Menu

Mode Gelap
Kemenlu RI Pastikan Koordinasi Intensif Pelindungan WNI di Timur Tengah Jalan Rusak dan Anak Putus Sekolah, Pengalaman Pahit Warga 2 Kampung di Polman Pemerintah perkuat peran generasi muda melalui Mangrove Goes To School Kejaksaan Negeri Merauke Dalami Aliran Dana Dugaan Korupsi BUMD ke Eks Bupati Boven Digoel Otorita IKN Perkuat Pelaku Usaha Lokal untuk Bangun Ekosistem Ekonomi Berkelanjutan Ko Erwin Bandar Narkoba Ditangkap Saat Hendak Kabur ke Malaysia

Warta Utama

Kisah Keluarga Miskin Tinggal dengan Sampah Dekat Lapangan Padel Mewah Purwokerto

badge-check


					Kisah Keluarga Miskin Tinggal dengan Sampah Dekat Lapangan Padel Mewah Purwokerto Perbesar

Sungguh ironis,  sebuah pemandangan kontras terlihat di jantung kota Banyumas, Purwokerto. Bagaimana tidak, tak jauh dari lapangan padel mewah, tinggal keluarga miskin di gubuk reot.

Ini adalah potret kesenjangan ekonomi yang nyata di tengah gaung kampanye pembangunan kawasan perkotaan.

Lalat, tawon, dan hewan melata kadal hilir mudik di antara tumpukan botol plastik yang hanya sejengkal dari tempat tidur.

Bahkan beberapa hari lalu sempat ada ular yang masuk ke area gubuk.

Di gubuk sempit tanpa kompor dan MCK itu, empat orang hidup berdesakan, mengandalkan hasil memulung untuk makan sehari-hari.

Dan hanya berjarak sekitar 50 meter dari gubuk itu terdapat lapangan padel yang ramai dikunjungi warga bermobil.

Di tempat sempit bercampur sampah itu, satu keluarga pemulung bertahan hidup dengan penghasilan sekitar Rp20 ribu per hari.

Di dalam gubuk tersebut tinggal empat orang, yakni Andai Iskandar (74), Edah (70), anak mereka Nia Purnamasari (42), serta seorang keponakan bernama Aura Nabila Putri (10).

Keseharian keluarga ini adalah memulung.

Untuk makan sehari-hari pun mereka kerap kesulitan.

Kondisi tempat tinggalnya memprihatinkan.

Tidak layak kalau disebut sebagai rumah, tapi gubug kotor dan kumuh yang bercampur dengan sampah plastik dan botol bekas.

Sampah-sampah hasil memulung itu jaraknya hanya sejengkal dari tempat tidur.

Pemandangan kontras terlihat jelas.

Gubuk orang miskin itu berdiri hanya beberapa meter dari lapangan padel, tempat aktivitas olahraga warga kalangan menengah ke atas.

Di dalam gubug, semua barang tercampur.

Mereka tidak memiliki kompor dan memasak menggunakan tungku kayu bakar.

Bahkan, keluarga ini tidak memiliki fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK).

Mereka hanya membuat bilik kecil untuk mandi.

Untuk buang air, mereka harus pergi ke sekolah dasar terdekat.

Keluarga ini diketahui bukan asli Banyumas.

Mereka merupakan perantau asal Tasikmalaya, Jawa Barat.

Logat yang mereka gunakan pun masih berbahasa Sunda.

Namun status Kartu Keluarga mereka sudah menjadi warga Banyumas, yakni di Jalan Gerilya Timur, RT 3 RW 10, Kelurahan Karangklesem, Kecamatan Purwokerto Selatan.

Mereka sudah tinggal di Purwokerto sekitar lima tahun.

Kesehariannya memulung dan mengemis.

“Saya juga habis ketabrak motor jadi tidak bisa jalan jauh.

Kalau bantuan ada kaya beras kadang sebulan kadang dua bulan sekali,” kata Nenek Edah, Selasa (17/2/2026).

Rumah yang mereka tempati sangat tidak layak huni karena bercampur dengan sampah.

