Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan jumlah penduduk miskin di Indonesia pada September 2025 mencapai 23,36 juta atau turun sebesar 490 ribu orang dibandingkan Maret 2025. Jadi tingkat kemiskinan Indonesia pada September 2025 mencapai 8,25% atau turun 0,22 persen basis point dibandingkan Maret 2025.
“Sejak Maret 2023 hingga September 2025, jumlah dan tingkat kemiskinan terus turun,” ungkap Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (5/2/2026).

BPS mencatat kemiskinan di Indonesia masih terkonsentrasi di Pulau Jawa mencapai 12,32 juta penduduk atau 52,75% dari keseluruhan penduduk miskin di Indonesia. sementara jumlah penduduk miskin yang paling sedikit di Pulau Kalimantan sebesar 880 ribu orang atau sekitar 3,76%.
“Jika dibandingkan Maret 2025, penurunan tingkat kemiskinan yang paling dalam terjadi di Maluku dan Papua yang turun 0,86 persen basis poin,” terangnya.
Dalam menyusun tingkat kemiskinan di Indonesia BPS menggunakan data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang menggunakan pendekatan pengeluaran di level rumah tangga yang dilakukan secara individu maupun bersama-sama dalam satu rumah tangga.
“Dalam pencatatan Susenas pengeluaran individu membeli makanan Jadi dapat dilakukan oleh masing-masing anggota keluarga tetapi pengeluaran-pengeluaran lain seperti pengeluaran untuk beli beras, sewa rumah, listrik, bahan bakar menjadi pengeluaran bersama dalam rumah tangga,” terang Amalia.
Dari pendekatan tersebut, BPS menerjemahkan garis kemiskinan per kapita menjadi garis kemiskinan per rumah tangga dan pada September 2025 secara rata-rata satu rumah tangga miskin di Indonesia terdapat 4,76 anggota keluarga sehingga garis kemiskinan per rumah tangga miskin adalah Rp3.053.269 per rumah tangga.
****









