Menu ✖

Mode Gelap
Presiden Prabowo Sambut Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang TNI AL Amankan Tugboat Pembawa Ribuan Kubik Kayu Log di Perairan Utara Pulau Buru Kisah Ibu-ibu Pemindang Ikan Kusamba, 28 Tahun Kerja Cuma Libur Nyepi-Galungan KPK Evaluasi Alasan Nusron Wahid Mangkir Sebelum Terbitkan Surat Perintah Membawa DPD RI Desak Menag Perkuat Pengawasan Anak Lindungi dari Kekerasan Seksual Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

Serba Serbi

Petani Disabilitas di Bulukumba Raup Puluhan Juta dari Selada Hidroponik

badge-check


					Petani Disabilitas di Bulukumba Raup Puluhan Juta dari Selada Hidroponik Perbesar

Program pertanian inklusif bagi penyandang disabilitas di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, mampu membawa petani ke dalam rantai pasok industri.

Melalui program PELITA (Pemberdayaan Lintas Abilitas), kelompok petani disabilitas di wilayah tersebut kini mampu menjadi pemasok tetap sayuran hidroponik untuk kafe, restoran, dan pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di sejumlah daerah Sulawesi Selatan.

Program yang diinisiasi Manava Foundation itu dijalankan di Dusun Bonto Bulaeng, Bulukumba.

Dalam beberapa bulan terakhir, kelompok petani binaan program tersebut berhasil membukukan pendapatan hingga lebih dari Rp 60 juta dari hasil panen selada hidroponik.

Program Manager PELITA Iqbal Naufal mengatakan, program tersebut dirancang untuk menjawab berbagai tantangan yang selama ini dihadapi penyandang disabilitas di sektor pertanian, mulai dari keterbatasan alat yang ramah disabilitas hingga akses pasar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2022, terdapat 305.217 penyandang disabilitas yang bekerja di sektor pertanian di Indonesia. Namun, sebagian besar masih menghadapi kendala berupa keterbatasan modal, pelatihan, dan kepastian pasar.

Melalui sistem hidroponik inklusif, proses budidaya dirancang lebih ringan dan fleksibel agar dapat disesuaikan dengan kondisi fisik masing-masing petani.

Program itu juga tidak hanya berfokus pada budidaya, tetapi mencakup pendampingan pascapanen, pengendalian kualitas produk, hingga akses pemasaran ke sektor hotel, restoran, dan kafe (HORECA).

“PELITA mengajak petani difabel mengubah kebiasaan yang sebelumnya bertani secara konvensional ke pertanian modern melalui sistem hidroponik,” ujar Iqbal dalam keterangannya, Jumat (22/5/2026).

Pada 2025, kelompok petani PELITA berhasil menanam 22.693 benih selada hidroponik dengan tingkat keberhasilan tumbuh mencapai 81 persen.

Program tersebut menghasilkan lebih dari 1.154 kilogram selada hidroponik. Pendapatan kelompok petani juga meningkat dari Rp 7,2 juta pada Juni menjadi Rp 54 juta pada November 2025.

Salah satu petani binaan program PELITA, Ihwan, mengaku kini telah memiliki penghasilan rutin dari hasil bertani hidroponik.

“Dulu saya belum punya penghasilan tetap sendiri. Sekarang Alhamdulillah saya sudah bisa mendapatkan penghasilan setiap bulan dari hasil bertani,” kata Ihwan.

Selain menjadi sumber ekonomi baru, greenhouse PELITA juga berkembang menjadi ruang pembelajaran pertanian inklusif.

Lokasi tersebut mulai menerima kunjungan mahasiswa, pelajar, dan masyarakat umum untuk mempelajari sistem hidroponik secara langsung. Produk hasil panen petani binaan juga telah dipamerkan dalam sejumlah kegiatan UMKM dan forum NGO di Jakarta.

Pada 2026, Manava Foundation berencana memperluas kapasitas produksi di Bulukumba serta memperkuat jaringan pemasaran ke sektor HORECA dan korporasi berbasis environmental, social, and governance (ESG).

Model pertanian inklusif itu juga akan direplikasi ke daerah lain di Indonesia.

CEO Manava Collective Marisa Thara Wardhani mengatakan, program tersebut menunjukkan bahwa dampak sosial dapat berjalan beriringan dengan peningkatan ekonomi masyarakat.

“Kami percaya model seperti ini tidak hanya menciptakan akses ekonomi bagi kelompok yang selama ini belum memiliki kesetaraan akses dan kesempatan, tetapi juga dapat membantu perusahaan membangun supply chain yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” ujar Marisa.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

18 Oktober 2026 - 04:51 WITA

Juri Pencak Silat Dunia Apresiasi Atlet Tapak Suci SMP Muhammadiyah 2 Kroya

16 Oktober 2026 - 02:19 WITA

Panen Perdana AMA di Liagu, Petambak Masih Evaluasi Hasil Budidaya

14 Oktober 2026 - 05:47 WITA

Harga Pangan Hari Ini 12 Oktober: Beras Naik, Cabai Melonjak

12 Oktober 2026 - 05:11 WITA

Ibu Kota Nusantara, Tuan Rumah Borneo Economic Forum 2027

10 Oktober 2026 - 04:58 WITA

Trending di Serba Serbi