Sewaktu Jeff Bezos mengakuisisi Washington Post pada 2013, bos Amazon itu sesumbar bahwa surat kabar terkemuka di Amerika Serikat tersebut akan memasuki era keemasan.
Dua belas tahun kemudian pada 4 Februari 2026, Bezos malah memangkas pegawai Washington Post sampai 30 persen dari total pegawainya dengan memecat ratusan staf dan wartawan.

AS pun heboh, terutama karena reputasi istimewa Washington Post sebagai salah satu lembaga pers yang menguatkan pilar keempat demokrasi di AS.
Bezos pun dituding hendak membunuh salah satu media paling dihormati di dunia itu, karena ingin menyelamatkan lengan bisnisnya yang lain dan menjaga hubungan baik dengan Presiden Donald Trump.
Dengan kekayaan senilai 224 miliar dolar AS (Rp3.757 triliun) Bezos seharusnya tak harus merasa rugi-rugi amat telah kehilangan 100 juta dolar AS demi surat kabar bergengsi seperti Washington Post.
Tapi Bezos memang tak ingin terlihat buruk di mata Trump. Pada saat yang sama, Washington Post selalu kritis terhadap Trump sampai sering membuat sang presiden marah.
Bezos pikir kalau hal itu terus dibiarkan, maka rusaklah pendekatannya kepada Trump sehingga proyek-proyek bisnisnya yang lain, termasuk usaha antariksa Blue Origin yang mengandalkan kontrak dari negara, bisa gagal total.
Demi itu pula dua tahun lalu Bezos menghentikan kebiasaan Washingon Post membuat endorsement untuk salah satu calon presiden AS saat Pemilu 2024.
Tindakan Bezos itu membuat The Post kehilangan 250 ribu pelanggan berbayarnya.
Tapi Bezos punya alasan masuk akal untuk melakukan PHK besar-besaran, yakni karena merugi tiga tahun berturut-turut sejak 2023.
Tren merugi itu terjadi akibat dua hal, yakni (1) oleh turunnya jumlah pelanggan dan (2) oleh turunnya lalu lintas kunjungan (web traffic) ke laman Washington Post.
Seperti juga di Indonesia dan banyak tempat di dunia ini, bisnis Washington Post mengandalkan trafik web, khususnya yang bersumber dari pencarian atau search (organic search).
Ini tuntutan yang realistis dirangkul para pelaku bisnis media saat ini, karena 68 persen aktivitas internet diawali dari mesin pencari, dan 90 persen pencarian terjadi di Google. Tak heran, organic search selalu diasosiasikan dengan Google Search.
Menurut manajemen New York Times, trafik web dari organic search amblas sampai 50 persen, gara-gara AI atau Kecerdasan Buatan.
Penjelasannya adalah, peralihan ke AI ketimbang mendapatkan informasi dari search, membuat jumlah pengunjung laman Washington Post turun.
Akibatnya, kinerja laman Washington Post turun sehingga pengiklan tak tertarik memasang iklan, padahal iklan adalah penyambung hidup bisnis media.
Iklan pada dasarnya masuk jika lama akses pengguna web (time on site) dan jumlah halaman yang dibuka pengguna (pageview) di sebuah laman berita, tinggi. Jika kedua aspek ini rendah, maka pengiklan enggan mencantolkan iklannya pada laman itu.
Implikasi AI
Walau dituding membunuh Washington Post demi koneksi bisnis dengan Trump, manajemen koran yang terkenal karena membongkar skandal Watergate pada awal 1970-an itu tak terlalu salah kala menyebut AI biang keladi terpangkasnya trafik search ke laman mereka.
Ada beberapa studi yang menguatkan kesimpulan Washington Post itu, bahwa AI berpengaruh negatif terhadap peringkat web dan trafik laman berita.
Studi-studi itu umumnya menyatakan kebanyakan orang cenderung sudah puas oleh jawaban AI ketimbang mengklik tautan yang menjadi jawaban ketika orang itu melakukan pencarian di mesin pencari.
Seorang peneliti web bernama Gilad David Maayan, yang juga CEO dan Pendiri Agile SEO, membuktikan hal itu dengan meneliti tren penurunan trafik web di 23 laman setelah Google meluncurkan AI Overviews.
Menurut dia, sejak ada AI Overviews, sumber trafik dari organic search untuk ke-23 laman itu turun 18-64 persen.
Jadi, klaim Washington Post tentang dampak negatif AI terhadap bisnis mereka, terkuatkan oleh penelitian Maayan.
Lembaga prestisius seperti Reuters Institute milik kantor berita Reuters pun membuat penaksiran yang kurang lebih sama.
Berdasarkan survei terhadap 280 eksekutif media massa di 51 negara belum lama ini, Reuters Institute memperkirakan trafik ke laman-laman berita turun 40 persen dalam tiga tahun ke depan.
Peneliti-peneliti lain, seperti Anna Crowe yang pakar SEO, bahkan menyatakan AI menurunkan trafik web dari semua sumber trafik, entah itu organic search, langsung (direct), sosial, atau rujukan (referral).
Tapi sebenarnya, sejak AI mulai diadopsi secara luas dua tahun silam, sudah muncul kekhawatiran bahwa laman-laman berita bakal terdampak buruk.
Beberapa media massa sigap menyiasati kecenderungan itu. Mereka membuat inovasi yang acap dilakukan dengan juga memanfaatkan AI. Beberapa di antaranya sukses bersama inovasi itu, salah satunya New York Times.
New York Times bertransformasi menjadi media digital yang tak terlalu tergantung pada trafik, melainkan pada cara mereka memanfaatkan platform digital sebagai kendaraan untuk menarik pelanggan.
Mereka sukses membiakkan model bisnis media yang justru pada dasarnya pola lama, yakni subscription atau berlangganan.
Masalahnya, sistem subscription membutuhkan konten-konten eksklusif dan berkedalaman. Dan New York Times memiliki kemampuan dalam menghasilkan dua macam konten itu.
Konten-konten eksklusif dan berkedalaman serta diversifikasi produk itu pula yang membuat New York Times sehat secara finansial.
Buktinya, meminjam laporan Yahoo Finance, pada triwulan ketiga 2025, pendapatan New York Times dari pelanggan tumbuh 9,1 persen menjadi 494,6 juta dolar AS (Rp8,3 triliun). Ini melanjutkan tren yang sudah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
New York Times adalah contoh media yang menyiasati AI dengan kreatif ketika Washington Post terlambat membaca tren bahwa AI berakibat dua hal, yakni mempertajam kemampuan bisnis tapi juga bisa membunuh bisnis.
Masih ada cara lain dalam menyiasati ekosistem bisnis media yang berubah ini. Salah satunya dengan cara mengandalkan atau berumah di platform media sosial yang acap disebut “homeless media”. Media-media seperti folkative dan ussfeeds di Indonesia mengembangkan pola berkonten seperti ini.
Teknik ini bukan saja untuk menyiasati zaman tapi juga beradaptasi dengan karakteristik dan demografi pembaca masa kini, walau masih perlu didalami lagi apakah ini merupakan model bisnis yang tepat untuk kebanyakan media.
Namun dari Washington Post ada fakta bahwa bisnis media dan jurnalisme menghadapi tantangan yang kian berat dari AI, yang tak hanya mengubah paradigma berkonten, tetapi juga berbisnis berita, yang perlahan bergeser bukan lagi sekadar soal trafik web.
****









