Tingginya angka putus sekolah ternyata juga dipengaruhi infrastruktur wilayah khususnya kondisi jalan. Ini menjadi pengalaman dan fakta pahit yang harus ditelan warga sejumlah kampung di Dusun Lakkese dan Dusun Petakeang, Desa Lenggo, Kecamatan Bulo, Kabupaten Polewali Mandar (Polman) Sulawesi Barat.
Kondisi ruas jalan di dua dusun yang terpencil dan terisolasi yang berada di wilayah Polman rusak parah dan tak tersentuh oleh perhatian pemerintah selama puluhan tahun. Dampaknya sangat dirasakan warga, bukan hanya soal akses kesehatan, sosial, ekonomi dan pemerintahan tapi juga keberlangsungan pendidikan generasi muda di wilayah tersebut.

Anak-anak yang ada di Dusun Lakkese dan Dusun Petakeang, Desa Lenggo, Kecamatan Bulo semua terancam tidak sekolah dan bahkan beberapa orang diantaranya anak tersebut terpaksa putus sekolah atau kesulitan mengakses pendidikan. Kondisi ini menghambat transportasi, memaksa pelajar menempuh risiko tinggi, menenteng sepatu, atau berjalan jauh menembus lumpur, yang berujung pada tingginya angka putus sekolah.
Akibatnya, infrastruktur jalan yang rusak parah dan berlumpur, medan ekstrem serta ketiadaan fasilitas pendidikan yang layak menyebab serius guru berhenti mengajar sehingga pendidikan mereka terhenti.
Lanjut, Kepala Dusun Lakkese, Daeng Maloga, mengungkapkan saat ditemui oleh Ketua Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Pengawasan Reformasi Indonesia ( DPD-LPRI) Sulbar Puang Laupa Barunda, S.E. bersama wartawan media fakta, sekolah dasar di daerah tersebut telah dibangun pada tahun 2009 dan sempat digunakan pada tahun 2010. Namun, karena akses jalan yang sulit, guru-guru berhenti mengajar hingga menyebabkan anak-anak kehilangan harapan belajar.
”Anak kami sempat belajar di sekolah tingkat dasar hingga mereka mulai mengenal belajar membaca dan menulis di sekolah dasar, tapi hanya beberapa bulan saja proses belajar mengajar berlangsung di sekolah sebab kondisi guru berhenti mengajar setelah beberapa bulan karena akses jalan yang rusak parah dan ekstrem tidak hanya menghambat aktivitas ekonomi, tetapi juga membahayakan keselamatan pelajar yang menuju sekolah, ” ungkap Daeng Maloga, Jumat, 27 Februari 2026.
Lebih lanjut Daeng Kaloga mengatakan ini merupakan tantangan riil dalam pemerataan pendidikan di Sulawesi Barat, terutama di wilayah terpencil di Kabupaten Polman. Situasi ini sering memaksa proses belajar mengajar terhenti karena keselamatan dan mobilitas guru dan siswa terancam.
”Banyak anak-anak di daerah Dusung kami yang tidak bisa membaca dan menulis karena tidak bersekolah. Orang tua juga terhalang untuk mengantar anak ke sekolah karena akses jalan yang rusak parah dan sulit dilalui kendaraan motor apa lagi musim hujan,” keluhnya.
Selain itu, anak sekolah di Desa perbatasan Kabupaten Polewali Mandar dan Kabupaten Mamasa berjalan kaki menempuh jarak sekitar 28 KM dari rumah ke sekolah.
Hal tersebut sangat disayangkan dan memprihatinkan dalam dunia pendidikan dan ini bukan hanya sekadar kehilangan tenaga pendidik, tetapi memiliki dampak jangka panjang bagi kualitas pendidikan dan nasib siswa.
Selanjutnya Ketua RT Dusun Lakkese, bersama warga setempat dari dia dusun tersebut berharap agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Polman dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulbar segera bekerja sama memperbaiki jalan dan membangun sekolah yang layak di Dusun Lakkese dan Dusun Petakeang karena ini adalah keluhan masyarakat yang merupakan aspirasi yang mendesak,” ucapnya dengan tegas.
Ini merupakan bagian dari upaya pemerataan pembangunan dan peningkatan kualitas hidup. Infrastruktur yang memadai, terutama jalan, sangat penting untuk akses ke fasilitas pendidikan dan juga mobilitas warga mengangkut hasil panen kebun yg ada di dua Dusun di Perbatasan Kabupaten Polewali Mandar.
****









