16,57 juta ton, atau mengalami penurunan sebesar 2,38 juta ton atau menurun 2,22% jika dibandingkan periode yang sama tahun 2025,” kata Ateng dalam konferensi pers, Rabu (1/4/2026).

Secara rinci, BPS memperkirakan produksi padi (gabah kering giling/GKG) Januari-Mei 2026 mencapai 28,77 juta ton. Jumlah itu turun 2,22% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada Februari 2026, sebenarnya produksi padi meningkat menjadi 5,05 juta ton GKG atau naik 27,41% secara tahunan. Hanya saja tren ke depan diperkirakan melemah sehingga menjadi faktor utama yang menekan produksi beras pada periode Januari-Mei 2026.

“Potensi produksi padi pada Maret-Mei 2026 diperkirakan sebesar 20,68 juta ton GKG atau menurun 11,12% jika dibandingkan periode yang sama tahun 2025,” ungkap Ateng.

Penurunan produksi padi dan beras tidak terlepas dari dinamika luas panen padi. Potensi luas panen padi pada Januari-Mei 2026 diperkirakan mencapai 5,35 juta hektare (Ha) atau turun 2,35% secara tahunan.

“Tentunya angka potensi ini masih dapat berubah tergantung pada beberapa kondisi pertanaman sepanjang nanti pada Maret-Mei 2026. Contohnya ketika ada serangan hama atau organisme pengganggu tanaman, ketika nanti ada banjir, kekeringan, ketika misalnya waktu pelaksanaan panen oleh petani bergeser, maka ini tentunya akan mengalami perubahan potensi,” beber Ateng.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kisah Ibu-ibu Pemindang Ikan Kusamba, 28 Tahun Kerja Cuma Libur Nyepi-Galungan

19 Oktober 2026 - 02:57 WITA

Muhammad Saidil, Bocah 9 Tahun Kayuh Sepeda 12 Km Demi Bawa Ayah Berobat ke RSUD Sigli

16 Oktober 2026 - 02:50 WITA

Cerita ABK KM Maulana Dianiaya, Dipukul hingga Disiram Air Panas

11 Oktober 2026 - 04:57 WITA

Presiden Prabowo: Pemerintah Tidak Menyerah dalam Membela Kebenaran, Keadilan dan Kepentingan Rakyat

7 Oktober 2026 - 03:23 WITA

SD Negeri Purwosari Sleman Sulap 600 Galon Bekas Jadi Kebun Sayur

2 Oktober 2026 - 07:16 WITA

Trending di Warta Utama