“Kalau bantuan hunian layak gak ada, tapi kita menempati tanah orang, tanahnya milik pak dokter THT di PMI, kata dokternya gak papa, boleh selama sama nenek, boleh diperbaiki asal jangan permanen,” katanya.

Kondisi memprihatinkan juga dialami Kakek Iskandar yang sedang sakit dan hanya terbaring di ruangan sempit.

“Sudah sakit 2 tahunan karena ketbrak. Tapi gak ada yang tanggungjawab.

Kalau berobat gratis, sudah dua kali ke RS tapi ini belum cek lagi, karena uangnya buay ongkos belum ada.

Kalau pakai taxi online butuh Rp50 ribu,” katanya.

Gubug tersebut berada dekat salah satu pusat olahraga padel yang ramai pengunjung dari kalangan menengah ke atas.

“Saya tidak pernah masuk mencari rongsok ke area padel padel, disana sudah ada tukang sampahnya sendiri.

Rata-rata orang bawa mobil semua,” katanya.

Menurut keluarga itu, para pengunjung lapangan padel datang dengan mobil.

Aktivitas di lapangan tersebut ramai hingga malam hari, bahkan sampai tengah malam.

Lapangan padel itu baru berdiri beberapa bulan.

Sebelumnya, lokasi tersebut hanyalah lahan kosong yang sepi.

Sementara itu, Nia mengatakan gubug yang kini mereka tempati sebenarnya dulu merupakan warung.

“Saya tinggal bersama, dulunya jualan gorengan, ini dulunya warung gorengan, jadi malah habis buat beli dagangan gak pada balik modal.

Mamah nanti jualan opak juga di BJ (sebuah perbelanjaan),” katanya.

Nia menegaskan tanah tersebut bukan miliknya, hanya menumpang.

“Ini tanah bukan milik saya, saya hanya numpang, kalau pemerintah mau bongkar harus tanah sendiri,” katanya.

Nia bekerja sebagai pemulung rongsok.

Penghasilannya kadang hanya cukup untuk makan.

Ia biasa mengumpulkan rongsok di sekitar Andhang Pangrenan atau di area pusat perbelanjaan, lalu menjualnya ke pengepul.

“Harapannya adalah ada bantuan pengen punya hunian yang layak.

Mudah-mudahan ada rejeki aja,” katanya.

Ia mengaku merantau dari Tasikmalaya, namun kini sudah ber-KTP Purwokerto.

Sementara itu, keponakannya, Aura, saat ini bersekolah di SD 3 Purwokerto Kulon.

Sementara itu dari pihak Dinas Sosial Kabupaten Banyumas ikut menanggapi adanya kondisi warga yang memprihatinkan tersebut.

“Ini nanti sekitar pukul 10.00 WIB akan kita cek dengan tim karena sebelumnya sudah kita daftarkan ke panti tapi masih daftar tunggu,” ucap Sekdin Dinsos, Budi Suharyanto, Rabu (18/2/2026).

Di tengah geliat pembangunan dan gaya hidup baru, potret kemiskinan seperti ini seharusnya tidak luput dari perhatian pemerintah daerah.

Ternyata hanya berjarak puluhan meter dari lapangan padel yang ramai pengunjung, satu keluarga harus hidup di gubug tanpa kompor, tanpa MCK, dan bertahan dari hasil memulung yang tak seberapa.

Red~ IKN

Source: Tribunbanyumas.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Jalan Rusak dan Anak Putus Sekolah, Pengalaman Pahit Warga 2 Kampung di Polman

1 Maret 2026 - 09:55 WITA

Ko Erwin Bandar Narkoba Ditangkap Saat Hendak Kabur ke Malaysia

27 Februari 2026 - 11:35 WITA

Momen Bahagia Ketika Si Kembar Tunarungu Sukses Dapat Kerja

25 Februari 2026 - 13:05 WITA

KDM Puji Suster Ika Selamatkan 13 Korban TPPO Asal Jabar di Maumere

23 Februari 2026 - 08:58 WITA

Menghakimi Anak Berdampak Buruk pada Kesehatan Mental

21 Februari 2026 - 05:48 WITA

Trending di Warta Utama